Rabu, 25 November 2015

Cerpen Langkah Ilusi



"Langkah Ilusi"
Genre: Fiksi, Misteri

"Ketika dunia tidak lagi menyenangkan bagimu, apakah yang akan kau lakukan? melarikan diri dari keadaan saat ini? ataukah
membenci semua orang yang telah membuatmu kecewa? sekalipun kau menangis darah, kehidupan tidak akan ramah kepada siapapun"

Di saat orang lain tengah tertidur lelap, Eliza masih menapaki jalannan kota seorang diri bajunya nampak lusuh di penuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, sorot matanya memancarkan rasa letih yang tidak dapat lagi tertahankan. Langit pun menurunkan tetesan air hujan, seketika Eliza menggigil karena merasa kedinginan, langkah kakinya tidak juga terhenti, Ia terus berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang semakin deras membasahi.

Tidak ada satupun pejalan kaki yang berjalan di sekitarnya, hanya beberapa kendaraan beroda empat yang sesekali melintas malam itu, wajah Eliza semakin terlihat pucat dan langkah kakinya tampak semakin gontai, dalam beberapa detik kemudian Gadis belia tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. cahaya bulan yang terpajang diatas langit, menjadi saksi pertama atas ketidak- berdayaan yang menimpa Eliza, seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan sorot matanya pun kian memudar.

***

Halaman rumah yang di tumbuhi rerumputan indah, terlihat asri meski luasnya rumah itu tidak semegah istana. Beberapa ekor kucing pun nampak sedang menikmati hari yang cerah, kicauan-kicauan burung nan merdu, mulai terdengar oleh Sang pemilik rumah, dari luar pagar berwarna biru muda itu, terlihat seorang gadis cantik berkulit putih tengah menguap sembari menatap awan pagi yang telah menyambutnya untuk mengawali hari.

"Eliza! ayo cepat sarapan nak!" Panggil Sang Ibu kepada anak gadisnya yang cantik itu.
"Iya bu, aku masuk ke rumah sekarang" Jawab Eliza

    Usai orang tuanya bercerai, Eliza dan adiknya tinggal bersama dengan Ibu, di setiap pagi Ia selalu mendapatkan giliran untuk menjaga rumah, Ibu dari Eliza adalah seorang guru, beliau mengajar hingga siang hari, beruntung Eliza memiliki seorang tante yang bersikap baik padanya, tantenya yang bernama Helena memiliki harta yang melimpah, sehingga memiliki beberapa tempat usaha dan tanpa syarat apapun,
    Eliza bisa bekerja di salah satu kantor milik tantenya tersebut. Satu waktu Eliza belum pulang hingga larut malam, pekerjaannya yang kian menumpuk, memaksanya mengambil jam lembur pada hari itu, dengan penuh konsentrasi gadis itu duduk di depan meja komputer bersama berkas-berkas yang menumpuk. Di tengah kesibukannya, Eliza mendengar nada dari ponselnya telah berdering, setelah mengetahui yang menghubunginya itu adalah Sang Ibu, Eliza pun segera menjawabnya.

"Hallo Bu ada apa?"
"Kamu mau pulang jam berapa nak?" Tanya Ibunya
"Entahlah Bu, pekerjaanku masih banyak"
"Lebih baik kamu pulang saja sekarang, nanti Ibu yang bilang ke tante soal ini"
"Tapi bu...."
"Ibu ingin kamu pulang sekarang, Ibu merasa khawatir, nanti Ibu jelaskan semuanya ke tante Helena"
"Ba...baiklah Bu" Jawab Eliza sembari menutup teleponnya.

    Dengan cepat gadis itu bergegas membereskan meja kerjanya yang masih nampak berantakan, ketika Ia hendak berdiri dari tempat duduknnya, samar Eliza merasakan tiupan angin yang menyentuh lehernya, awalnya Ia tidak menggubris dan menganggap hal tersebut biasa saja, hingga sampai Eliza akan membuka pintu ruang kerjanya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil namanya, sontak suara tersebut membuatnya terpaku untuk beberapa saat.
    Mencoba untuk memberanikan diri, Eliza pun menyalakan kembali saklar lampu yang tadinya telah Ia matikan, perlahan Ia menoleh kearah belakang dan ternyata tidak ada seorang pun disana, setelah memastikan kembali ruangan tersebut, Eliza segera beranjak keluar dengan tergesa-gesa. Suasana di area parkir kendaraan pun tidak kalah sepinya, hanya ada dua motor milik security dan satu kendaraan beroda empat milik Eliza.
    Baru saja masuk kedalam mobil, Eliza kembali mendengar suara yang terdengar asing dari sebelumnya, kini Ia mendengar suara seperti seseorang yang tengah tercekik, semakin lama suara tersebut semakin terdengar memilukan di telinganya, wajah Eliza terlihat ketakutan, tangannya yang gemetaran tengah sibuk mencari kunci mobil dari dalam tas miliknya, belum sempat menyalakan mesin mobil, Ia mendengar suara gesekan dari langkah kaki yang tidak jelas berasal darimana dan perlahan semakin mendekatinya.
    Mesin mobil pun berhasil Ia hidupkan, ketika akan menginjak pedal gas, tanpa di sengaja Eliza melihat dari arah belakang, ada sesosok wanita berambut panjang berantakan, mengenakan pakaian putih yang kumal di penuhi oleh darah serta seorang anak kecil yang berjalan tertatih dengan kulitnya nan hitam seakan bekas terbakar di seluruh tubuhnya, kedua makhluk tersebut perlahan mendekatinya, tanpa menunggu lama lagi Eliza pun menancapkan gas mobilnya untuk segera keluar dari sana.

***

    Seminggu telah berlalu, semenjak kejadian mengerikan itu terjadi, Eliza tidak menceritakan kepada siapapun termasuk kepada Sang Ibu. Ia bekerja seperti biasanya namun Eliza selalu pulang lebih awal, bahkan kini Ia lebih memilih menyelesaikan sisa pekerjaannya di rumah. Satu waktu Eliza terpaksa harus di rumah seorang diri, Ibu dan Adik-adiknya pergi menjenguk nenek yang tengah terbaring sakit, karena pekerjaannya yang masih menumpuk, Ia pun tidak bisa ikut pergi dengan Sang Ibu.
    Malam semakin menyelimuti langit, Eliza telah menguap beberapa kali, menahan rasa kantuk yang kian menyerangnya saat itu. Setelah mematikan laptopnya, Eliza pergi kedapur untuk mengambil segelas air minum. Teringat belum mengunci pintu rumah, Eliza pun melangkahkan kakinya menuju ruang depan yang terhalang oleh kamar tidur Ibunya. Anehnya, pintu rumah ternyata telah terkunci rapat, Eliza seketika mengkerutkan dahinya karena merasa keheranan, Ia masih teringat setelah pulang dari tempatnya bekerja, Eliza segera mengambil handuknya untuk mandi, karena cuaca hari itu begitu panas dan gersang, berlanjut Eliza pun meneruskan pekerjaannya tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu.
    Rasa penasarannya yang semakin membesar, membuat Eliza membuka kembali pintu rumahnya yang telah terkunci. Sekali ia mencoba membukanya namun tidak berhasil, hingga kedua kalinya sampai ketiga kalinya Ia mencoba, pintu rumahnya tidak juga bisa di buka. Tiba-tiba saja salah satu dari kucing peliharaannya menggeram seraya sorot matanya menuju kearah sebuah ruang gelap yang persis lorong tersebut, Eliza pun menoleh untuk memastikan apa yang telah terjadi. Betapa terkejutnya Ia, tepat di hadapan kedua bola matanya, ada sesosok wanita berambut panjang tengah membelakanginya. Makhluk itu terdengar tengah menangis menyeringai dan spontan membuat Eliza terduduk lemas tak berdaya.
    Tidak hanya sampai disana, lagi-lagi Eliza di kejutkan oleh sesosok anak kecil berkulit hitam pekat tengah merangkak keluar dari kamar Ibunya. dengan memberanikan diri, Eliza pun berdiri dan berusaha membuka pintu itu sebisa mungkin. Rasa takut yang di rasakannya membuat Ia menitikan air mata sesekali Ia melihat kearah dua mahkluk itu, sosok wanita tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, hanya saja makhluk yang menyerupai anak kecil tersebut semakin mendekatinya sembari mengeluarkan suaranya yang terdengar menyeramkan seakan-akan tengah tercekik kesakitan.

    Pintu rumahnya berhasil terbuka, Eliza segera berlari dan berteriak meminta tolong kepada warga, satu persatu tetangganya pun keluar dari rumah. Gadis itu terus berlari tanpa henti, hingga terpaksa beberapa orang tetangganya berusaha mengejar Eliza untuk menanyakan apa yang telah terjadi padanya. langkah kakinya pun semakin kencang dan sampailah Ia di sebuah perempatan jalan raya yang nampak sudah terlihat sangat sepi, Eliza masih menapaki jalannan kota seorang diri bajunya nampak lusuh di penuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, sorot matanya memancarkan rasa letih yang tidak dapat lagi tertahankan. Langit pun menurunkan tetesan air hujan, seketika saja Eliza menggigil karena merasa kedinginan langkah kakinya tidak juga terhenti, Ia terus berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang semakin deras membasahi.
    Tidak ada satupun pejalan kaki yang berjalan di sekitarnya, hanya beberapa kendaraan beroda empat yang sesekali melintas malam itu, wajah Eliza semakin terlihat pucat dan langkah kakinya tampak semakin gontai, dalam beberapa detik kemudian Gadis belia tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. cahaya bulan yang terpajang diatas langit, menjadi saksi pertama atas ketidak- berdayaan yang menimpa Eliza, seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan sorot matanya pun kian memudar.

***

    Ketika aku membuka mata, tanteku yang bernama Helena telah duduk di sampingku, melihat aku telah tersadar dari tidur panjang, tante Helena lekas memeluk ku sambil menangis dengan sejadi-jadinya, aku masih tidak mengerti apa yang telah terjadi kepadaku saat ini, aku pun berusaha bertanya kepadanya, tetapi beliau tidak juga menjawabku, tante Helena masih terus menangis dan air matanya semakin membasahi pundak ku, entah mengapa hatiku merasakan perih yang luar biasa tanpa sebab, sehingga membuatku ikut menitikan air mata dan memeluk erat tanteku Helena.
    Dua minggu setelah kejadian itu, aku pun mulai mengetahui sebuah kenyataan yang pahit, ternyaata sudah 2 bulan lebih aku tenggelam di dalam duniaku yang lain, yaitu dunia khayalan yang seakan terlihat begitu nyata, aku sempat mengalami depresi yang sangat berat, pasca Ibu dan adik ku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan di sebuah jalan tol, selepas kabar duka tersebut sampai di telingaku, hari demi hari keadaan ku semakin memburuk seringkali aku tiba-tiba menangis namun setelahnya aku seakan terlihat normal kembali dan pergi bekerja di kantor tanteku Helena seperti biasanya.
    Tante Helena adalah adik dari Ibuku, wajahnya yang begitu mirip, seakan-akan tante Helena adalah Ibuku yang kembali hidup. Beliau pun menceritakan suatu kebenaran padaku, ketika kejiwaanku masih benar-benar terguncang, Tante Helena dengan sengaja mengubah namanya sendiri di kontak posnelku menjadi "Ibu" . Setelah aku mengingat-ngingatnya kembali ternyata dugaanku benar, saat waktu itu aku tengah kerja lembur, beliau lah yang sebenarnya telah menghubungiku dan memintaku untuk segera pulang. Om ku yang bernama Anto, suami dari Tante Helena yang bekerja di luar negeri, sempat merujuk tanteku Helena agar membawaku ke rumah sakit jiwa untuk di rawat, namun tante Helena yang sangat menyayangiku tidak ingin melihatku di cap sebagai "Orang tidak waras" oleh siapapun, bahkan Tante Helena rela menyewa dua orang bodyguard untuk selalu mengawasiku.
   Meski tanteku telah menceritakan semuanya, tetapi aku merasa masih ada sesuatu hal yang mengganjal dalam pikiranku saat itu, hingga aku pun mulai tersadar akan satu kejadian yaitu
"Siapakah kedua makhluk yang menyeramkan tersebut? mengapa mereka menghantuiku?"
Hingga sampai detik ini, misteri itu tidak bisa terungkap, namun satu penggal kisah yang di ceritakan kembali oleh tante Helena, membuatku mengerti mengapa kedua makhluk itu hadir di dalam hidupku,
    Ayahku yang terlilit hutang karena kegemarannya dalam berjudi serta pemakai obat-obatan terlarang, mencari celah untuk membawaku pergi yang pada saat waktu itu aku masih tenggelam di dunia khayalku, Ayahku sangat keji, Ia telah kehilangan akal sehatnya dan Ia telah 2 kali berusaha menjualku kepada seorang mucikari untuk melunasi hutang piutangnya, untunglah aku selalu bisa terlepas dari cengkramannya,
    Pertama ketika aku pulang larut malam di kantor tanteku, ternyata Sang Ayah sudah berada di area parkir menungguku, untungnya aku telah berada di dalam mobilku dan yang kedua ketika tanteku Helena pergi ke rumah nenek, menurut pengawal pribadi tante Helena, saat aku berlari keluar rumah, tidak lama kemudian Ayahku datang dan mencariku, lagi-lagi aku beruntung karenanya. Atas perbuatannya selama ini akhirnya Ayahku masuk kedalam jeruji besi, namun meski begitu aku berusaha untuk tidak pernah membencinya.


TAMAT.

Original Written by:
Aghana V Idents

Tidak ada komentar:

Posting Komentar