Rabu, 09 Desember 2015

"Waktunya Memahami CInta"




"Harapan, adalah setitik tanda dari keinginan terbesar manusia di dunia ini, namun semua terkadang tidak sesuai yang di inginkan, mungkin karena gagal dalam menyerah, atau kah, terhenti karena jalan yang tengah tertutup kelam dalam pekatnya kabut yang menghadang.
sadar tetap tersadar, akan tetapi pertanyaan begitu berjibaku dalam semua impian yang tersendat tak teruraikan dalam nyata, dan bergulat dalam dongeng sebelum tidur..."

polemik kehidupan niscaya akan selalu berbeda dalam setiap insan di dunia ini, dikala memiliki segalanya, namun kebahagiaan cinta dan kasih sayang tak kunjung jua di menangkan, ketiika memiliki cinta, namun ketiadaan diri mengukir kekalahan ketika nyanyian merdu oleh kasih sayang menjadi sumbang dan hambar, bagai pohon sakura yang berguguran hingga daun nya mengering dan tak tumbuh lagi.

dahsyat nya cinta, mampu mengubah segala pandangan menjadi terbalik, bahkan berubah menjadi suatu keburukun sekalipun.kita tidak tau, kapan pada akhirnya cinta itu datang untuk membahagiakan rangkaian hidup, sedangkan yang kita tahu, cinta tidak selamanya menyenangkan..

menerima kekalahan, ataukah memenangkan suatu cerita tanpa tinggi hati? keduanya pun tak mampu di benarkan, karena setiap manusia berhak mendapatkan keadilan, termasuk dari rasa kasih dan sayang kepada siapapun yang di inginkan nya, ada yang mengerti, adapula yang tidak.

ada yang jujur, ada pula yang berbohong.
ada yang setia, ada pula yang berkhianat
ada yang benar-benar, ada pula yang berpura-pura.
hal yang berat untuk di terima dengan akal, akan tetapi ini sudah menjadi sebagian dari pelengkap mengartikan cinta yang sebenarnya.
sumber kehidupan berada dari harta, sumber nyawa berada dari sebuah kasih sayang. rasio menjadi taruhan dalam berkehendak untuk melakukan salah satunya, tidak ada yang salah, karena yang salah hanyalah semata-mata terlalu yakin kepada impian yang terbangun karena sebuah keindahan.

teracuhkan, dan di hancurkan telah menjadi sebuah komite yang menyatu dalam sebuah resiko memahami arti cinta.
terkadang kemarahan adalah cara terbaik, untuk mengungkap kegundahan, terkadang pula menjadi badik yang tak mampu di benarkan.
terkadang keterbukaan adalah cara terampuh dalam menyatukan perasaan yang berbeda, seperti awan dan langit, tak mampu bersatu namun tetap bersama...

jalan salah satunya adalah "Menerima" mungkin ini yang terbaik, karena ketika usaha telah terlaksana, maka selanjutnya adalah "menerima" semua hasil dari yang telah di lakukan, uang tak bisa membeli kemenangan yang sebenarnya, tetapi sebuah pembuktian lah yang mampu memenangkan sebuah alur dalam kasih, meski harus pedih, resiko tetap saja resiko, yang harus di tanggung oleh diri sendiri, dalam mematuhi segalanya yang terjadi di dalam sebuah percintaan di bumi ini...

Thanks For reading...

Original written by:

Aghana V Idents

Minggu, 06 Desember 2015

Cinta Tidaklah Salah...





Definisi tentang Cinta tentu begitu beragam di dalam pemikiran setiap manusia.
namun sebagaimana yang telah kita ketahui, Cinta adalah sesuatu hal yang begitu indah meski terkadang menuai luka pada akhirnya.
Sudah berapa kali kah kita tengah merasakan kekecewaan yang di sebabkan oleh Cinta?
siapakah yang patut di salahkan dalam hal ini?
dia yang telah menyakitimu? ataukah dirimu sendiri yang telah salah dalam memilih?
Mari kita temukan jawaban itu bersama-sama.

Kesetiaan
"Kesetiaan adalah sesuatu hal terpenting di dalam percintaan
tanpa harus di pinta dan di janjikan, karena jika kasih sayang itu murni adanya
maka kesetiaan merupakan salah satu kunci terpenting bagi pemilik kesadaran yang selalu menghargai"
Menantikan keajaiban datang untuk mengubah seseorang yang tidak mampu "setia" kepadamu, Ibarat memungut duri di tengah hutan belantara, bukan hal yang mustahil namun harus berapa banyak waktu yang kau buang karenanya? Ini adalah kehidupan nyata, bukan drama ber-episode panjang yang penuh intrik dan berakhir kebahagiaan, pada kenyataannya, kebahagiaan itu bukanlah sesuatu hal untuk di tunggu, melainkan harus kau cari sendiri tanpa menunda hal yang sia-sia dan menutupi jalan kebahagiaan yang seharusnya telah kau gapai lebih cepat.
"Kenapa pasangan kita tidak setia?"
Penyebabnya mungkin karena dua faktor, Pertama hanya menjadikan kita sebagai pijakan sementara dan kedua, karena kesalahan diri sendiri yang tanpa di sadari.
"Kesalahan diri sendiri seperti apa yang menyebabkan pasangan kita tidak setia?"
Salah satu kesalahan kita sebagai manusia yang seringkali tidak di sadari adalah, keegoisan yang begitu tinggi untuk di redam dan terkadang sikap terlalu dingin adalah penyebabnya, maka jalan yang terbaik adalah mengakhirinya, kemudian berintropeksi diri untuk memantaskan diri sebelum kisah baru hadir kedalam kehidupan kita, tentu agar kejadian yang sama tidak lagi terulang.

Saling Memperjuangkan
"Cinta membutuhkan dua hati untuk di persatukan untuk saling berbagi kasih sayang dalam satu garis perasaan yang sama dan berjuang bersama-sama, bukan menjadikan kita sebagai budak untuk berjuang sendiri memberikan kebahagiaan, Kita artinya lebih dari satu orang, apakah pantas cinta itu berjuang sendirian demi sesuatu hal yang tidak menjamin kebahagiaan kepada kita?"
Berjuang dan memperjuangkan merupakan modal awal dari pembuktian tentang cinta, jika hanya berjuang tanpa di perjuangkan, sama seperti layaknya kita bekerja tanpa di bayar sedangkan kita membutuhkan uang untuk makan, bukan berarti harus saling menghitung apa yang telah di berikan, melainkan sejauh mana hubungan itu tumbuh menjadi lebih baik.
"Perjuangan apa yang pantas kita berikan?"
Bersama-sama menghadapi masalah dan mencarikan solusi terbaik merupakan hal yang mainstream namun sangat penting, hal ini terdengar biasa bukan? akan tetapi mampu menentukan masa depan hubungan itu sendiri. 
"Bagaimana jika kita hanya berjuang sendiri, tetapi tidak sanggup meninggalkannya karena cinta?"
Hidup merupakan suatu pilihan, maka pilihlah yang menurut kita sanggup untuk menjalaninya, jangan lupa tentang konsekuensi yang akan kita terima kelak bahwasannya berjuang sendirian itu akan menimbulkan kekecewaan dan pesakitan yang begitu hebat pada akhirnya.

Bertindak Adil


"Kita hanyalah manusia biasa, yang ingin merasakan kasih sayang ketika kita telah memberikannya, perhatian kecil dan tawa di pagi hari adalah nada yang syahdu untuk mengobati kegusaran, andai saja kita tercipta sebagai robot yang di perbudak tanpa terawat, sudah pasti banyak komponen yang akan cepat rusak, ketahuilah kita hanya segumpal darah dan daging, memiliki perasaan dan hati, tidak selamanya kita mampu tegak berdiri, terkadang kita membutuhkan keadilan dalam saling mengasihi satu sama lain"
Saling memberikan perhatian, saling memberikan kepercayaan dan saling menjaga perasaan satu sama lain, adalah hal yang wajar di dalam suatu hubungan, namun tidak sedikit yang MERASA telah mampu melaksanakannya, terkadang tingkat "Ego" yang tinggi seakan-akan telah memberikan segalanya dan menimbulkan permasalahan di lain waktu, karena merasa telah "Benar" bersikap adil dalam memberikan kasih sayang, meski "kebenaran" bukan hanya di tentukan oleh satu pihak semata.
"Apakah maksud dari bertindak adil di dalam percintaan itu?"
Cinta tidak harus terbukti oleh kata-kata, cinta juga tidak harus terlihat dengan bersikap, dan lagi-lagi cinta tidak memerlukan sanjungan maupun perhatian, meski kita mengetahui manusia tidaklah "Sedingin" itu, kita bukanlah sebuah mesin yang terbuat karena otoriter, melainkan memiliki hati dan perasaan yang tentunya membutuhkan "Saling berbagi" jika memang memiliki perasaan yang sama.
"Bagaimana caranya agar pasangan mampu mengerti perasaan kita?"
Ungkapkan dengan tenang dan perlahan, jangan lupa lampirkan kesabaran di dalamnya karena sebuah proses perubahan diri tidaklah secepat kita mengedipkan mata,
Hingga sampai kepada hati yang telah mulai lelah, maka keputusan itu akan muncul dengan sendirinya, tidaklah penting mengungkapkan alasan kepada yang tidak ingin memahami, karena yang terpenting adalah merawat "Hati" kita agar tidak timbul rasa ingin membalas.

***
3 hal diatas mungkin sudah tidak asing bagi kita yang telah mengarungi perjalanan dalam kisah cinta yang berbeda-beda, seringkali terucap kata kebencian dan umpatan terlontarkan begitu saja ketika pasangan kita lebih memilih untuk mengakhiri sebuah hubungan, andai kita meneliti lebih jauh, tentu saja pasangan kita memiliki alasan tersendiri yang mungkin saja semua itu karena sikap kita yang tidak ingin mengerti selain hanya ingin di mengerti semata.
Kejujuran merupakan sesuatu hal yang sering kita tuntut kepada pasangan kita, tetapi tidak sedikit kita seringkali berbohong, walaupun bagi kita itu adalah hal yang "Biasa" percayalah, bagi pasangan kita belum tentu menjad hal yang harus di "Maklumi" secara terus menerus, cinta bukanlah memperlakukan seseorang seperti budak, melainkan cinta adalah sesuatu hal yang keterkaitan satu sama lain, layaknya kanvas dan pena untuk melukiskan sebuah keindahan bersama-sama.
Ketika kita berani menuntut sebuah kesempurnaan, maka kita pun harus siap untuk di "Tagih" oleh pasangan kita suatu saat nanti, bagaima pun juga cinta adalah pembelajaran, apabila kita hanya bisa menuntut tanpa bisa "Mengkaji" diri, maka sudah pasti keegoisan akan menjamin kehancuran di akhir cerita.
Dengan keterbukaan satu sama lain, kita dapat melatih bagaimana caranya memahami perasaan dari pasangan kita, tidak selamanya berdiam diri itu baik, terkadang kita harus berani mengemukakan suatu masalah atau kekecewaan kemudian memperbaiki semua itu secara bersama-sama, hingga dapat terangkainya satu jalinan kasih yang semakin kuat tanpa harus saling menjatuhkan.. 
"Jangan pernah menyalahkan cinta yang telah hadir dalam hidup, apabila mematahkan kembali hatimu untuk kesekian kali
terkadang semua itu harus terjadi untuk membatasi kesalahan yang selalu terulang, hingga alam telah meminta kepadamu
agar bergegas menyadari sebelum hatimu jauh lebih terluka dari sebelumnya..."



Tabik.



Original Written By:
Aghana V Idents

Rabu, 02 Desember 2015

Cerpen LDR: Long Destruction Relationship (Based On The true Stor)




"jangan pernah menumbuhkan sebuah kepercayaan kepada orang lain, bila pada akhirnya semua itu hanyalah karangan yang dirangkai sebegitu hebatnya. akan tetapi begitu mudah untuk menghancurkannya. kita tidak akan mengetahui seberapa dalam seseorang menyimpan sebuah kekecewaan meski dianggap hanya seukuran lubang jarum besarnya sebuah kesalahan yang telah di perbuat. ingatlah, sebesar apapun luka itu, mengembalikannya agar nampak utuh kembali, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk di lakukan"

Sebut saja nama ku Ryan, kejadian yang tidak dapat aku lupakan itu berawal sejak 2 Tahun yang lalu, dengan tidak sengaja saat aku membuka facebook, seorang wanita yang cukup cantik meminta pertemanan kepada akun Facebook ku. Ia bernama Lena, terpaut 1 tahun lebih muda dariku. setelah aku konfirmasi akun Facebooknya, Lena tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku, meski akun nya tampak berwarna hijau menyala di dalam chat list yang menandakan Ia tengah online.

Sekitar 2 hari setelahnya, saat update status yang mengungkapkan tentang patah hati, terlihat di dalam notif,

akun yang bernama Lena Ser******a telah mengomentari status yang aku buat. bukaan sapaan manis yang aku dapat, dengan ketusnya Ia berkata.

"Jadi cowok jangan cengeng, single aja lemah, gimana nanti kalau rumah tangga"

Jelas aku tersinggung karenanya, tanpa membalas komentar, aku langsung menghapus status update tersebut. tidak puas telah memberikan komentar pedasnya, lantas Lena pun mengirimkan sebuah pesan pribadi kepdaku, Dan dengan tidak lebih lembut dari sebelumnya, Ia mengatakan kepadaku.

"Kenapa boy status tadi di hapus? malu ya?" Karena merasa kesal, kemudian aku pun membalas pesannya. "Bukan urusan mu, urus saja dirimu sendiri" "Oh gitu ya, maaf deh bukan maksud untuk menyinggung, tapi gue emang geli liat cowok cengeng, apalagi yang sok-sok an menderita, mau cewek atau cowok pasti muak deh gue" Balasnya padaku. "Kamu siapa sih? tau darimana Facebook aku?" "Tenang, gue cuman iseng aja kok, eh udah dulu ya, gue mau off, bye bye penggalau" Ledek Lena

"Entah mimpi apa aku semalam, baru kali ini aku bertemu seorang wanita seperti dia, Aneh!" Kataku dalam hati Seminggu berlalu, tidak sengaja aku melihat update status dari Lena yang terpampang di beranda. Sedikit lupa yang Ia tuliskan, pada intinya Ia mengungkapkan kekecewaan kepada seseorang, sedikit kasar memang, kata-kata terakhir

di statusnya Ia menuliskan.

"Mati saja sekalian lu!"

Sontak saja aku tertawa setelah membaca statusnya, pikirku mungkin saatnya kini aku membalas ucapannya yang terdahulu, membuka kolom komentar di statusnya, kemudian aku langsung menuliskan "Ingat loh, mendoakan orang lain, berarti mendoakan diri sendiri juga" . klik "Send". Selang beberapa menit, Ia membalas komentar dariku, sialnya Ia hanya membalas dengan sebuah emoticon tertawa saja. Gondok bukan kepalang, tadinya aku kira Lena akan tersinggung atau marah, nyatanya Ia hanya membalasku dengan santai.

Ketika akan log out dari akun Facebook ku, suara chat pun berbunyi, dengan segera aku membukanya, ternyata Lena mengirimkan sebuah pesan pribadi kepadaku. Berbeda dari sebelumnya, Ucapannya saat ini tidak seketus seperti awal-awal Ia berbicara padaku, Lena meminta maaf atas perkataannya yang dahulu sempat membuatku tersinggung. Aku pun memaafkannya, karena aku rasa percuma memperpanjang masalah dengan seseorang yang baru saja aku kenal di dunia maya.

Hari demi hari, aku semakin dekat dengannya, kami sering bertegur sapa, entah itu lewat sebuah komentar atau saling mengirimkan sebuah pesan pribadi. Satu waktu Lena mengungkapkan sesuatu yang cukup membuatku sedikit terkejut, Ia berkata bahwa dirinya merasa nyaman berbincang bersamaku, jujur saja, aku pikir ini sebuah pertanda darinya, agar aku mengajaknya bertemu dan supaya kami bisa lebih saling mengenal. Tanpa pikir panjang, aku langsung bertanya tempat tinggalnya berada. Lemas rasanya, saat Ia mengatakan bahwa tempat tinggalnya berbeda pulau denganku. timbul seketika rasa malas untuk mendekatinya kembali.

Sebulan sudah kami saling mengenal, Lena berhasil meluluhkan jarak yang memang terpaut sangat jauh. Ia mungkin adalah wanita yang sangat baik meskipun ucapannya seringkali seenak hatinya. Tetapi Ia selalu memastikan ku bahwa jauhnya sebuah jarak, bukanlah suatu pembatas bagi sebuah insan untuk di persatukan, apabila mampu untuk saling memperjuangkan satu sama lain. Sedikit merasa Dilemma antara yakin dan tidak, akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan cinta kepadanya, meski terdengar konyol karena kami belum pernah saling berjumpa satu sama lain, Why not? lagi pula aku masih single, maka tidak ada salahnya untuk mencoba.

Dua minggu sudah kami berhubungan sebagai pasangan kekasih, Aku sering menghubunginya di malam hari, terkadang juga kami berbincang hingga dini hari. "Tidak buruk juga, LDR itu, cukup mengasyikan, ada teman sepi untuk di ajak berbincang" Pikirku saat itu. atas saran dari seorang teman, aku mulai menguji ketulusan Lena dalam mecintaiku, tepatnya pada hari sabtu malam, aku mengatakan kepadanya bahwa aku bukanlah anak dari keluarga baik-baik, Ayah dan Ibuku bercerai, setelah Ayah menikah lagi, tak lama kemudian Ibu pun pergi meninggalkan ku seorang diri, dan aku jujur kepadanya bahwa selama ini aku tengah tinggal di rumah pamanku, sedari beberapa tahun yang lalu. Dengan tenang Lena berkata.

"Aku tidak peduli seberapa buruk latar belakang dari keluargamu, karena yang aku mau, kamu pun bisa dengan tulus menerima keadaan ku yang memang apa adanya sepertimu"

Tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan dari Lena tersebut, hanya terkagum penuh harap di dalam hati. Tak terasa telah berjalan sekitar 2 bulan, aku menjanjikan sesuatu kepada Lena, sekitar 4 bulan lagi aku akan menemuinya dan akan berkerja di kota yang sama dengannya. Lena begitu bahagia mendengar kabar itu, beberapa kali Ia mengatakan "Aku siap menantikan kedatanganmu".

***

Sudah dua minggu lebih aku di terima bekerja di sebuah perusahaan yang cukup mumpuni, seiring kesibukanku yang kiat meningkat mengejar dead line, Aku dan Lena menjadi jarang untuk saling berkomunikasi, namun Lena tidak pernah begitu mempermasalahkan hal ini, Ia selalu mengerti dengan keadaanku saat ini. Suatu hari ketika aku sedang makan di sebuah kantin, tidak sengaja aku bertemu dengan teman lamaku semasa SMP, Ia yang bernama Rima, nampak sangat berbeda dan jauh lebih cantik ketimbang saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Kami saat itu berbincang cukup lama, Rima meminta nomor ponselku dan aku pun langsung memberikan kepadanya, karena waktu istrahat telah habis, aku berpamitan kepadanya dan lekas kembali ke kantorku. Di sela kesibukanku bekerja, Lena selalu mengingatkanku untuk makan ataupun beristirahat sejenak, meskipun smsnya jarang aku balas, tetapi Ia tidak pernah marah kepadaku, sungguh baik hatinya dan mungkin saja kasih sayangnya belum ada yang menandingi di dalam kehidupanku. Tidak ada satupun yang tau isi hati manusia, semakin lama aku dekat dengan Rima, tumbuh setetes demi setetes cinta yang tidak seharusnya ada untuk wanita yang lain.

Bagai menopang ombak setinggi langit, perasaanku kepada Rima tidak dapat lagi aku pungkiri, disinilah aku mulai membohongi dua orang wanita yang seharusnya aku sayangi tanpa adanya sebuah pengkhianatan. Setiap malam harinya, aku berlaku seperti biasa kepada Lena, bahkan aku selalu menghubunginya VIA ponsel. Rasanya ingin

sekali mengakhiri hubunganku bersamanya, karena rasa bersalah yang tidak bisa aku hindari secara terus menerus. Saat aku mulai memberanikan diri untuk berkata "putus" kepadanya, Tiba-tiba saja Ia berkata.

"Demi Tuhan, aku sudah sayang sama kamu, aku ingin sekali kamu menjadi yang terakhir, dan menjadi pedampingku selamanya, apakah kamu pun berharap begitu? jikalau kelak takdir mempertemukan kita berdua?" Ucap Lena yang seketika membuatku terdiam beberapa saat.

"Kenapa kamu bisa begitu yakin kepadaku? apakah kamu yakin aku pantas untuk mu?" Kataku

"Entahlah aku bingung dengan semua ini, jika aku berkata "Kita belum pernah berjumpa secara langsung" tetapi perasaan dari dalam hati tidak bisa aku bohongi! jujur, aku sudah capek untuk jatuh cinta lagi, kehidupanku sama seperti mu, maka apapun kekurangan kamu pasti akan aku terima! walaupun aku harus hidup susah, tidaklah mengapa, yang terpenting bagiku, kamu serius menjalani semuanya bersamaku" Balasnya padaku

Keberanianku kembali menciut, layaknya obor yang tersiram oleh air, hatiku semakin tak kuat untuk menyakitinya, ucapan yang baru saja Lena katakan, begitu menggampar keras dengan telak di wajahku."Bagaimana bisa aku meninggalkannya? sedangkan Rima bagaimana? Ia juga pacarku saat ini" ucapku dalam hati usai menghubungi Lena. Entah setan apa yang berada dalam jiwaku, perasaanku berputar 180 drajat kepada Lena, aku terus memikirkan sebuah cara agar Ia tidak mencintai dan tidak lagi berharap dengan kedatanganku. Demi Rima, wanita lain yang aku cintai.

Ide paling bodohpun akhirnya harus aku lakukan, aku berpura-pura mengakui kepada Lena, bahwa aku memiliki penyakit kanker dan jantung yang tentunya bisa kapan saja merenggut nyawa Sang pemiliknya. Waktu itu aku sengaja 2 hari tidak pernah membalas pesan singkat darinya, hingga pada saat aku akan pergi kencan bersama Rima, Lena menguhubungi ku beberapa kali namun tidak aku angkat, lalu aku berpura-pura menjadi orang lain, bisa di katakan aku menyamar menjadi temanku dan mengirimkan sms kepadanya yang mengatakan.

"Maaf saya temanny Ryan, ponselnya di titipkan kepada saya, karena Dia sedang di rawat di rumah sakit" Langsung saja aku kirim sms tersebut "Di rumah sakit? memangnya Ryan sakit apa tolong ceritakan!!!" balas Lena "Memangnya kamu tidak tau? Ryan memiliki penyakit kanker otak dan jantungnya pun lemah dan rentan" "Ya Tuham! aku tidak tau sama sekali!! dia di rawat dimana? aku ingin kesana, tetapi mungkin aku butuh waktu!"

"Mohon Maaf saya hanya di amanatkan untuk menyampaikan keadaannya saja, nanti jika dokter sudah mengijinkan, saya akan kabari kepada Ryan" Timpalku padanya

Ia pun tak menjawabnya, tidak bisa aku pungkiri, perasaan bersalahku kian membebani, tetapi semua itu aku lakukan untuk mengusirnya secara halus tanpa harus mengatakan ucapan perpisahan kepadanya. Tadinya aku kira Ia tidak akan menghubungiku dalam beberapa hari kedepan, kenyataannya di setiap hari, Lena selalu menanyakan kabarku dan aku semakin tidak tahan untuk melakukan penyamaran agar bisa menghindarinya. Akhirnya aku putuskan untuk kembali menjadi diriku sendiri kemudian memberikan kabar kepadanya bahwa keadaanku sudah mulai membaik.

***

Mekipun Ia mengetahui aku mempunyai penyakit kanker di dalam kebohongan yang aku ciptakan sendiri, Lena selalu menerima keadaanku, tanpa mengurangi harapannya agar bisa berjumpa denganku dan menjalin hubungan ini hingga ke jenjang pernikahan. Seakan telah kehilangan akal, aku milih untuk menjalani hubungan bersama nya dalam kepura-puraan semata. Singkat cerita, Waktu yang telah aku janjikan pun tiba. Esok hari, seharusnya aku datang menepati janjiku untuk menemuinya, tetapi kesalahanku dalam menjaga sebuah kesetiaan itu telah gagal, aku tidak bisa meninggalkan Rima, karena Ia telah mengisi hari-hariku di dunia yang begitu nyata.

Dari mulai sebelum tidur, telpon genggamku sudah aku matikan, sengaja aku lakukan untuk menghindar dari pertanyaan yang akan Lena ajukan kepadaku tentang janji-janji yang pernah aku katakan kepadanya. Besoknya sekitar pukul satu dini hari, aku menyalakan kembali ponselku dan benar saja, sekitar 30 pesan lebih dari Lena tengah menyambut kecemasanku saat itu. Entah memang takut atau merasa bersalah, aku tidak berani membalas pesan singkat darinya. Saat aku membuka akun Facebook ku, ternyata Lena pun mengirimkan pesan pribadi. berkali-kali Ia menanyakan "Kamu kemana? bukankah seharusnya hari ini kamu bersamaku? kenapa kamu menghilang?"

Tidak bisa aku tutupi, hatiku serasa teriris membaca semua pesan darinya, aku memang biadab telah membuat seseorang menyimpan harapan yang begitu besar kepadaku. dengan sisa keberanian yang masih aku miliki, aku memutuskan untuk membalas pesannya, dan mengatakan kebohongan kembali kepadanya, bahwa...

"Sebenarnya aku memang sudah berada di kotamu, walau dahulu jarak yang memisahkan kita dan meskipun saat ini jarak sudah tidak lagi menjadi sebuah halangan. semua itu tidak akan merubah keadaan, maafkan aku Lena"

Sekitar beberapa menit, Lena pun membalasnya, entah berapa banyak Ia membalas satu pesan sms dariku yang jelas, Ia begitu marah kepadaku, bahkan Ia mencaci maki semua sikapku kepadanya selama ini, Namun tidak selintas sedikitpun untuk berbalik marah kepadanya, karena meskipun begitu aku masih bisa menyadari, semua ini adalah kesalahan terbesarku telah melambungkan impian yang begitu tinggi kepadanya untuk di hancurkan kembali hingga tak tersisa. Masih teringat satu pesan darinya yang cukup membuatku merasa menjadi manusia yang paling keji diantara manusia lainnya.

"Kenapa tidak sedari awal kamu mengakhiri hubungan ini dengan cara yang sangat hina! mengapa harus membuatku menunggu terlebih dahulu dengan waktu yang tidak singkat ini!! apa karena aku tidak seindah orang lain? ataukah karena aku tidak berharta seperti orang lain? untuk itu kamu merasa PANTAS MELAKUKAN SEMUA INI KEPADAKU??? harapan dan janji yang telah kamu berikan hanya menjadi seonggok kotoran yang kamu rangkai sendiri!"

"Aku memang tidak selembut seperti orang lain, bahkan aku pun merasa bahwa tidak ada yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri!! Tetapi lihatlah cermin, kamu yang bernada selalu lembut dan tampak lebih berpendidikan dariku! kenyataannya hatimu lebih RUSAK dariku! tidak kah engkau malu sedikitpun dengan kecerdasaan yang kamu miliki? ternyata kepintaranmu hanya untuk mendustai hati orang lain!!!"

"Entah berapa banyak kebohongan yang kamu lakukan dan selalu aku maklumi! tetapi kali ini maaf, aku tidak bisa memaklumi kembali! baiklah, aku akan pergi selamanya dari hidupmu! karena aku memang tidak pernah di pantaskan denganmu! Semoga kelak kamu akan merasakan hal yang sama, agar tidak ada orang lain lagi yang bernasib sama denganku karena sikapmu!!! Farewell, Good Bye!!"

***

3 Bulan setelah kejadian itu, rasa bersalahku masih tetap kokoh bersemayam. Tetapi di sisi lain, aku sudah kehilangan harga diri untuk meminta maaf kepadanya. Ucapan adalah sebuah doa, mungkin itu memang benar, menginjak setengah Tahun aku jatuh sakit dan ternyata setelah di diagnosis oleh dokter ternyata aku mengidap sebuah penyakit kanker tingkat 2. Aku begitu terpukul mendengar kenyataan yang terjadi kepadaku saat itu. Kehidupanku pun seakan di kelilingi awan hitam yang tidak pernah hujan dan terus meninggalkanku di dalam kegelapan nya.

Bahkan yang aku kira Rima adalah seseorang yang tepat untuk mendampingi hidupku, setelah mengetahui aku mengidap sebuah penyakit kanker, Ia perlahan menghindar dariku dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah, aku tidak dendam kepadanya, karena bagiku mungkin ini adalah sebuah harga yang cukup pantas untuk membayar semua sikapku di masa lalu kepada Lena. Sebelum keadaanku semakin memburuk, aku ingin meminta maaf kepada Lena dan akhirnya aku memilih untuk mengunjunginya secara langsung. Untungnya, alamat rumah yang pernah Lena berikan kepadaku, masih aku simpan di pesan konsep yang berada dalam ponselku.

Setibanya disana, ternyata Lena sudah tidak lagi menempati rumah tersebut, aku mencari informasi tentang keberadaan dari Lena melalui beberapa orang tetangganya. sempat berpatah arang, setelah cukup banyak orang yang aku tanyai, hasilnya tetap saja nihil, tidak ada satupun yang mengetahui kepindahan Lena beserta keluarganya. Tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku, seorang wanita paruh baya menghampiriku dan mengatakan keberadaan Lena saat ini. Tanpa berpikir lama, aku langsung pergi menuju kediamannya.

Sebelum masuk kedalam sebuah gang, tidak sengaja aku melihat seorang pedagang gorengan yang sedang ramai di kunjungi oleh para pembeli. ketika aku mulai mendekat, ternyata Sang penjual gorengan itu adalah seorang wanita, tidak salah lagi Ia adalah Lena, bahkan setelah beberapa kali aku memastikan wajahnya dengan melihat foto Lena yang masih tersimpan di gallery ponselku dan benar saja Ia adalah benar-benar Lena yang dulu pernah aku kenal. Seketika hatiku mulai menciut melihat kenyataan yang kini berada di hadapanku. Lena, memang seorang wanita yang sangat baik, meski Ia begitu cantik, tampak di raut wajahnya, tidak sedikitpun Ia merasa malu menjadi seorang penjual gorenngan.

Aku mencoba memberanikan diri untuk menghampirinya, saat satu persatu pembeli mulai beranjak pergi, bibirku semakin terkunci, rasanya tidak sanggup berkata apapun, meski hanya sekedar untuk meminta maaf sekalipun. Tanpa sadar, Lena memanggilku berkali-kali...

"Ma..Maaf mas mau beli apa ya?" Tanya Lena padaku "Beli 10 aja, campur ya mbak" jawabku dengan perasaan yang sangat lirih.

Lena tidak lagi mengenaliku, hilang sudah keberanianku untuk meminta maaf kepadanya, namun aku merasa bahagia meski hanya sekedar menjadi seorang "penjual dan pembeli" setidaknya aku telah mengetahui secara langsung, bahwa Lena bukanlah seorang pemain drama di dunia maya, ternyata apa yang telah di katakannya kepadaku tentang semua keadaannya bukanlah sebuah rekayasa, melainkan sebuah kenyataan yang telah terbukti oleh mata kepalaku sendiri. Air mata kian memaksa, seakan ingin segera keluar untuk menumpahkan segala perasaanku saat itu, Belum sempat Lena mengambil uang kembalian, Aku pun beranjak pergi meninggalkannya.

"Mas! Mas ini kembaliannya mas!" Teriak Lena padaku, dan tanpa menoleh aku pun menjawabnya "Ambil saja kembaliannya buat kamu, aku sedang terburu-buru" Seraya melambaikan tangaku padanya.

"Selamat tinggal Lena, maafkan aku, akhirnya kelak aku bisa pergi dengan tenang, karena aku bisa melihat wajahmu yang begitu cantik, dan hatimu yang begitu bersih. terima kasih telah mengajarkan aku tentang arti dari apa adanya yang sebenar-benarnya, semoga kelak, engkau mendapatkan seorang pedamping yang sangat baik dan mampu membuatmu tersenyum bahagia, tidak sepertiku, yang terlihat berkelas tetapi kotor di dalamnya seperti yang pernah kamu ucapkan padaku..." Kataku dalam hati dan membiatkan air mata itu menghujami pipiku, banyak orang yang melihatku dengan penuh keheranan, namun aku tidak peduli, karena rasa bersalahku kepada Lena jauh lebih besar dari rasa malu yang masih tersisa.

TAMAT

Original Written By:
Aghana V Idents
Narasumber kisah nyata: "Di rahasiakan"