Rabu, 09 Desember 2015

"Waktunya Memahami CInta"




"Harapan, adalah setitik tanda dari keinginan terbesar manusia di dunia ini, namun semua terkadang tidak sesuai yang di inginkan, mungkin karena gagal dalam menyerah, atau kah, terhenti karena jalan yang tengah tertutup kelam dalam pekatnya kabut yang menghadang.
sadar tetap tersadar, akan tetapi pertanyaan begitu berjibaku dalam semua impian yang tersendat tak teruraikan dalam nyata, dan bergulat dalam dongeng sebelum tidur..."

polemik kehidupan niscaya akan selalu berbeda dalam setiap insan di dunia ini, dikala memiliki segalanya, namun kebahagiaan cinta dan kasih sayang tak kunjung jua di menangkan, ketiika memiliki cinta, namun ketiadaan diri mengukir kekalahan ketika nyanyian merdu oleh kasih sayang menjadi sumbang dan hambar, bagai pohon sakura yang berguguran hingga daun nya mengering dan tak tumbuh lagi.

dahsyat nya cinta, mampu mengubah segala pandangan menjadi terbalik, bahkan berubah menjadi suatu keburukun sekalipun.kita tidak tau, kapan pada akhirnya cinta itu datang untuk membahagiakan rangkaian hidup, sedangkan yang kita tahu, cinta tidak selamanya menyenangkan..

menerima kekalahan, ataukah memenangkan suatu cerita tanpa tinggi hati? keduanya pun tak mampu di benarkan, karena setiap manusia berhak mendapatkan keadilan, termasuk dari rasa kasih dan sayang kepada siapapun yang di inginkan nya, ada yang mengerti, adapula yang tidak.

ada yang jujur, ada pula yang berbohong.
ada yang setia, ada pula yang berkhianat
ada yang benar-benar, ada pula yang berpura-pura.
hal yang berat untuk di terima dengan akal, akan tetapi ini sudah menjadi sebagian dari pelengkap mengartikan cinta yang sebenarnya.
sumber kehidupan berada dari harta, sumber nyawa berada dari sebuah kasih sayang. rasio menjadi taruhan dalam berkehendak untuk melakukan salah satunya, tidak ada yang salah, karena yang salah hanyalah semata-mata terlalu yakin kepada impian yang terbangun karena sebuah keindahan.

teracuhkan, dan di hancurkan telah menjadi sebuah komite yang menyatu dalam sebuah resiko memahami arti cinta.
terkadang kemarahan adalah cara terbaik, untuk mengungkap kegundahan, terkadang pula menjadi badik yang tak mampu di benarkan.
terkadang keterbukaan adalah cara terampuh dalam menyatukan perasaan yang berbeda, seperti awan dan langit, tak mampu bersatu namun tetap bersama...

jalan salah satunya adalah "Menerima" mungkin ini yang terbaik, karena ketika usaha telah terlaksana, maka selanjutnya adalah "menerima" semua hasil dari yang telah di lakukan, uang tak bisa membeli kemenangan yang sebenarnya, tetapi sebuah pembuktian lah yang mampu memenangkan sebuah alur dalam kasih, meski harus pedih, resiko tetap saja resiko, yang harus di tanggung oleh diri sendiri, dalam mematuhi segalanya yang terjadi di dalam sebuah percintaan di bumi ini...

Thanks For reading...

Original written by:

Aghana V Idents

Minggu, 06 Desember 2015

Cinta Tidaklah Salah...





Definisi tentang Cinta tentu begitu beragam di dalam pemikiran setiap manusia.
namun sebagaimana yang telah kita ketahui, Cinta adalah sesuatu hal yang begitu indah meski terkadang menuai luka pada akhirnya.
Sudah berapa kali kah kita tengah merasakan kekecewaan yang di sebabkan oleh Cinta?
siapakah yang patut di salahkan dalam hal ini?
dia yang telah menyakitimu? ataukah dirimu sendiri yang telah salah dalam memilih?
Mari kita temukan jawaban itu bersama-sama.

Kesetiaan
"Kesetiaan adalah sesuatu hal terpenting di dalam percintaan
tanpa harus di pinta dan di janjikan, karena jika kasih sayang itu murni adanya
maka kesetiaan merupakan salah satu kunci terpenting bagi pemilik kesadaran yang selalu menghargai"
Menantikan keajaiban datang untuk mengubah seseorang yang tidak mampu "setia" kepadamu, Ibarat memungut duri di tengah hutan belantara, bukan hal yang mustahil namun harus berapa banyak waktu yang kau buang karenanya? Ini adalah kehidupan nyata, bukan drama ber-episode panjang yang penuh intrik dan berakhir kebahagiaan, pada kenyataannya, kebahagiaan itu bukanlah sesuatu hal untuk di tunggu, melainkan harus kau cari sendiri tanpa menunda hal yang sia-sia dan menutupi jalan kebahagiaan yang seharusnya telah kau gapai lebih cepat.
"Kenapa pasangan kita tidak setia?"
Penyebabnya mungkin karena dua faktor, Pertama hanya menjadikan kita sebagai pijakan sementara dan kedua, karena kesalahan diri sendiri yang tanpa di sadari.
"Kesalahan diri sendiri seperti apa yang menyebabkan pasangan kita tidak setia?"
Salah satu kesalahan kita sebagai manusia yang seringkali tidak di sadari adalah, keegoisan yang begitu tinggi untuk di redam dan terkadang sikap terlalu dingin adalah penyebabnya, maka jalan yang terbaik adalah mengakhirinya, kemudian berintropeksi diri untuk memantaskan diri sebelum kisah baru hadir kedalam kehidupan kita, tentu agar kejadian yang sama tidak lagi terulang.

Saling Memperjuangkan
"Cinta membutuhkan dua hati untuk di persatukan untuk saling berbagi kasih sayang dalam satu garis perasaan yang sama dan berjuang bersama-sama, bukan menjadikan kita sebagai budak untuk berjuang sendiri memberikan kebahagiaan, Kita artinya lebih dari satu orang, apakah pantas cinta itu berjuang sendirian demi sesuatu hal yang tidak menjamin kebahagiaan kepada kita?"
Berjuang dan memperjuangkan merupakan modal awal dari pembuktian tentang cinta, jika hanya berjuang tanpa di perjuangkan, sama seperti layaknya kita bekerja tanpa di bayar sedangkan kita membutuhkan uang untuk makan, bukan berarti harus saling menghitung apa yang telah di berikan, melainkan sejauh mana hubungan itu tumbuh menjadi lebih baik.
"Perjuangan apa yang pantas kita berikan?"
Bersama-sama menghadapi masalah dan mencarikan solusi terbaik merupakan hal yang mainstream namun sangat penting, hal ini terdengar biasa bukan? akan tetapi mampu menentukan masa depan hubungan itu sendiri. 
"Bagaimana jika kita hanya berjuang sendiri, tetapi tidak sanggup meninggalkannya karena cinta?"
Hidup merupakan suatu pilihan, maka pilihlah yang menurut kita sanggup untuk menjalaninya, jangan lupa tentang konsekuensi yang akan kita terima kelak bahwasannya berjuang sendirian itu akan menimbulkan kekecewaan dan pesakitan yang begitu hebat pada akhirnya.

Bertindak Adil


"Kita hanyalah manusia biasa, yang ingin merasakan kasih sayang ketika kita telah memberikannya, perhatian kecil dan tawa di pagi hari adalah nada yang syahdu untuk mengobati kegusaran, andai saja kita tercipta sebagai robot yang di perbudak tanpa terawat, sudah pasti banyak komponen yang akan cepat rusak, ketahuilah kita hanya segumpal darah dan daging, memiliki perasaan dan hati, tidak selamanya kita mampu tegak berdiri, terkadang kita membutuhkan keadilan dalam saling mengasihi satu sama lain"
Saling memberikan perhatian, saling memberikan kepercayaan dan saling menjaga perasaan satu sama lain, adalah hal yang wajar di dalam suatu hubungan, namun tidak sedikit yang MERASA telah mampu melaksanakannya, terkadang tingkat "Ego" yang tinggi seakan-akan telah memberikan segalanya dan menimbulkan permasalahan di lain waktu, karena merasa telah "Benar" bersikap adil dalam memberikan kasih sayang, meski "kebenaran" bukan hanya di tentukan oleh satu pihak semata.
"Apakah maksud dari bertindak adil di dalam percintaan itu?"
Cinta tidak harus terbukti oleh kata-kata, cinta juga tidak harus terlihat dengan bersikap, dan lagi-lagi cinta tidak memerlukan sanjungan maupun perhatian, meski kita mengetahui manusia tidaklah "Sedingin" itu, kita bukanlah sebuah mesin yang terbuat karena otoriter, melainkan memiliki hati dan perasaan yang tentunya membutuhkan "Saling berbagi" jika memang memiliki perasaan yang sama.
"Bagaimana caranya agar pasangan mampu mengerti perasaan kita?"
Ungkapkan dengan tenang dan perlahan, jangan lupa lampirkan kesabaran di dalamnya karena sebuah proses perubahan diri tidaklah secepat kita mengedipkan mata,
Hingga sampai kepada hati yang telah mulai lelah, maka keputusan itu akan muncul dengan sendirinya, tidaklah penting mengungkapkan alasan kepada yang tidak ingin memahami, karena yang terpenting adalah merawat "Hati" kita agar tidak timbul rasa ingin membalas.

***
3 hal diatas mungkin sudah tidak asing bagi kita yang telah mengarungi perjalanan dalam kisah cinta yang berbeda-beda, seringkali terucap kata kebencian dan umpatan terlontarkan begitu saja ketika pasangan kita lebih memilih untuk mengakhiri sebuah hubungan, andai kita meneliti lebih jauh, tentu saja pasangan kita memiliki alasan tersendiri yang mungkin saja semua itu karena sikap kita yang tidak ingin mengerti selain hanya ingin di mengerti semata.
Kejujuran merupakan sesuatu hal yang sering kita tuntut kepada pasangan kita, tetapi tidak sedikit kita seringkali berbohong, walaupun bagi kita itu adalah hal yang "Biasa" percayalah, bagi pasangan kita belum tentu menjad hal yang harus di "Maklumi" secara terus menerus, cinta bukanlah memperlakukan seseorang seperti budak, melainkan cinta adalah sesuatu hal yang keterkaitan satu sama lain, layaknya kanvas dan pena untuk melukiskan sebuah keindahan bersama-sama.
Ketika kita berani menuntut sebuah kesempurnaan, maka kita pun harus siap untuk di "Tagih" oleh pasangan kita suatu saat nanti, bagaima pun juga cinta adalah pembelajaran, apabila kita hanya bisa menuntut tanpa bisa "Mengkaji" diri, maka sudah pasti keegoisan akan menjamin kehancuran di akhir cerita.
Dengan keterbukaan satu sama lain, kita dapat melatih bagaimana caranya memahami perasaan dari pasangan kita, tidak selamanya berdiam diri itu baik, terkadang kita harus berani mengemukakan suatu masalah atau kekecewaan kemudian memperbaiki semua itu secara bersama-sama, hingga dapat terangkainya satu jalinan kasih yang semakin kuat tanpa harus saling menjatuhkan.. 
"Jangan pernah menyalahkan cinta yang telah hadir dalam hidup, apabila mematahkan kembali hatimu untuk kesekian kali
terkadang semua itu harus terjadi untuk membatasi kesalahan yang selalu terulang, hingga alam telah meminta kepadamu
agar bergegas menyadari sebelum hatimu jauh lebih terluka dari sebelumnya..."



Tabik.



Original Written By:
Aghana V Idents

Rabu, 02 Desember 2015

Cerpen LDR: Long Destruction Relationship (Based On The true Stor)




"jangan pernah menumbuhkan sebuah kepercayaan kepada orang lain, bila pada akhirnya semua itu hanyalah karangan yang dirangkai sebegitu hebatnya. akan tetapi begitu mudah untuk menghancurkannya. kita tidak akan mengetahui seberapa dalam seseorang menyimpan sebuah kekecewaan meski dianggap hanya seukuran lubang jarum besarnya sebuah kesalahan yang telah di perbuat. ingatlah, sebesar apapun luka itu, mengembalikannya agar nampak utuh kembali, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk di lakukan"

Sebut saja nama ku Ryan, kejadian yang tidak dapat aku lupakan itu berawal sejak 2 Tahun yang lalu, dengan tidak sengaja saat aku membuka facebook, seorang wanita yang cukup cantik meminta pertemanan kepada akun Facebook ku. Ia bernama Lena, terpaut 1 tahun lebih muda dariku. setelah aku konfirmasi akun Facebooknya, Lena tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku, meski akun nya tampak berwarna hijau menyala di dalam chat list yang menandakan Ia tengah online.

Sekitar 2 hari setelahnya, saat update status yang mengungkapkan tentang patah hati, terlihat di dalam notif,

akun yang bernama Lena Ser******a telah mengomentari status yang aku buat. bukaan sapaan manis yang aku dapat, dengan ketusnya Ia berkata.

"Jadi cowok jangan cengeng, single aja lemah, gimana nanti kalau rumah tangga"

Jelas aku tersinggung karenanya, tanpa membalas komentar, aku langsung menghapus status update tersebut. tidak puas telah memberikan komentar pedasnya, lantas Lena pun mengirimkan sebuah pesan pribadi kepdaku, Dan dengan tidak lebih lembut dari sebelumnya, Ia mengatakan kepadaku.

"Kenapa boy status tadi di hapus? malu ya?" Karena merasa kesal, kemudian aku pun membalas pesannya. "Bukan urusan mu, urus saja dirimu sendiri" "Oh gitu ya, maaf deh bukan maksud untuk menyinggung, tapi gue emang geli liat cowok cengeng, apalagi yang sok-sok an menderita, mau cewek atau cowok pasti muak deh gue" Balasnya padaku. "Kamu siapa sih? tau darimana Facebook aku?" "Tenang, gue cuman iseng aja kok, eh udah dulu ya, gue mau off, bye bye penggalau" Ledek Lena

"Entah mimpi apa aku semalam, baru kali ini aku bertemu seorang wanita seperti dia, Aneh!" Kataku dalam hati Seminggu berlalu, tidak sengaja aku melihat update status dari Lena yang terpampang di beranda. Sedikit lupa yang Ia tuliskan, pada intinya Ia mengungkapkan kekecewaan kepada seseorang, sedikit kasar memang, kata-kata terakhir

di statusnya Ia menuliskan.

"Mati saja sekalian lu!"

Sontak saja aku tertawa setelah membaca statusnya, pikirku mungkin saatnya kini aku membalas ucapannya yang terdahulu, membuka kolom komentar di statusnya, kemudian aku langsung menuliskan "Ingat loh, mendoakan orang lain, berarti mendoakan diri sendiri juga" . klik "Send". Selang beberapa menit, Ia membalas komentar dariku, sialnya Ia hanya membalas dengan sebuah emoticon tertawa saja. Gondok bukan kepalang, tadinya aku kira Lena akan tersinggung atau marah, nyatanya Ia hanya membalasku dengan santai.

Ketika akan log out dari akun Facebook ku, suara chat pun berbunyi, dengan segera aku membukanya, ternyata Lena mengirimkan sebuah pesan pribadi kepadaku. Berbeda dari sebelumnya, Ucapannya saat ini tidak seketus seperti awal-awal Ia berbicara padaku, Lena meminta maaf atas perkataannya yang dahulu sempat membuatku tersinggung. Aku pun memaafkannya, karena aku rasa percuma memperpanjang masalah dengan seseorang yang baru saja aku kenal di dunia maya.

Hari demi hari, aku semakin dekat dengannya, kami sering bertegur sapa, entah itu lewat sebuah komentar atau saling mengirimkan sebuah pesan pribadi. Satu waktu Lena mengungkapkan sesuatu yang cukup membuatku sedikit terkejut, Ia berkata bahwa dirinya merasa nyaman berbincang bersamaku, jujur saja, aku pikir ini sebuah pertanda darinya, agar aku mengajaknya bertemu dan supaya kami bisa lebih saling mengenal. Tanpa pikir panjang, aku langsung bertanya tempat tinggalnya berada. Lemas rasanya, saat Ia mengatakan bahwa tempat tinggalnya berbeda pulau denganku. timbul seketika rasa malas untuk mendekatinya kembali.

Sebulan sudah kami saling mengenal, Lena berhasil meluluhkan jarak yang memang terpaut sangat jauh. Ia mungkin adalah wanita yang sangat baik meskipun ucapannya seringkali seenak hatinya. Tetapi Ia selalu memastikan ku bahwa jauhnya sebuah jarak, bukanlah suatu pembatas bagi sebuah insan untuk di persatukan, apabila mampu untuk saling memperjuangkan satu sama lain. Sedikit merasa Dilemma antara yakin dan tidak, akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan cinta kepadanya, meski terdengar konyol karena kami belum pernah saling berjumpa satu sama lain, Why not? lagi pula aku masih single, maka tidak ada salahnya untuk mencoba.

Dua minggu sudah kami berhubungan sebagai pasangan kekasih, Aku sering menghubunginya di malam hari, terkadang juga kami berbincang hingga dini hari. "Tidak buruk juga, LDR itu, cukup mengasyikan, ada teman sepi untuk di ajak berbincang" Pikirku saat itu. atas saran dari seorang teman, aku mulai menguji ketulusan Lena dalam mecintaiku, tepatnya pada hari sabtu malam, aku mengatakan kepadanya bahwa aku bukanlah anak dari keluarga baik-baik, Ayah dan Ibuku bercerai, setelah Ayah menikah lagi, tak lama kemudian Ibu pun pergi meninggalkan ku seorang diri, dan aku jujur kepadanya bahwa selama ini aku tengah tinggal di rumah pamanku, sedari beberapa tahun yang lalu. Dengan tenang Lena berkata.

"Aku tidak peduli seberapa buruk latar belakang dari keluargamu, karena yang aku mau, kamu pun bisa dengan tulus menerima keadaan ku yang memang apa adanya sepertimu"

Tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan dari Lena tersebut, hanya terkagum penuh harap di dalam hati. Tak terasa telah berjalan sekitar 2 bulan, aku menjanjikan sesuatu kepada Lena, sekitar 4 bulan lagi aku akan menemuinya dan akan berkerja di kota yang sama dengannya. Lena begitu bahagia mendengar kabar itu, beberapa kali Ia mengatakan "Aku siap menantikan kedatanganmu".

***

Sudah dua minggu lebih aku di terima bekerja di sebuah perusahaan yang cukup mumpuni, seiring kesibukanku yang kiat meningkat mengejar dead line, Aku dan Lena menjadi jarang untuk saling berkomunikasi, namun Lena tidak pernah begitu mempermasalahkan hal ini, Ia selalu mengerti dengan keadaanku saat ini. Suatu hari ketika aku sedang makan di sebuah kantin, tidak sengaja aku bertemu dengan teman lamaku semasa SMP, Ia yang bernama Rima, nampak sangat berbeda dan jauh lebih cantik ketimbang saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Kami saat itu berbincang cukup lama, Rima meminta nomor ponselku dan aku pun langsung memberikan kepadanya, karena waktu istrahat telah habis, aku berpamitan kepadanya dan lekas kembali ke kantorku. Di sela kesibukanku bekerja, Lena selalu mengingatkanku untuk makan ataupun beristirahat sejenak, meskipun smsnya jarang aku balas, tetapi Ia tidak pernah marah kepadaku, sungguh baik hatinya dan mungkin saja kasih sayangnya belum ada yang menandingi di dalam kehidupanku. Tidak ada satupun yang tau isi hati manusia, semakin lama aku dekat dengan Rima, tumbuh setetes demi setetes cinta yang tidak seharusnya ada untuk wanita yang lain.

Bagai menopang ombak setinggi langit, perasaanku kepada Rima tidak dapat lagi aku pungkiri, disinilah aku mulai membohongi dua orang wanita yang seharusnya aku sayangi tanpa adanya sebuah pengkhianatan. Setiap malam harinya, aku berlaku seperti biasa kepada Lena, bahkan aku selalu menghubunginya VIA ponsel. Rasanya ingin

sekali mengakhiri hubunganku bersamanya, karena rasa bersalah yang tidak bisa aku hindari secara terus menerus. Saat aku mulai memberanikan diri untuk berkata "putus" kepadanya, Tiba-tiba saja Ia berkata.

"Demi Tuhan, aku sudah sayang sama kamu, aku ingin sekali kamu menjadi yang terakhir, dan menjadi pedampingku selamanya, apakah kamu pun berharap begitu? jikalau kelak takdir mempertemukan kita berdua?" Ucap Lena yang seketika membuatku terdiam beberapa saat.

"Kenapa kamu bisa begitu yakin kepadaku? apakah kamu yakin aku pantas untuk mu?" Kataku

"Entahlah aku bingung dengan semua ini, jika aku berkata "Kita belum pernah berjumpa secara langsung" tetapi perasaan dari dalam hati tidak bisa aku bohongi! jujur, aku sudah capek untuk jatuh cinta lagi, kehidupanku sama seperti mu, maka apapun kekurangan kamu pasti akan aku terima! walaupun aku harus hidup susah, tidaklah mengapa, yang terpenting bagiku, kamu serius menjalani semuanya bersamaku" Balasnya padaku

Keberanianku kembali menciut, layaknya obor yang tersiram oleh air, hatiku semakin tak kuat untuk menyakitinya, ucapan yang baru saja Lena katakan, begitu menggampar keras dengan telak di wajahku."Bagaimana bisa aku meninggalkannya? sedangkan Rima bagaimana? Ia juga pacarku saat ini" ucapku dalam hati usai menghubungi Lena. Entah setan apa yang berada dalam jiwaku, perasaanku berputar 180 drajat kepada Lena, aku terus memikirkan sebuah cara agar Ia tidak mencintai dan tidak lagi berharap dengan kedatanganku. Demi Rima, wanita lain yang aku cintai.

Ide paling bodohpun akhirnya harus aku lakukan, aku berpura-pura mengakui kepada Lena, bahwa aku memiliki penyakit kanker dan jantung yang tentunya bisa kapan saja merenggut nyawa Sang pemiliknya. Waktu itu aku sengaja 2 hari tidak pernah membalas pesan singkat darinya, hingga pada saat aku akan pergi kencan bersama Rima, Lena menguhubungi ku beberapa kali namun tidak aku angkat, lalu aku berpura-pura menjadi orang lain, bisa di katakan aku menyamar menjadi temanku dan mengirimkan sms kepadanya yang mengatakan.

"Maaf saya temanny Ryan, ponselnya di titipkan kepada saya, karena Dia sedang di rawat di rumah sakit" Langsung saja aku kirim sms tersebut "Di rumah sakit? memangnya Ryan sakit apa tolong ceritakan!!!" balas Lena "Memangnya kamu tidak tau? Ryan memiliki penyakit kanker otak dan jantungnya pun lemah dan rentan" "Ya Tuham! aku tidak tau sama sekali!! dia di rawat dimana? aku ingin kesana, tetapi mungkin aku butuh waktu!"

"Mohon Maaf saya hanya di amanatkan untuk menyampaikan keadaannya saja, nanti jika dokter sudah mengijinkan, saya akan kabari kepada Ryan" Timpalku padanya

Ia pun tak menjawabnya, tidak bisa aku pungkiri, perasaan bersalahku kian membebani, tetapi semua itu aku lakukan untuk mengusirnya secara halus tanpa harus mengatakan ucapan perpisahan kepadanya. Tadinya aku kira Ia tidak akan menghubungiku dalam beberapa hari kedepan, kenyataannya di setiap hari, Lena selalu menanyakan kabarku dan aku semakin tidak tahan untuk melakukan penyamaran agar bisa menghindarinya. Akhirnya aku putuskan untuk kembali menjadi diriku sendiri kemudian memberikan kabar kepadanya bahwa keadaanku sudah mulai membaik.

***

Mekipun Ia mengetahui aku mempunyai penyakit kanker di dalam kebohongan yang aku ciptakan sendiri, Lena selalu menerima keadaanku, tanpa mengurangi harapannya agar bisa berjumpa denganku dan menjalin hubungan ini hingga ke jenjang pernikahan. Seakan telah kehilangan akal, aku milih untuk menjalani hubungan bersama nya dalam kepura-puraan semata. Singkat cerita, Waktu yang telah aku janjikan pun tiba. Esok hari, seharusnya aku datang menepati janjiku untuk menemuinya, tetapi kesalahanku dalam menjaga sebuah kesetiaan itu telah gagal, aku tidak bisa meninggalkan Rima, karena Ia telah mengisi hari-hariku di dunia yang begitu nyata.

Dari mulai sebelum tidur, telpon genggamku sudah aku matikan, sengaja aku lakukan untuk menghindar dari pertanyaan yang akan Lena ajukan kepadaku tentang janji-janji yang pernah aku katakan kepadanya. Besoknya sekitar pukul satu dini hari, aku menyalakan kembali ponselku dan benar saja, sekitar 30 pesan lebih dari Lena tengah menyambut kecemasanku saat itu. Entah memang takut atau merasa bersalah, aku tidak berani membalas pesan singkat darinya. Saat aku membuka akun Facebook ku, ternyata Lena pun mengirimkan pesan pribadi. berkali-kali Ia menanyakan "Kamu kemana? bukankah seharusnya hari ini kamu bersamaku? kenapa kamu menghilang?"

Tidak bisa aku tutupi, hatiku serasa teriris membaca semua pesan darinya, aku memang biadab telah membuat seseorang menyimpan harapan yang begitu besar kepadaku. dengan sisa keberanian yang masih aku miliki, aku memutuskan untuk membalas pesannya, dan mengatakan kebohongan kembali kepadanya, bahwa...

"Sebenarnya aku memang sudah berada di kotamu, walau dahulu jarak yang memisahkan kita dan meskipun saat ini jarak sudah tidak lagi menjadi sebuah halangan. semua itu tidak akan merubah keadaan, maafkan aku Lena"

Sekitar beberapa menit, Lena pun membalasnya, entah berapa banyak Ia membalas satu pesan sms dariku yang jelas, Ia begitu marah kepadaku, bahkan Ia mencaci maki semua sikapku kepadanya selama ini, Namun tidak selintas sedikitpun untuk berbalik marah kepadanya, karena meskipun begitu aku masih bisa menyadari, semua ini adalah kesalahan terbesarku telah melambungkan impian yang begitu tinggi kepadanya untuk di hancurkan kembali hingga tak tersisa. Masih teringat satu pesan darinya yang cukup membuatku merasa menjadi manusia yang paling keji diantara manusia lainnya.

"Kenapa tidak sedari awal kamu mengakhiri hubungan ini dengan cara yang sangat hina! mengapa harus membuatku menunggu terlebih dahulu dengan waktu yang tidak singkat ini!! apa karena aku tidak seindah orang lain? ataukah karena aku tidak berharta seperti orang lain? untuk itu kamu merasa PANTAS MELAKUKAN SEMUA INI KEPADAKU??? harapan dan janji yang telah kamu berikan hanya menjadi seonggok kotoran yang kamu rangkai sendiri!"

"Aku memang tidak selembut seperti orang lain, bahkan aku pun merasa bahwa tidak ada yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri!! Tetapi lihatlah cermin, kamu yang bernada selalu lembut dan tampak lebih berpendidikan dariku! kenyataannya hatimu lebih RUSAK dariku! tidak kah engkau malu sedikitpun dengan kecerdasaan yang kamu miliki? ternyata kepintaranmu hanya untuk mendustai hati orang lain!!!"

"Entah berapa banyak kebohongan yang kamu lakukan dan selalu aku maklumi! tetapi kali ini maaf, aku tidak bisa memaklumi kembali! baiklah, aku akan pergi selamanya dari hidupmu! karena aku memang tidak pernah di pantaskan denganmu! Semoga kelak kamu akan merasakan hal yang sama, agar tidak ada orang lain lagi yang bernasib sama denganku karena sikapmu!!! Farewell, Good Bye!!"

***

3 Bulan setelah kejadian itu, rasa bersalahku masih tetap kokoh bersemayam. Tetapi di sisi lain, aku sudah kehilangan harga diri untuk meminta maaf kepadanya. Ucapan adalah sebuah doa, mungkin itu memang benar, menginjak setengah Tahun aku jatuh sakit dan ternyata setelah di diagnosis oleh dokter ternyata aku mengidap sebuah penyakit kanker tingkat 2. Aku begitu terpukul mendengar kenyataan yang terjadi kepadaku saat itu. Kehidupanku pun seakan di kelilingi awan hitam yang tidak pernah hujan dan terus meninggalkanku di dalam kegelapan nya.

Bahkan yang aku kira Rima adalah seseorang yang tepat untuk mendampingi hidupku, setelah mengetahui aku mengidap sebuah penyakit kanker, Ia perlahan menghindar dariku dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah, aku tidak dendam kepadanya, karena bagiku mungkin ini adalah sebuah harga yang cukup pantas untuk membayar semua sikapku di masa lalu kepada Lena. Sebelum keadaanku semakin memburuk, aku ingin meminta maaf kepada Lena dan akhirnya aku memilih untuk mengunjunginya secara langsung. Untungnya, alamat rumah yang pernah Lena berikan kepadaku, masih aku simpan di pesan konsep yang berada dalam ponselku.

Setibanya disana, ternyata Lena sudah tidak lagi menempati rumah tersebut, aku mencari informasi tentang keberadaan dari Lena melalui beberapa orang tetangganya. sempat berpatah arang, setelah cukup banyak orang yang aku tanyai, hasilnya tetap saja nihil, tidak ada satupun yang mengetahui kepindahan Lena beserta keluarganya. Tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku, seorang wanita paruh baya menghampiriku dan mengatakan keberadaan Lena saat ini. Tanpa berpikir lama, aku langsung pergi menuju kediamannya.

Sebelum masuk kedalam sebuah gang, tidak sengaja aku melihat seorang pedagang gorengan yang sedang ramai di kunjungi oleh para pembeli. ketika aku mulai mendekat, ternyata Sang penjual gorengan itu adalah seorang wanita, tidak salah lagi Ia adalah Lena, bahkan setelah beberapa kali aku memastikan wajahnya dengan melihat foto Lena yang masih tersimpan di gallery ponselku dan benar saja Ia adalah benar-benar Lena yang dulu pernah aku kenal. Seketika hatiku mulai menciut melihat kenyataan yang kini berada di hadapanku. Lena, memang seorang wanita yang sangat baik, meski Ia begitu cantik, tampak di raut wajahnya, tidak sedikitpun Ia merasa malu menjadi seorang penjual gorenngan.

Aku mencoba memberanikan diri untuk menghampirinya, saat satu persatu pembeli mulai beranjak pergi, bibirku semakin terkunci, rasanya tidak sanggup berkata apapun, meski hanya sekedar untuk meminta maaf sekalipun. Tanpa sadar, Lena memanggilku berkali-kali...

"Ma..Maaf mas mau beli apa ya?" Tanya Lena padaku "Beli 10 aja, campur ya mbak" jawabku dengan perasaan yang sangat lirih.

Lena tidak lagi mengenaliku, hilang sudah keberanianku untuk meminta maaf kepadanya, namun aku merasa bahagia meski hanya sekedar menjadi seorang "penjual dan pembeli" setidaknya aku telah mengetahui secara langsung, bahwa Lena bukanlah seorang pemain drama di dunia maya, ternyata apa yang telah di katakannya kepadaku tentang semua keadaannya bukanlah sebuah rekayasa, melainkan sebuah kenyataan yang telah terbukti oleh mata kepalaku sendiri. Air mata kian memaksa, seakan ingin segera keluar untuk menumpahkan segala perasaanku saat itu, Belum sempat Lena mengambil uang kembalian, Aku pun beranjak pergi meninggalkannya.

"Mas! Mas ini kembaliannya mas!" Teriak Lena padaku, dan tanpa menoleh aku pun menjawabnya "Ambil saja kembaliannya buat kamu, aku sedang terburu-buru" Seraya melambaikan tangaku padanya.

"Selamat tinggal Lena, maafkan aku, akhirnya kelak aku bisa pergi dengan tenang, karena aku bisa melihat wajahmu yang begitu cantik, dan hatimu yang begitu bersih. terima kasih telah mengajarkan aku tentang arti dari apa adanya yang sebenar-benarnya, semoga kelak, engkau mendapatkan seorang pedamping yang sangat baik dan mampu membuatmu tersenyum bahagia, tidak sepertiku, yang terlihat berkelas tetapi kotor di dalamnya seperti yang pernah kamu ucapkan padaku..." Kataku dalam hati dan membiatkan air mata itu menghujami pipiku, banyak orang yang melihatku dengan penuh keheranan, namun aku tidak peduli, karena rasa bersalahku kepada Lena jauh lebih besar dari rasa malu yang masih tersisa.

TAMAT

Original Written By:
Aghana V Idents
Narasumber kisah nyata: "Di rahasiakan"

Senin, 30 November 2015

Pasangan suami istri tukang sedot WC




Beberapa bulan lalu, sang kakak ipar memanggil tukang sedot tinja (maaf) karena memang sudah beberapa hari wc mampet.

Awalnya memang yang turun dari mobil hanya 2 orang lelaki berumur, di karenakan septic tank harus di kuras habis dan ada beberapa hal yang harus di perbaiki  (saya lupa entah apa namanya) , maka proses pembersihan akan memakan waktu cukup lama.

Kemudian seorang wanita yang merupakan istri dari salah satu tukang pun turun dari mobil,  untuk ikut serta membantu suaminya.
Amazing, tanpa merasa jijik sedikit pun beliau membantu suaminya membersihkan septic tank yang berada di rumah saya hingga tuntas.

Harga 750ribu yang sudah di keluarkan pun terbayar tunai oleh kekompakan  pasangan suami istri tersebut.
"Lebih baik bekerja kotor membersihkan tinja tetapi halal, ketimbang yang mampu bekerja lebih layak tetapi sikap nya seperti tinja"

Respect saya kepada mereka.
Semoga saya pun bisa mendapatkan pasangan yang kompak dalam berkomitmen, bukan yang hanya ingin di sempurnakan tanpa saling menyempurnakan.



Tabik.


Original written by:
Aghana V Idents

Minggu, 29 November 2015

"Hidup adalah sebuah Event"



Sebagai seorang penulis yang tidak pernah handal dan Sebagai seorang konsultan yang tidak pernah merasa layak untuk di sebut demikian. tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk berbagi sebuah pengalaman bukan? di sela kesibukan menggarap sebuah Novel, rasanya hari ini terlintas ingin sedikit bercerita. setelah Vakum cukup lama menanggapi sharing dan konsultasi dari sekian banyak orang.

Setidaknya ada setitik kerinduan tentang hal tersebut, maka di buatlah catatan rongsokan ini meski tidak seberapa nilainya, mohon di maklumi apabila banyak kesalahan dari kata-kata yang akan saya goreskan di sini, semoga saja menjadi bahan pemikiran untuk kita semuanya.

"hidup adalah sebuah Event" mengapa demikian? karena keadaan akan berlalu begitu cepat saat ini mungkin kita berbahagia, bisa saja esok lusa atau nanti kita harus di rundung sebuah duka tentunya kita tidak tau kapan semuanya akan terjadi. Sukses bukan berarti harus berhenti, karena Event dengan cepat akan datang dengan menakutkan siapa saja bagi yang lengah.

Sebuah pencapaian mungkin sifatnya bercabang, sekalipun itu hal yang buruk sekalipun untuk di lakukan. tentu saja, tidak selamanya "apa yang kita tanam, maka kita sendiri yang akan memetik hasilnya" bagi sebagian orang, kesadaran itu adalah urutan yang paling belakang. Meskipun kita telah sebaik mungkin untuk tidak melukai perasaan siapapun, apalah daya orang-orang yang menyakitkan selalu datang bukan? Di sini terlihat jelas bahwa tidak selamanya kita memetik hasil yang kita tanam, karena di sisi lain kita harus banyak-banyak belajar menjadi sosok yang lebih kuat untuk terus tumbuh menjadi pemilik jiwa yang lebih baik. Mungkin agar kita lebih menghargai nilai arti dari sebuah kebahagiaan ketimbang sebelumnya.

Berhenti sejenak meminum segelas kopi...

Pengalaman mengatakan bahwa "Di dalam sebuah kecintaan terhadap sesuatu, maka kenali resiko terbesarnya yaitu kehilangan" Ikhlas tidak selamanya mudah di dapatkan, entah itu karena cinta terhadap seseorang ataukah kecintaan kita di dalam sebuah Usaha yang sedang kita jalani saat ini. Apabila di dalam sebuah cinta terkadang terjadi jua pengkhianatan dan di tinggalkan, maka di sebuah usaha terdapat kebangkrutan dan penipuan. Dua hal berbeda dengan kekecewaan yang masih bisa di katakan sebanding sakitnya. Sebagai manusia biasa, saya pernah mengalami dua hal tersebut secara bersamaan, ketika kata "Ikhlas" sulit untuk singgah, saya selalu mencari alasan lain untuk menangkal semua yang telah terjad, "Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya, meski terkadang kita sebagai seorang umat selalu meninggalkan Tuhannya" Dalam kata lain, cinta yang pergi, dan usaha yang gagal, semuanya itu hanyalah rezeki yang di tanggalkan untuk menjadi sebuah peraduan tabungan di masa depan.

Kejutan tentunya memerlukan biaya atau tenaga dan pikiran bukan? Itulah yang saya maksud dengan "Tabungan di masa depan"

Menangislah jika itu perlu, marahlah apabila kita merasa tertindas namun jangan lupakan tujuan kita untuk menangis dan marah, apakah hanya untuk menumbuhkan rasa "IBA" kepada diri sendiri? semua itu hanya akan mengandung sebuah kerugian semata, jika tidak lelah pastilah menyesal, sedangkan orang-orang yang telah membuat diri kita seperti itu hanya akan tertawa seakan menjadi seorang pemenang, meski mereka tidak menyadari sebuah "posisi" yang sama, cepat atau lambat mereka akan menikmatinya juga. tujukan 2 hal itu kepada arah yang lebih manusiawi, ketika harus meneteskan air mata, jadikan satu pemikiran agar tidak terulang kembali hal yang sama untuk kedua kalinya, dan ketika "kemarahan" dengan terpaksa harus di luapkan, tunjukan bahwasannya "taring" yang kita miliki bukan untuk merobek kulit dan seisinya, melainkan untuk memperingatkan bahwa kita memliki "perasaan untuk di hargai"

Kembali berhenti menghabiskan air kopi yang masih tersisa.

Tidak usah merasa malu dengan menjadi diri sendiri "sebelangsak belangsaknya hidup seseorang, ada yang jauh lebih belangsak dari itu, ialah yang mengakui memiliki hati, tetapi selalu melakukan tipu daya kepada seseorang yang menyayanginya" kenyataan tidak perlu di ada-adakan, sederhana masih lebih mulia ketimbang melebihkan keadaan yang pada kenyataan nya memang tidak kita miliki dan semuanya akan berakhir dengan rasa malu ketika suatu saat nanti semuanya di pertanyakan kembali. "Ketika kita merasa lebih rendah dari orang lain, cukup di ketahui bahwa masih ada yang lebih rendah selalu ingin nampak lebih tinggi" merasa malu adalah hal yang wajar, pertanda kesadaran kita masih di katakan dalam tahap normal, berbanding terbalik dengan tidak memliki rasa malu "Tampak kebenaran itu selalu berpihak kepada dirinya sendiri" kala Ia berdiri di atas kekecewaan yang tengah orang lain rasakan.




TABIK.



Original Written By:
Aghana V Idents

Rabu, 25 November 2015

Cerpen Langkah Ilusi



"Langkah Ilusi"
Genre: Fiksi, Misteri

"Ketika dunia tidak lagi menyenangkan bagimu, apakah yang akan kau lakukan? melarikan diri dari keadaan saat ini? ataukah
membenci semua orang yang telah membuatmu kecewa? sekalipun kau menangis darah, kehidupan tidak akan ramah kepada siapapun"

Di saat orang lain tengah tertidur lelap, Eliza masih menapaki jalannan kota seorang diri bajunya nampak lusuh di penuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, sorot matanya memancarkan rasa letih yang tidak dapat lagi tertahankan. Langit pun menurunkan tetesan air hujan, seketika Eliza menggigil karena merasa kedinginan, langkah kakinya tidak juga terhenti, Ia terus berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang semakin deras membasahi.

Tidak ada satupun pejalan kaki yang berjalan di sekitarnya, hanya beberapa kendaraan beroda empat yang sesekali melintas malam itu, wajah Eliza semakin terlihat pucat dan langkah kakinya tampak semakin gontai, dalam beberapa detik kemudian Gadis belia tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. cahaya bulan yang terpajang diatas langit, menjadi saksi pertama atas ketidak- berdayaan yang menimpa Eliza, seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan sorot matanya pun kian memudar.

***

Halaman rumah yang di tumbuhi rerumputan indah, terlihat asri meski luasnya rumah itu tidak semegah istana. Beberapa ekor kucing pun nampak sedang menikmati hari yang cerah, kicauan-kicauan burung nan merdu, mulai terdengar oleh Sang pemilik rumah, dari luar pagar berwarna biru muda itu, terlihat seorang gadis cantik berkulit putih tengah menguap sembari menatap awan pagi yang telah menyambutnya untuk mengawali hari.

"Eliza! ayo cepat sarapan nak!" Panggil Sang Ibu kepada anak gadisnya yang cantik itu.
"Iya bu, aku masuk ke rumah sekarang" Jawab Eliza

    Usai orang tuanya bercerai, Eliza dan adiknya tinggal bersama dengan Ibu, di setiap pagi Ia selalu mendapatkan giliran untuk menjaga rumah, Ibu dari Eliza adalah seorang guru, beliau mengajar hingga siang hari, beruntung Eliza memiliki seorang tante yang bersikap baik padanya, tantenya yang bernama Helena memiliki harta yang melimpah, sehingga memiliki beberapa tempat usaha dan tanpa syarat apapun,
    Eliza bisa bekerja di salah satu kantor milik tantenya tersebut. Satu waktu Eliza belum pulang hingga larut malam, pekerjaannya yang kian menumpuk, memaksanya mengambil jam lembur pada hari itu, dengan penuh konsentrasi gadis itu duduk di depan meja komputer bersama berkas-berkas yang menumpuk. Di tengah kesibukannya, Eliza mendengar nada dari ponselnya telah berdering, setelah mengetahui yang menghubunginya itu adalah Sang Ibu, Eliza pun segera menjawabnya.

"Hallo Bu ada apa?"
"Kamu mau pulang jam berapa nak?" Tanya Ibunya
"Entahlah Bu, pekerjaanku masih banyak"
"Lebih baik kamu pulang saja sekarang, nanti Ibu yang bilang ke tante soal ini"
"Tapi bu...."
"Ibu ingin kamu pulang sekarang, Ibu merasa khawatir, nanti Ibu jelaskan semuanya ke tante Helena"
"Ba...baiklah Bu" Jawab Eliza sembari menutup teleponnya.

    Dengan cepat gadis itu bergegas membereskan meja kerjanya yang masih nampak berantakan, ketika Ia hendak berdiri dari tempat duduknnya, samar Eliza merasakan tiupan angin yang menyentuh lehernya, awalnya Ia tidak menggubris dan menganggap hal tersebut biasa saja, hingga sampai Eliza akan membuka pintu ruang kerjanya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil namanya, sontak suara tersebut membuatnya terpaku untuk beberapa saat.
    Mencoba untuk memberanikan diri, Eliza pun menyalakan kembali saklar lampu yang tadinya telah Ia matikan, perlahan Ia menoleh kearah belakang dan ternyata tidak ada seorang pun disana, setelah memastikan kembali ruangan tersebut, Eliza segera beranjak keluar dengan tergesa-gesa. Suasana di area parkir kendaraan pun tidak kalah sepinya, hanya ada dua motor milik security dan satu kendaraan beroda empat milik Eliza.
    Baru saja masuk kedalam mobil, Eliza kembali mendengar suara yang terdengar asing dari sebelumnya, kini Ia mendengar suara seperti seseorang yang tengah tercekik, semakin lama suara tersebut semakin terdengar memilukan di telinganya, wajah Eliza terlihat ketakutan, tangannya yang gemetaran tengah sibuk mencari kunci mobil dari dalam tas miliknya, belum sempat menyalakan mesin mobil, Ia mendengar suara gesekan dari langkah kaki yang tidak jelas berasal darimana dan perlahan semakin mendekatinya.
    Mesin mobil pun berhasil Ia hidupkan, ketika akan menginjak pedal gas, tanpa di sengaja Eliza melihat dari arah belakang, ada sesosok wanita berambut panjang berantakan, mengenakan pakaian putih yang kumal di penuhi oleh darah serta seorang anak kecil yang berjalan tertatih dengan kulitnya nan hitam seakan bekas terbakar di seluruh tubuhnya, kedua makhluk tersebut perlahan mendekatinya, tanpa menunggu lama lagi Eliza pun menancapkan gas mobilnya untuk segera keluar dari sana.

***

    Seminggu telah berlalu, semenjak kejadian mengerikan itu terjadi, Eliza tidak menceritakan kepada siapapun termasuk kepada Sang Ibu. Ia bekerja seperti biasanya namun Eliza selalu pulang lebih awal, bahkan kini Ia lebih memilih menyelesaikan sisa pekerjaannya di rumah. Satu waktu Eliza terpaksa harus di rumah seorang diri, Ibu dan Adik-adiknya pergi menjenguk nenek yang tengah terbaring sakit, karena pekerjaannya yang masih menumpuk, Ia pun tidak bisa ikut pergi dengan Sang Ibu.
    Malam semakin menyelimuti langit, Eliza telah menguap beberapa kali, menahan rasa kantuk yang kian menyerangnya saat itu. Setelah mematikan laptopnya, Eliza pergi kedapur untuk mengambil segelas air minum. Teringat belum mengunci pintu rumah, Eliza pun melangkahkan kakinya menuju ruang depan yang terhalang oleh kamar tidur Ibunya. Anehnya, pintu rumah ternyata telah terkunci rapat, Eliza seketika mengkerutkan dahinya karena merasa keheranan, Ia masih teringat setelah pulang dari tempatnya bekerja, Eliza segera mengambil handuknya untuk mandi, karena cuaca hari itu begitu panas dan gersang, berlanjut Eliza pun meneruskan pekerjaannya tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu.
    Rasa penasarannya yang semakin membesar, membuat Eliza membuka kembali pintu rumahnya yang telah terkunci. Sekali ia mencoba membukanya namun tidak berhasil, hingga kedua kalinya sampai ketiga kalinya Ia mencoba, pintu rumahnya tidak juga bisa di buka. Tiba-tiba saja salah satu dari kucing peliharaannya menggeram seraya sorot matanya menuju kearah sebuah ruang gelap yang persis lorong tersebut, Eliza pun menoleh untuk memastikan apa yang telah terjadi. Betapa terkejutnya Ia, tepat di hadapan kedua bola matanya, ada sesosok wanita berambut panjang tengah membelakanginya. Makhluk itu terdengar tengah menangis menyeringai dan spontan membuat Eliza terduduk lemas tak berdaya.
    Tidak hanya sampai disana, lagi-lagi Eliza di kejutkan oleh sesosok anak kecil berkulit hitam pekat tengah merangkak keluar dari kamar Ibunya. dengan memberanikan diri, Eliza pun berdiri dan berusaha membuka pintu itu sebisa mungkin. Rasa takut yang di rasakannya membuat Ia menitikan air mata sesekali Ia melihat kearah dua mahkluk itu, sosok wanita tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, hanya saja makhluk yang menyerupai anak kecil tersebut semakin mendekatinya sembari mengeluarkan suaranya yang terdengar menyeramkan seakan-akan tengah tercekik kesakitan.

    Pintu rumahnya berhasil terbuka, Eliza segera berlari dan berteriak meminta tolong kepada warga, satu persatu tetangganya pun keluar dari rumah. Gadis itu terus berlari tanpa henti, hingga terpaksa beberapa orang tetangganya berusaha mengejar Eliza untuk menanyakan apa yang telah terjadi padanya. langkah kakinya pun semakin kencang dan sampailah Ia di sebuah perempatan jalan raya yang nampak sudah terlihat sangat sepi, Eliza masih menapaki jalannan kota seorang diri bajunya nampak lusuh di penuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, sorot matanya memancarkan rasa letih yang tidak dapat lagi tertahankan. Langit pun menurunkan tetesan air hujan, seketika saja Eliza menggigil karena merasa kedinginan langkah kakinya tidak juga terhenti, Ia terus berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang semakin deras membasahi.
    Tidak ada satupun pejalan kaki yang berjalan di sekitarnya, hanya beberapa kendaraan beroda empat yang sesekali melintas malam itu, wajah Eliza semakin terlihat pucat dan langkah kakinya tampak semakin gontai, dalam beberapa detik kemudian Gadis belia tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. cahaya bulan yang terpajang diatas langit, menjadi saksi pertama atas ketidak- berdayaan yang menimpa Eliza, seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan sorot matanya pun kian memudar.

***

    Ketika aku membuka mata, tanteku yang bernama Helena telah duduk di sampingku, melihat aku telah tersadar dari tidur panjang, tante Helena lekas memeluk ku sambil menangis dengan sejadi-jadinya, aku masih tidak mengerti apa yang telah terjadi kepadaku saat ini, aku pun berusaha bertanya kepadanya, tetapi beliau tidak juga menjawabku, tante Helena masih terus menangis dan air matanya semakin membasahi pundak ku, entah mengapa hatiku merasakan perih yang luar biasa tanpa sebab, sehingga membuatku ikut menitikan air mata dan memeluk erat tanteku Helena.
    Dua minggu setelah kejadian itu, aku pun mulai mengetahui sebuah kenyataan yang pahit, ternyaata sudah 2 bulan lebih aku tenggelam di dalam duniaku yang lain, yaitu dunia khayalan yang seakan terlihat begitu nyata, aku sempat mengalami depresi yang sangat berat, pasca Ibu dan adik ku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan di sebuah jalan tol, selepas kabar duka tersebut sampai di telingaku, hari demi hari keadaan ku semakin memburuk seringkali aku tiba-tiba menangis namun setelahnya aku seakan terlihat normal kembali dan pergi bekerja di kantor tanteku Helena seperti biasanya.
    Tante Helena adalah adik dari Ibuku, wajahnya yang begitu mirip, seakan-akan tante Helena adalah Ibuku yang kembali hidup. Beliau pun menceritakan suatu kebenaran padaku, ketika kejiwaanku masih benar-benar terguncang, Tante Helena dengan sengaja mengubah namanya sendiri di kontak posnelku menjadi "Ibu" . Setelah aku mengingat-ngingatnya kembali ternyata dugaanku benar, saat waktu itu aku tengah kerja lembur, beliau lah yang sebenarnya telah menghubungiku dan memintaku untuk segera pulang. Om ku yang bernama Anto, suami dari Tante Helena yang bekerja di luar negeri, sempat merujuk tanteku Helena agar membawaku ke rumah sakit jiwa untuk di rawat, namun tante Helena yang sangat menyayangiku tidak ingin melihatku di cap sebagai "Orang tidak waras" oleh siapapun, bahkan Tante Helena rela menyewa dua orang bodyguard untuk selalu mengawasiku.
   Meski tanteku telah menceritakan semuanya, tetapi aku merasa masih ada sesuatu hal yang mengganjal dalam pikiranku saat itu, hingga aku pun mulai tersadar akan satu kejadian yaitu
"Siapakah kedua makhluk yang menyeramkan tersebut? mengapa mereka menghantuiku?"
Hingga sampai detik ini, misteri itu tidak bisa terungkap, namun satu penggal kisah yang di ceritakan kembali oleh tante Helena, membuatku mengerti mengapa kedua makhluk itu hadir di dalam hidupku,
    Ayahku yang terlilit hutang karena kegemarannya dalam berjudi serta pemakai obat-obatan terlarang, mencari celah untuk membawaku pergi yang pada saat waktu itu aku masih tenggelam di dunia khayalku, Ayahku sangat keji, Ia telah kehilangan akal sehatnya dan Ia telah 2 kali berusaha menjualku kepada seorang mucikari untuk melunasi hutang piutangnya, untunglah aku selalu bisa terlepas dari cengkramannya,
    Pertama ketika aku pulang larut malam di kantor tanteku, ternyata Sang Ayah sudah berada di area parkir menungguku, untungnya aku telah berada di dalam mobilku dan yang kedua ketika tanteku Helena pergi ke rumah nenek, menurut pengawal pribadi tante Helena, saat aku berlari keluar rumah, tidak lama kemudian Ayahku datang dan mencariku, lagi-lagi aku beruntung karenanya. Atas perbuatannya selama ini akhirnya Ayahku masuk kedalam jeruji besi, namun meski begitu aku berusaha untuk tidak pernah membencinya.


TAMAT.

Original Written by:
Aghana V Idents

Selasa, 24 November 2015

Putus Asa Bukanlah Sebuah Pilihan




Di dalam hidup, kita pasti akan di pertemukan dengan sebuah kegagalan dan kekurangan yang seringkali merobohkan nyali untuk membangun kembali keberanian untuk menata masa depan yang lebih cerah, kebahagiaan selalu menunggu kedatangan kita, bukan kita yang menunggu kebahagiaan itu untuk datang menghampiri, setiap tetes keringat akan menjadi saksi terbesar untuk merajuk kebahagiaan, jangan pernah takut untuk memulai, tetapi takutlah jika kita tidak pernah memulai dan mengetahui semuanya telah terlambat.

1. "KEGAGALAN DALAM HAL CINTA BUKANLAH AKHIR DARI KISAH HIDUPMU"

"Cinta bagaikan obat yang telah menjadi candu, memperindah impian yang sekedar sketsa dan menjabarkan 
perasaan melalui sebuah tindakan nyata untuk saling menabur kasih sayang di dalam indahnya sanubari mandalawangi..."


Kehilangan mungkin bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk kita lupakan, di balik rasa sebuah pilu yang tengah kita rasakan ketika harus berpisah dengan seseorang yang kita cintai Ialah "Jalan Terbaik" dimana semua pengorbanan dan perjuangan yang telah kau lakukan tidak lagi mendapatkan sambutan hangat, andai bila kita menyadari, semakin cepat waktu memperlihatkan takaran"Cinta" yang tidak lagi pantas untuk kita pertahankan, maka "Luka" yang kita rasakan pun tidak akan terlalu dalam. 

Putus cinta merupakan sebuah awal, awal perjalanan baru yang akan segera di mulai, jangan pernah mengartikan putus cinta karena ketidak- mampuan mu untuk menjadi yang sempurna, karena cinta yang sejati akan selalu saling menyempurnakan bukan hanya"Meminta" untuk di sempurnakan seperti layaknya khiasan mewah di dalam istana.
***

2. "TIDAK SEMPURNA DALAM FISIK, ADALAH ANUGRAH YANG TUHAN BERIKAN"

"Dunia yang seringkali tersalahkan karena ketidak -adilan dalam menempatkan takdir, sesungguhnya Tuhan selalu melihatmu dengan tatapan yang penuh kasih di balik langit yang begitu cerah, menantikan mu mengukir sebuah sejarah di atas tanah bumi untuk memberikan cahaya ketika kegelapan menyelimuti orang-orang di sekitar mu"

Andai jika kita bisa memilih, mungkin kita ingin terlahir sebagai seorang wanita yang cantik atau menjadi seorang pria yang tampan, tetapi ketahuilah, keindahan di dalam sebuah fisik hanya bersifat temporer, karena yang terpenting sejauh manakah kita mampu menghadirkan sejarah dan kenangan yang indah untuk "terukir"selamanya di setiap hati manusia agar selalu di rindukan kehadirannya. percuma apabila memiliki paras yang sempurna namun hanya mampu menorehkan luka.

Menyalah gunakan fungsi yang Tuhan berikan, Ibarat"Menanam benih kehancuran, untuk di tuai di akhir certia" Syukurilah dengan apa yang telah Tuhan gariskan dan laksanakan kebaikan sebagai pertanda bahwa kita memiliki welas asih yang tidak terbatas oleh waktu.

***

3. "JANGAN PERNAH MALU KARENA KITA BUKANLAH ORANG BERADA"

"Keajaiban tidak akan pernah datang dari sekedar keluhan, walau seringkali kita menemukan jalan buntu yang menghentikan langkah, berfikirlah mungkin kita harus segera memutar arah untuk menemukan jalan keluar menuju impian yang selalu kita idam-idamkan, kegagalan adalah hal biasa, layaknya bumbu pelengkap sebelum menjadi seseorang yang lebih mahir dalam berjuang"

Tidaklah salah untuk selalu tampil sederhana, ketiadaan dalam harta bukan berarti menjadi sebuah batasan dalam bersosial, teman yang baik tidak akan pernah melihat setebal apa isi "Dompet" kita, melainkan sejauh mana kita mampu saling "Membantu" satu sama lain. 
Sejatinya cinta pun tidak akan melihat "Sebanyak apa uang" yang kita miliki, melainkan sejauh mana kita mampu "Berjuang" untuk mencarinya dengan cara yang baik.

Sebagaimana pun harta menjadi hal terpenting untuk membangun sebuah kehidupan, bukankah akan lebih indah apabila satu sama lain selalu saling mendukung bukan sekedar hanya ingin menikmatinya secara instant? tidak ada satupun yang ingin hidup dalam kekurangan materi, namun kita sebagai manusia telah memiliki jalan masing-masing yang telah Tuhan gariskan, tentunya Tuhan telah menyediakan pasangan yang pantas untuk kita, bukan karena harta, melainkan karena hati dan perbuatannya.

***


4. "PERNAH TENGGELAM DI DALAM KEGELAPAN, TIDAK BERARTI ENGKAU HARUS SELALU MENUNDUKAN KEPALA"

"Tidak akan pernah ada satupun manusia yang terlahir sempurna, terkadang bibir terucap untuk merendahkan dan terkadang sikap bertindak untuk melukai perasaan seseorang, sisi buruk manusia akan selalu ada untuk menantang, menantang keberanian kita untuk memilih jalan manakah yang akan kita tuju, jikalau kegelapan pada akhrinya memenangkan perdebatan hati. maka tidaklah salah jika kita berbakti kepada kebaikan selepas cahaya kembali kita temukan"

Di pandang sebelah mata adalah hal yang seringkali kita temui, terutama ketika kita pernah terjerumus dalam lembah hitam, dimana kita telah melakukan kesalahan dalam penyimpangan yang cukup besar, ingatlah hidup itu begitu singkat, terlalu lama jika kita menghabiskan waktu untuk mengucilkan diri, sebagaimana pun orang-orang tetap memandang rendah kepada kita, setitik kebaikan yang telah kita lakukan, Tuhan akan selalu memperhitungkannya, jangan pernah gentar untuk melakukan hal yang baik, karena yang merasa lebih baik belum tentu mampu menorehkan kebaikan itu sendiri.

Dengan hanya menunggu, kita tidak akan pernah menemukan keindahan, karena keindahan adalah sesuatu hal yang harus segera kita mulai dari diri sendiri, biarkan seorang pembenci selalu mencari-cari kesalahan dalam diri kita, karena masa depan telah menunggu kita untuk berbuat kebaikan, hal yang baik tidak merugikan siapapun, tetapi yang merugi selalu merasa lebih baik tanpa pernah bercermin...

***

5. "BANGKITKAN KEPERCAYAAN DIRIMU, DENGAN MENYADARI SEKELILING MU"

"Kita selalu berfikir, kenapa hidup kita sehancur ini? meski tanpa kita sadari, masih mampu untuk membeli sesuap nasi di setiap hari dan menyambung hidup.
Kita seringkali mengeluh, kapan kebahagiaan itu datang? walau kesadaran seringkali tertutupi oleh keinginan yang berlebihan tanpa pernah merasa bersyukur.
Kita pernah bersedih karena patah hati dan meminta untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik? sayangnya seringkali kita memimta yang lebih tanpa memantaskan diri"


Setiap manusia pasti pernah berkeluh kesah, ada yang bangkit setelahnya, ada juga yang semakin terpuruk karenanya, keinginan kita terkadang tidak pernah sebanding dengan perbuatan yang telah kita lakukan, sedangkan di luar sana, di sekitar kita banyak yang lebih menguras keringat di setiap hari namun tidak pernah berputus asa untuk menjalani hidup, karena mereka percaya di setiap pengorbanan yang telah mereka lakukan akan menjadi hasil yang terbaik untuk di suatu saat nanti.

Seringkalinya kita bercermin tidak akan pernah mampu untuk menyadari kekurangan yang kita miliki, terkadang kita harus belajar dari orang-orang yang berada di sekitar kita, bagaimana cara mereka berjuang untuk hidup ketimbang merengek menantikan belas kasihan takdir kepadanya, tidak kah kita merasa malu sedikitpun? ketika kita menginginkan sesuatu hal yang besar kepada Tuhan, tetapi begitu kecilnya kebaikan yang kita berikan kepada Tuhan dan umatnya? Sadarilah bahwa setiap orang pasti memiliki keterbatasan, namun bukan berarti keterbatasan di jadikan sebuah alasan terbesar untuk menggerutu, karena tidak ada impian yang terlalu jauh untuk di gapai, jika kita menyadari akan selalu ada arah yang lain untuk kita lewati.




Tabik.


Original Post By:

Aghana V Idents (Hipwee Version)

Aghana V Idents (Facebook)

Senin, 23 November 2015

Quotes bagian 1



"buruk rupa itu tidak ada, nyatanya si buruk mata yang menilainya salah. Semua manusia itu elok, seperti camar yang bermandikan siluet senja...."
-Aghana

"Malam pun akan selalu gelap, selama mentari tidak menggantikannya menjadi siang kemudian. Langit saja tidak pernah luput dalam berperan ya? Masihkah harus menunda waktu lebih lama kepada seseorang yang tidak menghargai peranan mu? Miris."

-Aghana

"Kenapa harus malu karena tidak memiliki apa-apa? sedangkan yang mengaku memiliki segalanya tetapi miskin hati masih berkeliaran di luar sana"
-Aghana

"sombong itu boleh dan pamer pun berhak, tetapi ingat, ketika keadaan telah terbalik jangan mempertanyakan kemana semua itu pergi karena sudah pasti "Pinjaman akan kembali kepada pemiliknya" temasuk yang berada di balik tempurung kepala itu."
-Aghana

"Semakin bagusnya kualitas barang, semakin mahal harganya. Apabila barang tidak memiliki kualitas, jangan berharap di berikan label harga yang mahal.
Ganti kata "barang" menjadi "Diri Sendiri".
-Aghana

"Pasangan yang terbaik adalah pasangan yang selalu memperjuangkan" mungkin harus sedikit di perbaiki, menjadi 
"pasangan yang terbaik tidak akan membuatmu berjuang sendirian" karena menyadari kita bukanlah jongos di jaman kerajaan."
-Aghana

"Tuhan tidak akan menyajikan sebuah kesukaran tanpa bisa di selesaikan, seandainya terasa sukar sekalipun, selama detak jantung masih memacu, akan selalu ada ending yang dapat di selesaikan."
-Aghana

"Mencari kebenaran secara instant sangatlah mudah, cukup jiplak kata-kata mutiara orang lain yang sesuai harapan, tetapi jangan lupa, nasib atau takdir akan selalu menjadi batasan untuk membedakan "kehidupan & keberuntungan" antara penulis dengan pembacanya itu tidaklah sama."
-Aghana


See you later....

Aghana V Idents

Minggu, 22 November 2015

Seutas benang sutra





Cerpen "Seutas benang sutra"
Genre: Misteri (Fiksi)


"Tatkala lembah impian telah lenyap, bukanlah satu alasan kita untuk menyerah.
menyeringai kepada takdir karena hanya akan membuat kita semakin menderita karenanya.
Tuhan akan selalu membidik kita di balik sinar mentari, di kala cahaya bulan
tidak mampu lagi untuk memperindah mimpi-mimpi yang telah terkubur mati.
Esok tidak akan pernah binasah, ketika kita telah terbiasa berjuang meski
harus kalah sekalipun..."
-Aghana V Idents

***

   Sebagai seorang model ternama, Rena selalu nampak sibuk di setiap harinya.
terkadang kekasihnya yang bernama Rafa, harus rela menyusul Rena keluar kota demi menumpahkan
kerinduannya kepada gadis tersebut.
   Malam harinya, mereka berdua pergi ke sebuah bazaar untuk membeli beberapa buku novel.
Rena dan Rafa memiliki kesamaan hobi salah satunya Ialah membaca buku. Usai puas membeli
mereka berdua pun bergegas pulang sebelum malam semakin larut. Rafa mengantarkan Rena terlebih
dahulu ke rumah pamannya yang berlokasi tidak begitu jauh dari hotel tempat Rafa menginap.
   Sebelum masuk ke dalam rumah, seperti biasa Rena selalu mencubit hidung kekasihnya, begitu
pula dengan Rafa, Ia selalu membalasnya dengan mencubit kedua pipi gadis itu. Sudah 3 Tahun lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, di sepanjang perjalanan menuju hotel, Rafa merencanakan untuk segera melamar pujaan hatinya tersebut, kemudian tergoreslah senyuman kecil di bibirnya saat itu.
   Pagi-pagi sekali, ponsel Rena pun berbunyi, Ia menerima panggilan dari kekasihnya yang bernama Rafa. meski dengan keadaan masih sangat mengantuk, tiba-tiba saja Rena berteriak kegirangan. Sang Paman pun terkejut karenanya, maka beliau pun bergegas melangkah menuju kamar dari keponakannya tersebut.
melihat wajah Rena yang tampak begitu bahagia, pamannya itu lekas bertanya.

"Kamu kenapa Rena? membuat paman kaget saja"
"Rafa! Rafa akan melamarku paman!!!" Sahut Gadis itu sambil memeluk paman satu-satunya tersebut.

   Hari itu Rena berangkat bekerja untuk menyelesaikan beberapa sesi foto, wajahnya yang sangat ceria tidak seperti biasanya, mengundang rasa penasaran teman-teman satu profesinya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga Rena pun menceritakan kepada temannya bahwa Ia akan segera di lamar. Sikapnya menjadi sangat manja kepada Rafa, bahkan meski kekasihnya tengah sibuk, Rena memaksanya untuk makan malam bersama, karena tidak bisa menolak, Rafa pun mengabulkan permintaannya.
   Setelah menyelesaikan pekerjaan, Rena segera bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat makan yang telah di janjikan kepada Rafa. Ketika akan mengambil peralatan make up di dalam tasnya, Ia di kejutkan oleh secarik kertas yang bertinta kan darah dan juga terdapat pesan yang mengancam.

"RENA KAU HARUS MATI?"

   Setelah membaca pesan dari selembar kertas itu, Rena pun sontak berlari, wajahnya nampak ketakutan sehingga dengan cepat, Ia segera memesan mobil taksi yang berada tepat di sisi jalan. Detak jantungnya masih berdebar kencang, serta tetesan air keringat turut membasahi seluruh wajahnya. Di tempat yang berbeda, Rafa telah duduk menunggu kedatangan
Rena, lelaki itu tidak hentinya menguraikan senyuman seraya menatap foto-foto Rena di galllery ponsel miliknya.
  Sekitar 10 menit kemudian, Rena pun datang, namun bukan pelukan hangat yang di dapatkan oleh Rafa. Kekasihnya itu hanya diam membisu seolah-olah ada sesuatu hal yang telah terjadi kepada dirinya. Berkali-kali Rafa bertanya akan tetapi gadis itu tidak juga menjawabnya. Masih dalam diam, Rena pun memperlihatkan secarik kertas yang Ia
temukan tersebut kepada Rafa.

"Siapa yang menulis ini Rena!" Ucap Rafa dengan nada yang sangat marah.
"Aku tidak tau!" Sahut Gadis itu dengan menitikan air mata.

   Melihatnya menangis, Rafa pun mengurungkan niatnya untuk membahas lebih lanjut, Ia memastikan kepada Rena apapun yang akan terjadi, Rafa akan selalu melindunginya. Isak tangis rena mulai mereda, gadis itu pun mulai tersenyum kembali.
Sesuai rencana awal, mereka berdua mulai membicarakan rencana pertunangan. Rafa meminta waktu selama 1 bulan untuk melamarnya, dengan senang hati, Rena menyetujui permintaan kekasihnya tersebut.
   Sesampainya di rumah, malam telah menyongsong, selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Rena membuka lemari
pakaian untuk di kenakannya sebelum tidur, ketika Ia sedang memilih, di sela-sela tumpukan bajunya, tangan gadis tersebut
menyentuh sesuatu, bergegas Rena pun mengambilnya, ternyata secarik kertas bertinta kan darah kembali muncul di hadapannya.
Spontan saja Rena jatuh tersungkur dan melempar secarik kertas itu, di dalamnya terdapat pesan yang berbeda.

"AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!" 

   Tanpa pikir panjang lagi, Rena segera melaporkan ancaman tersebut kepada pihak berwajib, seketika saja rumah dari pamannya Rena, menjadi sangat ramai usai kedatangan 2 orang polisi yang akan melakukan penyelidikan di dalam rumah tersebut. Sekitar
2 jam lamanya, tidak ada satupun sidik jari yang di temukan, selain sidik jari dari Rena yang sempat memegang secarik kertas dari Sang pengancam, Pamannya Rena pun sedang pergi keluar kota, sehingga beliau baru saja mendapati kabar buruk tersebut dari keponakan
satu-satunya itu, atas usulan dari Sang paman, Rena pun menginap di hotel untuk beberapa hari kedepan.
   Bilur menarik warna di angkasa, taburi langit dengan bait-bait kejora, malam berkunjung kembali, lampu-lampu jalanan telah tampak menyala.
angin berhembus cukup kencang, sehingga memaksa daun-daun tuk berjatuhan. setiap nafas terhembus menjadi satu-satunya suara yang terdengar
seakan menjadi suatu keramian, begitu sunyi, begitu senyap, mengiris asa yang tak bertuan. Mata Rena enggan terlelap, rasa gelisahnya tidak
jua pergi dari lubuk hatinya, mungkin carut marut, kacau balau, atau gundah kelana, entahlah... yang jelas Ia tengah gusar tanpa jawaban.
   Rena pun duduk, menyandarkan bahumya di sudut dinding kamar, sedangkan Jemari tangannya tampak sibuk membuka kunci ponsel, tidak lain, sudah pasti Ia ingin
menghubungi lelaki yang teramat di cintainya itu. Kerutan dahi Rena semakin menajam, menandakan sebuah kekesalan tengah meradang. Ponsel Rafa
tidak bisa di hubungi, meski telah mencobanya berkali-kali. Gumam terlontar dari bibirnya, Rena terus-menerus meluapkan kemarahan, meski tidak akan ada satu orang pun
yang menanggapinya.

"Tok! Tok! tok!" Suara ketukan dari pintu kamar hotel yang di huni oleh Rena.
"Apakah mungkin itu Rafa?" Bisik harapan dalam hatinya.

   Rena Berlari kecil dengan hanya 1 detik saja Ia dapat meraih daun pintu, dan setelah pintu terbuka.... tidak ada seorang pun disana.
perlahan Ia pun menoleh, menoleh kearah kiri dan kanan, ternyata di koridor hanya nampak lengang tak sebatang hidung pun melintas.
wajahnya berubah seketika, ketakutannya kembali bergejolak, detak jantungnya terpicu semakin kuat. Seraya kakinya melangkah mundur, Rena
melihat secarik kertas tengah tergeletak di atas lantai, penuh keraguan-raguan dari lubuk hatinya, apakah Ia harus mengambilnya ataukah...
Setetes, dua tetes, dan tiga tetesan air keringat, semakin membasahi keningnya yang elok bak bulan sabit itu, Dan dengan sisa keberanian, Rena pun
mengambil selembar surat tersebut, lanjut membacanya kemudian.

"FATAMORGANA HARUS MUSNAH" (Seuntai kalimat di dalam kertas)

   Nalurinya sebagai seorang wanita, membuat Rena menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak! berteriak begitu kencang! berharap ada seseorang
yang mampu mengeluarkannya dari labirin, labirin yang membuatnya terasa semakin gila. Rena berlari tunggang langgang, pergi sejauh mungkin
dari tempatnya menghabiskan sisa-sisa waktu malam. Ia terus berlari dan berlari hingga sebuah pintu lift terlihat oleh kedua bola matanya,
Dengan cepat, dengan kegundahan, Rena menekan tombol untuk membuka pintu lift itu berkali-kali, akan tetapi enggan jua terbuka untuknya.
   Masih dalam keadaan menitikan air mata, Rena berpaling ke arah belakang, tanpa pikir panjang lagi, Ia berlari menuruni anak tangga
yang beralaskan karpet berwarna merah kehitam-hitaman itu. Dari lantai 5 Rena terus melangkahkan kakinya teramat cepat, sehingga membutuhkan
beberapa detik saja untuk melewati lantai 4, sesampainya di lantai 3 langkah gadis itu terhenti, Ia mendengar seseorang tengah memanggilnya
dari lantai atas, Ia pun menengadah, mencari keberadaan seseorang tersebut, tiba-tiba tampaklah sebuah tangan melemparkan sebuah kertas,
tepat mengenai kaki kanannya. Ternyata lagi-lagi, Ia melihat surat bertintakan darah yang sama persis seperti sebelumnya.

"FATAMORGANA HARUS MATI"

   Tanpa memperdulikan hal tersebut, Rena kembali berlari kencang menuruni satu persatu anak tangga. Di lantai 2, terjadi hal yang sama.
seseorang melemparkan secarik kertas usang padanya, bertuliskan. "AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!". Butir-butir air matanya kian menjuntai,
melawan rasa ketakutan meski tak bisa, mencoba tenang tetapi mustahil. Kakinya mulai melemah, bahkan keringatnya telah bercampur aduk
dengan air matanya. Tidak ada pilihan lain! selain Rena harus terus berlari meninggalkan tempat tersebut.
   Lantai 1 pun berhasil Ia pijak, nafasnya berhembus tak beraturan, menandakan keletihan yang luar biasa tengah di rasakan oleh Rena.
Sunyi senyap, cahaya lampu meredup, alih-alih menjadikan kota ini seakan menjadi kota mati yang tak berpenghuni. Ia berjalan pelan,
menulusuri koridor hotel, di temani suara angin yang entah berasal darimana asalnya. Satu lilin kecil menyala cukup terang, diatas
sebuah meja berdekatan dengan ruang resepsionis, untuk ketiga kalinya Ia melihat selembar kertas bertuliskan.

"RENA KAU HARUS MATI!"

   Ia tidak begitu memperdulikan, Rena kembali berjalan dan terus berjalan menuju pintu keluar. Dua buah pintu berbalut kaca yang menembus
pandangan kearah jalan raya pun mulai terlihat. Kini secarik kertas ke-4 hadir terpajang di pintu tersebut. Matanya yang sayup mencoba
membaca tulisan, tulisan yang terlampir dari kertas itu.

"AKU ADALAH SEBUAH NAMA, DARI HURUF PERTAMA DI SETIAP SURAT"

   Rena sontak terpaku, hatinya seperti tersihir untuk memahami. Ia memejamkan matanya, memutar kembali seluruh ingatannya tentang pesan
misterius yang menghantuinya selama ini. Surat pertama "RENA KAU HARUS MATI!", Surat kedua "AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!", Surat ketiga
"FATAMORGANA HARUS MUSNAH" dan yang terakhir Ia membuka matanya, "AKU ADALAH SEBUAH NAMA, DARI HURUF PERTAMA DI SETIAP SURAT". Bibirnya bergumam,
menyusun satu persatu huruf pertama dari surat yang pernah Ia terima, dan ternyata tersusunlah sebuah nama...

"RAFA? Ti...tidak mungkin! tidak mungkin Ia bersikap keji seperti ini!" Sahutnya penuh histeris sembari memegang kepala dangan kedua tangannya, tidak lama kemudian
sosok yang tengah Ia pikirkan pun datang, Ialah Rafa, Rafa datang dari luar dan bergegas masuk ke dalam mendekati Rena.
"Sayang! kenapa ponsel kamu tidak aktif? aku khawatir sama kamu, makanya aku menyusul kesini" Ujar Rafa.
"Tolong jangan dekati aku! Kamu gila! kamu psikopat! pergi dariku sekarang juga!" Rena mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"A...apa maksudmu hah? Kenapa kamu bersikap seperti ini!" Jawab Rafa.
"Aku tau siapa pengirim surat ancaman itu! dan Dia adalah kamu!" Bentak Rena dan air matanya terburai kembali.
"Apa bukti kamu menuduhku Rena? tega sekali kamu" Rafa mengkerutkan dahinya, melampiaskan kekesalannya pada gadis itu.
"Tidak ada satupun yang mengetahui alamat rumah pamanku, kecuali kamu! tidak ada satu pun temanku yang mengetahui kamarku
di hotel ini, kecuali kamu! Dan juga....." Belum selesai Rena berbicara, Rafa pun membentak.
"DIAM!!!!"

   Terdengar suara dari selongsong peluru tengah menghujam, kurang dari sedetik, dengan tepat peluru itu tengah menuju dahi Rena, tubuhnya tergulai lemas seperti tidak
ada lagi tulang yang menopang, wajahnya terpenuhi oleh darah segar, mengalir seperti derasnya air sungai, bibirnya masih tampak bergetar, seolah-olah Ia ingin
mengatakan sesuatu. Sebuah pistol pun terlepas dari genggaman tangan Rafa, matanya terbelalak, melihat Rena tak lagi bernyawa, terbujur kaku dan kehilangan tanda-tanda
kehidupan dari raga seorang Wanita yang selalu menyanyanginya. Perlahan, Rafa menoleh kearah belakang lalu kemudian....

"Arggghh..ghhh....ghahhhh" Tampak dari belakang, seorang pria mengenakan jubah berwarna hitam menusuknya dengan sebilah katana yang
cukup panjang.
"Re...Rena! Reeennaaa" Ucapan terakhir Rafa sebelum akhirnya, Pria berjubah hitam itu menembak tubuh Rafa berkali-kali.

   Petir menari di balik mendungnya langit, awan-awan hitam bersatu padu meruntuhkan air hujan. Sepi telah terpecah, suara gemercik mulai menghibahkan
keramaian. Sepasang burung camar terbang, mencari tempat berlindung, berbalas kicauan lalu hinggap diatas ranting, saling berdiri berdekatan.
Daun-daun berguguran terhempas oleh anak badai, udara dingin kian mencengkram kalbu, kabut tebal telah mengukir alam, bagai tirai yang di rajut oleh
kekuasaan semesta.

***

   Seorang pria tengah duduk di depan meja komputer, tangannya yang cekatan tengah sibuk menuliskan bait demi bait sebuah cerita. Di temani lagu-lagu instrumental,
Ia menutup akhir sebuah kisahnya.

"Teka-teki sebuah kertas surat dari setiap lantai, seharusnya bukanlah nama RAFA yang tertulis.
melainkan nama mu yaitu FARA. seorang kekasihku di masa lalu yang telah tiada.
selama 3 Tahun lamanya, aku sulit melupakan mu, bagiku tidak ada satupun yang mampu menggantikan mu.
tetapi, hidupku masih saja terus berlanjut, lama dan semakin lama aku mulai menyadari, biarlah aku mencoba mengikhlaskan mu
melalui cerita ini, biarkan aku menjadi sesosok Rena (Yang rapuh) sedangkan meski engkau adalah seorang wanita,
akan aku tempatkan posisimu sebagai RAFA (Yang selalu kuat dan tegar).

Biarlah sosok berjubah hitam itu ibarat takdir yang telah memisahkan kita, andai saja aku tidak terlambat menjemputmu.
mungkin peristiwa perampokan itu tidak akan pernah terjadi kepada mu. Tetapi seberapa keras pun aku menyesalinya.
kamu tidak akan pernah bisa kembali hidup, kini yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang akan selalu mengikuti langkah-langkah ku.
selamat tinggal Fara, tenanglah di alam sana...


Lodis...."

   Pria yang bernama Lodis itu pun beranjak dari meja komputer, Ia bersenandung kecil, sembari menatap bingkai foto seorang wanita.
Jeda 3 menit kemudian, Ia mematikan seluruh lampu yang berada dalam ruangan tersebut. Dan di balik pintu terdapat sebuah tulisan.

"Novelist, Lodis & Fara"


***


The End...


Original Written By.
Aghana V Idents