Rabu, 02 Desember 2015
Cerpen LDR: Long Destruction Relationship (Based On The true Stor)
"jangan pernah menumbuhkan sebuah kepercayaan kepada orang lain, bila pada akhirnya semua itu hanyalah karangan yang dirangkai sebegitu hebatnya. akan tetapi begitu mudah untuk menghancurkannya. kita tidak akan mengetahui seberapa dalam seseorang menyimpan sebuah kekecewaan meski dianggap hanya seukuran lubang jarum besarnya sebuah kesalahan yang telah di perbuat. ingatlah, sebesar apapun luka itu, mengembalikannya agar nampak utuh kembali, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk di lakukan"
Sebut saja nama ku Ryan, kejadian yang tidak dapat aku lupakan itu berawal sejak 2 Tahun yang lalu, dengan tidak sengaja saat aku membuka facebook, seorang wanita yang cukup cantik meminta pertemanan kepada akun Facebook ku. Ia bernama Lena, terpaut 1 tahun lebih muda dariku. setelah aku konfirmasi akun Facebooknya, Lena tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku, meski akun nya tampak berwarna hijau menyala di dalam chat list yang menandakan Ia tengah online.
Sekitar 2 hari setelahnya, saat update status yang mengungkapkan tentang patah hati, terlihat di dalam notif,
akun yang bernama Lena Ser******a telah mengomentari status yang aku buat. bukaan sapaan manis yang aku dapat, dengan ketusnya Ia berkata.
"Jadi cowok jangan cengeng, single aja lemah, gimana nanti kalau rumah tangga"
Jelas aku tersinggung karenanya, tanpa membalas komentar, aku langsung menghapus status update tersebut. tidak puas telah memberikan komentar pedasnya, lantas Lena pun mengirimkan sebuah pesan pribadi kepdaku, Dan dengan tidak lebih lembut dari sebelumnya, Ia mengatakan kepadaku.
"Kenapa boy status tadi di hapus? malu ya?" Karena merasa kesal, kemudian aku pun membalas pesannya. "Bukan urusan mu, urus saja dirimu sendiri" "Oh gitu ya, maaf deh bukan maksud untuk menyinggung, tapi gue emang geli liat cowok cengeng, apalagi yang sok-sok an menderita, mau cewek atau cowok pasti muak deh gue" Balasnya padaku. "Kamu siapa sih? tau darimana Facebook aku?" "Tenang, gue cuman iseng aja kok, eh udah dulu ya, gue mau off, bye bye penggalau" Ledek Lena
"Entah mimpi apa aku semalam, baru kali ini aku bertemu seorang wanita seperti dia, Aneh!" Kataku dalam hati Seminggu berlalu, tidak sengaja aku melihat update status dari Lena yang terpampang di beranda. Sedikit lupa yang Ia tuliskan, pada intinya Ia mengungkapkan kekecewaan kepada seseorang, sedikit kasar memang, kata-kata terakhir
di statusnya Ia menuliskan.
"Mati saja sekalian lu!"
Sontak saja aku tertawa setelah membaca statusnya, pikirku mungkin saatnya kini aku membalas ucapannya yang terdahulu, membuka kolom komentar di statusnya, kemudian aku langsung menuliskan "Ingat loh, mendoakan orang lain, berarti mendoakan diri sendiri juga" . klik "Send". Selang beberapa menit, Ia membalas komentar dariku, sialnya Ia hanya membalas dengan sebuah emoticon tertawa saja. Gondok bukan kepalang, tadinya aku kira Lena akan tersinggung atau marah, nyatanya Ia hanya membalasku dengan santai.
Ketika akan log out dari akun Facebook ku, suara chat pun berbunyi, dengan segera aku membukanya, ternyata Lena mengirimkan sebuah pesan pribadi kepadaku. Berbeda dari sebelumnya, Ucapannya saat ini tidak seketus seperti awal-awal Ia berbicara padaku, Lena meminta maaf atas perkataannya yang dahulu sempat membuatku tersinggung. Aku pun memaafkannya, karena aku rasa percuma memperpanjang masalah dengan seseorang yang baru saja aku kenal di dunia maya.
Hari demi hari, aku semakin dekat dengannya, kami sering bertegur sapa, entah itu lewat sebuah komentar atau saling mengirimkan sebuah pesan pribadi. Satu waktu Lena mengungkapkan sesuatu yang cukup membuatku sedikit terkejut, Ia berkata bahwa dirinya merasa nyaman berbincang bersamaku, jujur saja, aku pikir ini sebuah pertanda darinya, agar aku mengajaknya bertemu dan supaya kami bisa lebih saling mengenal. Tanpa pikir panjang, aku langsung bertanya tempat tinggalnya berada. Lemas rasanya, saat Ia mengatakan bahwa tempat tinggalnya berbeda pulau denganku. timbul seketika rasa malas untuk mendekatinya kembali.
Sebulan sudah kami saling mengenal, Lena berhasil meluluhkan jarak yang memang terpaut sangat jauh. Ia mungkin adalah wanita yang sangat baik meskipun ucapannya seringkali seenak hatinya. Tetapi Ia selalu memastikan ku bahwa jauhnya sebuah jarak, bukanlah suatu pembatas bagi sebuah insan untuk di persatukan, apabila mampu untuk saling memperjuangkan satu sama lain. Sedikit merasa Dilemma antara yakin dan tidak, akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan cinta kepadanya, meski terdengar konyol karena kami belum pernah saling berjumpa satu sama lain, Why not? lagi pula aku masih single, maka tidak ada salahnya untuk mencoba.
Dua minggu sudah kami berhubungan sebagai pasangan kekasih, Aku sering menghubunginya di malam hari, terkadang juga kami berbincang hingga dini hari. "Tidak buruk juga, LDR itu, cukup mengasyikan, ada teman sepi untuk di ajak berbincang" Pikirku saat itu. atas saran dari seorang teman, aku mulai menguji ketulusan Lena dalam mecintaiku, tepatnya pada hari sabtu malam, aku mengatakan kepadanya bahwa aku bukanlah anak dari keluarga baik-baik, Ayah dan Ibuku bercerai, setelah Ayah menikah lagi, tak lama kemudian Ibu pun pergi meninggalkan ku seorang diri, dan aku jujur kepadanya bahwa selama ini aku tengah tinggal di rumah pamanku, sedari beberapa tahun yang lalu. Dengan tenang Lena berkata.
"Aku tidak peduli seberapa buruk latar belakang dari keluargamu, karena yang aku mau, kamu pun bisa dengan tulus menerima keadaan ku yang memang apa adanya sepertimu"
Tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan dari Lena tersebut, hanya terkagum penuh harap di dalam hati. Tak terasa telah berjalan sekitar 2 bulan, aku menjanjikan sesuatu kepada Lena, sekitar 4 bulan lagi aku akan menemuinya dan akan berkerja di kota yang sama dengannya. Lena begitu bahagia mendengar kabar itu, beberapa kali Ia mengatakan "Aku siap menantikan kedatanganmu".
***
Sudah dua minggu lebih aku di terima bekerja di sebuah perusahaan yang cukup mumpuni, seiring kesibukanku yang kiat meningkat mengejar dead line, Aku dan Lena menjadi jarang untuk saling berkomunikasi, namun Lena tidak pernah begitu mempermasalahkan hal ini, Ia selalu mengerti dengan keadaanku saat ini. Suatu hari ketika aku sedang makan di sebuah kantin, tidak sengaja aku bertemu dengan teman lamaku semasa SMP, Ia yang bernama Rima, nampak sangat berbeda dan jauh lebih cantik ketimbang saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Kami saat itu berbincang cukup lama, Rima meminta nomor ponselku dan aku pun langsung memberikan kepadanya, karena waktu istrahat telah habis, aku berpamitan kepadanya dan lekas kembali ke kantorku. Di sela kesibukanku bekerja, Lena selalu mengingatkanku untuk makan ataupun beristirahat sejenak, meskipun smsnya jarang aku balas, tetapi Ia tidak pernah marah kepadaku, sungguh baik hatinya dan mungkin saja kasih sayangnya belum ada yang menandingi di dalam kehidupanku. Tidak ada satupun yang tau isi hati manusia, semakin lama aku dekat dengan Rima, tumbuh setetes demi setetes cinta yang tidak seharusnya ada untuk wanita yang lain.
Bagai menopang ombak setinggi langit, perasaanku kepada Rima tidak dapat lagi aku pungkiri, disinilah aku mulai membohongi dua orang wanita yang seharusnya aku sayangi tanpa adanya sebuah pengkhianatan. Setiap malam harinya, aku berlaku seperti biasa kepada Lena, bahkan aku selalu menghubunginya VIA ponsel. Rasanya ingin
sekali mengakhiri hubunganku bersamanya, karena rasa bersalah yang tidak bisa aku hindari secara terus menerus. Saat aku mulai memberanikan diri untuk berkata "putus" kepadanya, Tiba-tiba saja Ia berkata.
"Demi Tuhan, aku sudah sayang sama kamu, aku ingin sekali kamu menjadi yang terakhir, dan menjadi pedampingku selamanya, apakah kamu pun berharap begitu? jikalau kelak takdir mempertemukan kita berdua?" Ucap Lena yang seketika membuatku terdiam beberapa saat.
"Kenapa kamu bisa begitu yakin kepadaku? apakah kamu yakin aku pantas untuk mu?" Kataku
"Entahlah aku bingung dengan semua ini, jika aku berkata "Kita belum pernah berjumpa secara langsung" tetapi perasaan dari dalam hati tidak bisa aku bohongi! jujur, aku sudah capek untuk jatuh cinta lagi, kehidupanku sama seperti mu, maka apapun kekurangan kamu pasti akan aku terima! walaupun aku harus hidup susah, tidaklah mengapa, yang terpenting bagiku, kamu serius menjalani semuanya bersamaku" Balasnya padaku
Keberanianku kembali menciut, layaknya obor yang tersiram oleh air, hatiku semakin tak kuat untuk menyakitinya, ucapan yang baru saja Lena katakan, begitu menggampar keras dengan telak di wajahku."Bagaimana bisa aku meninggalkannya? sedangkan Rima bagaimana? Ia juga pacarku saat ini" ucapku dalam hati usai menghubungi Lena. Entah setan apa yang berada dalam jiwaku, perasaanku berputar 180 drajat kepada Lena, aku terus memikirkan sebuah cara agar Ia tidak mencintai dan tidak lagi berharap dengan kedatanganku. Demi Rima, wanita lain yang aku cintai.
Ide paling bodohpun akhirnya harus aku lakukan, aku berpura-pura mengakui kepada Lena, bahwa aku memiliki penyakit kanker dan jantung yang tentunya bisa kapan saja merenggut nyawa Sang pemiliknya. Waktu itu aku sengaja 2 hari tidak pernah membalas pesan singkat darinya, hingga pada saat aku akan pergi kencan bersama Rima, Lena menguhubungi ku beberapa kali namun tidak aku angkat, lalu aku berpura-pura menjadi orang lain, bisa di katakan aku menyamar menjadi temanku dan mengirimkan sms kepadanya yang mengatakan.
"Maaf saya temanny Ryan, ponselnya di titipkan kepada saya, karena Dia sedang di rawat di rumah sakit" Langsung saja aku kirim sms tersebut "Di rumah sakit? memangnya Ryan sakit apa tolong ceritakan!!!" balas Lena "Memangnya kamu tidak tau? Ryan memiliki penyakit kanker otak dan jantungnya pun lemah dan rentan" "Ya Tuham! aku tidak tau sama sekali!! dia di rawat dimana? aku ingin kesana, tetapi mungkin aku butuh waktu!"
"Mohon Maaf saya hanya di amanatkan untuk menyampaikan keadaannya saja, nanti jika dokter sudah mengijinkan, saya akan kabari kepada Ryan" Timpalku padanya
Ia pun tak menjawabnya, tidak bisa aku pungkiri, perasaan bersalahku kian membebani, tetapi semua itu aku lakukan untuk mengusirnya secara halus tanpa harus mengatakan ucapan perpisahan kepadanya. Tadinya aku kira Ia tidak akan menghubungiku dalam beberapa hari kedepan, kenyataannya di setiap hari, Lena selalu menanyakan kabarku dan aku semakin tidak tahan untuk melakukan penyamaran agar bisa menghindarinya. Akhirnya aku putuskan untuk kembali menjadi diriku sendiri kemudian memberikan kabar kepadanya bahwa keadaanku sudah mulai membaik.
***
Mekipun Ia mengetahui aku mempunyai penyakit kanker di dalam kebohongan yang aku ciptakan sendiri, Lena selalu menerima keadaanku, tanpa mengurangi harapannya agar bisa berjumpa denganku dan menjalin hubungan ini hingga ke jenjang pernikahan. Seakan telah kehilangan akal, aku milih untuk menjalani hubungan bersama nya dalam kepura-puraan semata. Singkat cerita, Waktu yang telah aku janjikan pun tiba. Esok hari, seharusnya aku datang menepati janjiku untuk menemuinya, tetapi kesalahanku dalam menjaga sebuah kesetiaan itu telah gagal, aku tidak bisa meninggalkan Rima, karena Ia telah mengisi hari-hariku di dunia yang begitu nyata.
Dari mulai sebelum tidur, telpon genggamku sudah aku matikan, sengaja aku lakukan untuk menghindar dari pertanyaan yang akan Lena ajukan kepadaku tentang janji-janji yang pernah aku katakan kepadanya. Besoknya sekitar pukul satu dini hari, aku menyalakan kembali ponselku dan benar saja, sekitar 30 pesan lebih dari Lena tengah menyambut kecemasanku saat itu. Entah memang takut atau merasa bersalah, aku tidak berani membalas pesan singkat darinya. Saat aku membuka akun Facebook ku, ternyata Lena pun mengirimkan pesan pribadi. berkali-kali Ia menanyakan "Kamu kemana? bukankah seharusnya hari ini kamu bersamaku? kenapa kamu menghilang?"
Tidak bisa aku tutupi, hatiku serasa teriris membaca semua pesan darinya, aku memang biadab telah membuat seseorang menyimpan harapan yang begitu besar kepadaku. dengan sisa keberanian yang masih aku miliki, aku memutuskan untuk membalas pesannya, dan mengatakan kebohongan kembali kepadanya, bahwa...
"Sebenarnya aku memang sudah berada di kotamu, walau dahulu jarak yang memisahkan kita dan meskipun saat ini jarak sudah tidak lagi menjadi sebuah halangan. semua itu tidak akan merubah keadaan, maafkan aku Lena"
Sekitar beberapa menit, Lena pun membalasnya, entah berapa banyak Ia membalas satu pesan sms dariku yang jelas, Ia begitu marah kepadaku, bahkan Ia mencaci maki semua sikapku kepadanya selama ini, Namun tidak selintas sedikitpun untuk berbalik marah kepadanya, karena meskipun begitu aku masih bisa menyadari, semua ini adalah kesalahan terbesarku telah melambungkan impian yang begitu tinggi kepadanya untuk di hancurkan kembali hingga tak tersisa. Masih teringat satu pesan darinya yang cukup membuatku merasa menjadi manusia yang paling keji diantara manusia lainnya.
"Kenapa tidak sedari awal kamu mengakhiri hubungan ini dengan cara yang sangat hina! mengapa harus membuatku menunggu terlebih dahulu dengan waktu yang tidak singkat ini!! apa karena aku tidak seindah orang lain? ataukah karena aku tidak berharta seperti orang lain? untuk itu kamu merasa PANTAS MELAKUKAN SEMUA INI KEPADAKU??? harapan dan janji yang telah kamu berikan hanya menjadi seonggok kotoran yang kamu rangkai sendiri!"
"Aku memang tidak selembut seperti orang lain, bahkan aku pun merasa bahwa tidak ada yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri!! Tetapi lihatlah cermin, kamu yang bernada selalu lembut dan tampak lebih berpendidikan dariku! kenyataannya hatimu lebih RUSAK dariku! tidak kah engkau malu sedikitpun dengan kecerdasaan yang kamu miliki? ternyata kepintaranmu hanya untuk mendustai hati orang lain!!!"
"Entah berapa banyak kebohongan yang kamu lakukan dan selalu aku maklumi! tetapi kali ini maaf, aku tidak bisa memaklumi kembali! baiklah, aku akan pergi selamanya dari hidupmu! karena aku memang tidak pernah di pantaskan denganmu! Semoga kelak kamu akan merasakan hal yang sama, agar tidak ada orang lain lagi yang bernasib sama denganku karena sikapmu!!! Farewell, Good Bye!!"
***
3 Bulan setelah kejadian itu, rasa bersalahku masih tetap kokoh bersemayam. Tetapi di sisi lain, aku sudah kehilangan harga diri untuk meminta maaf kepadanya. Ucapan adalah sebuah doa, mungkin itu memang benar, menginjak setengah Tahun aku jatuh sakit dan ternyata setelah di diagnosis oleh dokter ternyata aku mengidap sebuah penyakit kanker tingkat 2. Aku begitu terpukul mendengar kenyataan yang terjadi kepadaku saat itu. Kehidupanku pun seakan di kelilingi awan hitam yang tidak pernah hujan dan terus meninggalkanku di dalam kegelapan nya.
Bahkan yang aku kira Rima adalah seseorang yang tepat untuk mendampingi hidupku, setelah mengetahui aku mengidap sebuah penyakit kanker, Ia perlahan menghindar dariku dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah, aku tidak dendam kepadanya, karena bagiku mungkin ini adalah sebuah harga yang cukup pantas untuk membayar semua sikapku di masa lalu kepada Lena. Sebelum keadaanku semakin memburuk, aku ingin meminta maaf kepada Lena dan akhirnya aku memilih untuk mengunjunginya secara langsung. Untungnya, alamat rumah yang pernah Lena berikan kepadaku, masih aku simpan di pesan konsep yang berada dalam ponselku.
Setibanya disana, ternyata Lena sudah tidak lagi menempati rumah tersebut, aku mencari informasi tentang keberadaan dari Lena melalui beberapa orang tetangganya. sempat berpatah arang, setelah cukup banyak orang yang aku tanyai, hasilnya tetap saja nihil, tidak ada satupun yang mengetahui kepindahan Lena beserta keluarganya. Tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku, seorang wanita paruh baya menghampiriku dan mengatakan keberadaan Lena saat ini. Tanpa berpikir lama, aku langsung pergi menuju kediamannya.
Sebelum masuk kedalam sebuah gang, tidak sengaja aku melihat seorang pedagang gorengan yang sedang ramai di kunjungi oleh para pembeli. ketika aku mulai mendekat, ternyata Sang penjual gorengan itu adalah seorang wanita, tidak salah lagi Ia adalah Lena, bahkan setelah beberapa kali aku memastikan wajahnya dengan melihat foto Lena yang masih tersimpan di gallery ponselku dan benar saja Ia adalah benar-benar Lena yang dulu pernah aku kenal. Seketika hatiku mulai menciut melihat kenyataan yang kini berada di hadapanku. Lena, memang seorang wanita yang sangat baik, meski Ia begitu cantik, tampak di raut wajahnya, tidak sedikitpun Ia merasa malu menjadi seorang penjual gorenngan.
Aku mencoba memberanikan diri untuk menghampirinya, saat satu persatu pembeli mulai beranjak pergi, bibirku semakin terkunci, rasanya tidak sanggup berkata apapun, meski hanya sekedar untuk meminta maaf sekalipun. Tanpa sadar, Lena memanggilku berkali-kali...
"Ma..Maaf mas mau beli apa ya?" Tanya Lena padaku "Beli 10 aja, campur ya mbak" jawabku dengan perasaan yang sangat lirih.
Lena tidak lagi mengenaliku, hilang sudah keberanianku untuk meminta maaf kepadanya, namun aku merasa bahagia meski hanya sekedar menjadi seorang "penjual dan pembeli" setidaknya aku telah mengetahui secara langsung, bahwa Lena bukanlah seorang pemain drama di dunia maya, ternyata apa yang telah di katakannya kepadaku tentang semua keadaannya bukanlah sebuah rekayasa, melainkan sebuah kenyataan yang telah terbukti oleh mata kepalaku sendiri. Air mata kian memaksa, seakan ingin segera keluar untuk menumpahkan segala perasaanku saat itu, Belum sempat Lena mengambil uang kembalian, Aku pun beranjak pergi meninggalkannya.
"Mas! Mas ini kembaliannya mas!" Teriak Lena padaku, dan tanpa menoleh aku pun menjawabnya "Ambil saja kembaliannya buat kamu, aku sedang terburu-buru" Seraya melambaikan tangaku padanya.
"Selamat tinggal Lena, maafkan aku, akhirnya kelak aku bisa pergi dengan tenang, karena aku bisa melihat wajahmu yang begitu cantik, dan hatimu yang begitu bersih. terima kasih telah mengajarkan aku tentang arti dari apa adanya yang sebenar-benarnya, semoga kelak, engkau mendapatkan seorang pedamping yang sangat baik dan mampu membuatmu tersenyum bahagia, tidak sepertiku, yang terlihat berkelas tetapi kotor di dalamnya seperti yang pernah kamu ucapkan padaku..." Kataku dalam hati dan membiatkan air mata itu menghujami pipiku, banyak orang yang melihatku dengan penuh keheranan, namun aku tidak peduli, karena rasa bersalahku kepada Lena jauh lebih besar dari rasa malu yang masih tersisa.
TAMAT
Original Written By:
Aghana V Idents
Narasumber kisah nyata: "Di rahasiakan"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar