Minggu, 29 November 2015
"Hidup adalah sebuah Event"
Sebagai seorang penulis yang tidak pernah handal dan Sebagai seorang konsultan yang tidak pernah merasa layak untuk di sebut demikian. tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk berbagi sebuah pengalaman bukan? di sela kesibukan menggarap sebuah Novel, rasanya hari ini terlintas ingin sedikit bercerita. setelah Vakum cukup lama menanggapi sharing dan konsultasi dari sekian banyak orang.
Setidaknya ada setitik kerinduan tentang hal tersebut, maka di buatlah catatan rongsokan ini meski tidak seberapa nilainya, mohon di maklumi apabila banyak kesalahan dari kata-kata yang akan saya goreskan di sini, semoga saja menjadi bahan pemikiran untuk kita semuanya.
"hidup adalah sebuah Event" mengapa demikian? karena keadaan akan berlalu begitu cepat saat ini mungkin kita berbahagia, bisa saja esok lusa atau nanti kita harus di rundung sebuah duka tentunya kita tidak tau kapan semuanya akan terjadi. Sukses bukan berarti harus berhenti, karena Event dengan cepat akan datang dengan menakutkan siapa saja bagi yang lengah.
Sebuah pencapaian mungkin sifatnya bercabang, sekalipun itu hal yang buruk sekalipun untuk di lakukan. tentu saja, tidak selamanya "apa yang kita tanam, maka kita sendiri yang akan memetik hasilnya" bagi sebagian orang, kesadaran itu adalah urutan yang paling belakang. Meskipun kita telah sebaik mungkin untuk tidak melukai perasaan siapapun, apalah daya orang-orang yang menyakitkan selalu datang bukan? Di sini terlihat jelas bahwa tidak selamanya kita memetik hasil yang kita tanam, karena di sisi lain kita harus banyak-banyak belajar menjadi sosok yang lebih kuat untuk terus tumbuh menjadi pemilik jiwa yang lebih baik. Mungkin agar kita lebih menghargai nilai arti dari sebuah kebahagiaan ketimbang sebelumnya.
Berhenti sejenak meminum segelas kopi...
Pengalaman mengatakan bahwa "Di dalam sebuah kecintaan terhadap sesuatu, maka kenali resiko terbesarnya yaitu kehilangan" Ikhlas tidak selamanya mudah di dapatkan, entah itu karena cinta terhadap seseorang ataukah kecintaan kita di dalam sebuah Usaha yang sedang kita jalani saat ini. Apabila di dalam sebuah cinta terkadang terjadi jua pengkhianatan dan di tinggalkan, maka di sebuah usaha terdapat kebangkrutan dan penipuan. Dua hal berbeda dengan kekecewaan yang masih bisa di katakan sebanding sakitnya. Sebagai manusia biasa, saya pernah mengalami dua hal tersebut secara bersamaan, ketika kata "Ikhlas" sulit untuk singgah, saya selalu mencari alasan lain untuk menangkal semua yang telah terjad, "Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya, meski terkadang kita sebagai seorang umat selalu meninggalkan Tuhannya" Dalam kata lain, cinta yang pergi, dan usaha yang gagal, semuanya itu hanyalah rezeki yang di tanggalkan untuk menjadi sebuah peraduan tabungan di masa depan.
Kejutan tentunya memerlukan biaya atau tenaga dan pikiran bukan? Itulah yang saya maksud dengan "Tabungan di masa depan"
Menangislah jika itu perlu, marahlah apabila kita merasa tertindas namun jangan lupakan tujuan kita untuk menangis dan marah, apakah hanya untuk menumbuhkan rasa "IBA" kepada diri sendiri? semua itu hanya akan mengandung sebuah kerugian semata, jika tidak lelah pastilah menyesal, sedangkan orang-orang yang telah membuat diri kita seperti itu hanya akan tertawa seakan menjadi seorang pemenang, meski mereka tidak menyadari sebuah "posisi" yang sama, cepat atau lambat mereka akan menikmatinya juga. tujukan 2 hal itu kepada arah yang lebih manusiawi, ketika harus meneteskan air mata, jadikan satu pemikiran agar tidak terulang kembali hal yang sama untuk kedua kalinya, dan ketika "kemarahan" dengan terpaksa harus di luapkan, tunjukan bahwasannya "taring" yang kita miliki bukan untuk merobek kulit dan seisinya, melainkan untuk memperingatkan bahwa kita memliki "perasaan untuk di hargai"
Kembali berhenti menghabiskan air kopi yang masih tersisa.
Tidak usah merasa malu dengan menjadi diri sendiri "sebelangsak belangsaknya hidup seseorang, ada yang jauh lebih belangsak dari itu, ialah yang mengakui memiliki hati, tetapi selalu melakukan tipu daya kepada seseorang yang menyayanginya" kenyataan tidak perlu di ada-adakan, sederhana masih lebih mulia ketimbang melebihkan keadaan yang pada kenyataan nya memang tidak kita miliki dan semuanya akan berakhir dengan rasa malu ketika suatu saat nanti semuanya di pertanyakan kembali. "Ketika kita merasa lebih rendah dari orang lain, cukup di ketahui bahwa masih ada yang lebih rendah selalu ingin nampak lebih tinggi" merasa malu adalah hal yang wajar, pertanda kesadaran kita masih di katakan dalam tahap normal, berbanding terbalik dengan tidak memliki rasa malu "Tampak kebenaran itu selalu berpihak kepada dirinya sendiri" kala Ia berdiri di atas kekecewaan yang tengah orang lain rasakan.
TABIK.
Original Written By:
Aghana V Idents
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar