Senin, 30 November 2015
Pasangan suami istri tukang sedot WC
Beberapa bulan lalu, sang kakak ipar memanggil tukang sedot tinja (maaf) karena memang sudah beberapa hari wc mampet.
Awalnya memang yang turun dari mobil hanya 2 orang lelaki berumur, di karenakan septic tank harus di kuras habis dan ada beberapa hal yang harus di perbaiki (saya lupa entah apa namanya) , maka proses pembersihan akan memakan waktu cukup lama.
Kemudian seorang wanita yang merupakan istri dari salah satu tukang pun turun dari mobil, untuk ikut serta membantu suaminya.
Amazing, tanpa merasa jijik sedikit pun beliau membantu suaminya membersihkan septic tank yang berada di rumah saya hingga tuntas.
Harga 750ribu yang sudah di keluarkan pun terbayar tunai oleh kekompakan pasangan suami istri tersebut.
"Lebih baik bekerja kotor membersihkan tinja tetapi halal, ketimbang yang mampu bekerja lebih layak tetapi sikap nya seperti tinja"
Respect saya kepada mereka.
Semoga saya pun bisa mendapatkan pasangan yang kompak dalam berkomitmen, bukan yang hanya ingin di sempurnakan tanpa saling menyempurnakan.
Tabik.
Original written by:
Aghana V Idents
Minggu, 29 November 2015
"Hidup adalah sebuah Event"
Sebagai seorang penulis yang tidak pernah handal dan Sebagai seorang konsultan yang tidak pernah merasa layak untuk di sebut demikian. tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk berbagi sebuah pengalaman bukan? di sela kesibukan menggarap sebuah Novel, rasanya hari ini terlintas ingin sedikit bercerita. setelah Vakum cukup lama menanggapi sharing dan konsultasi dari sekian banyak orang.
Setidaknya ada setitik kerinduan tentang hal tersebut, maka di buatlah catatan rongsokan ini meski tidak seberapa nilainya, mohon di maklumi apabila banyak kesalahan dari kata-kata yang akan saya goreskan di sini, semoga saja menjadi bahan pemikiran untuk kita semuanya.
"hidup adalah sebuah Event" mengapa demikian? karena keadaan akan berlalu begitu cepat saat ini mungkin kita berbahagia, bisa saja esok lusa atau nanti kita harus di rundung sebuah duka tentunya kita tidak tau kapan semuanya akan terjadi. Sukses bukan berarti harus berhenti, karena Event dengan cepat akan datang dengan menakutkan siapa saja bagi yang lengah.
Sebuah pencapaian mungkin sifatnya bercabang, sekalipun itu hal yang buruk sekalipun untuk di lakukan. tentu saja, tidak selamanya "apa yang kita tanam, maka kita sendiri yang akan memetik hasilnya" bagi sebagian orang, kesadaran itu adalah urutan yang paling belakang. Meskipun kita telah sebaik mungkin untuk tidak melukai perasaan siapapun, apalah daya orang-orang yang menyakitkan selalu datang bukan? Di sini terlihat jelas bahwa tidak selamanya kita memetik hasil yang kita tanam, karena di sisi lain kita harus banyak-banyak belajar menjadi sosok yang lebih kuat untuk terus tumbuh menjadi pemilik jiwa yang lebih baik. Mungkin agar kita lebih menghargai nilai arti dari sebuah kebahagiaan ketimbang sebelumnya.
Berhenti sejenak meminum segelas kopi...
Pengalaman mengatakan bahwa "Di dalam sebuah kecintaan terhadap sesuatu, maka kenali resiko terbesarnya yaitu kehilangan" Ikhlas tidak selamanya mudah di dapatkan, entah itu karena cinta terhadap seseorang ataukah kecintaan kita di dalam sebuah Usaha yang sedang kita jalani saat ini. Apabila di dalam sebuah cinta terkadang terjadi jua pengkhianatan dan di tinggalkan, maka di sebuah usaha terdapat kebangkrutan dan penipuan. Dua hal berbeda dengan kekecewaan yang masih bisa di katakan sebanding sakitnya. Sebagai manusia biasa, saya pernah mengalami dua hal tersebut secara bersamaan, ketika kata "Ikhlas" sulit untuk singgah, saya selalu mencari alasan lain untuk menangkal semua yang telah terjad, "Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya, meski terkadang kita sebagai seorang umat selalu meninggalkan Tuhannya" Dalam kata lain, cinta yang pergi, dan usaha yang gagal, semuanya itu hanyalah rezeki yang di tanggalkan untuk menjadi sebuah peraduan tabungan di masa depan.
Kejutan tentunya memerlukan biaya atau tenaga dan pikiran bukan? Itulah yang saya maksud dengan "Tabungan di masa depan"
Menangislah jika itu perlu, marahlah apabila kita merasa tertindas namun jangan lupakan tujuan kita untuk menangis dan marah, apakah hanya untuk menumbuhkan rasa "IBA" kepada diri sendiri? semua itu hanya akan mengandung sebuah kerugian semata, jika tidak lelah pastilah menyesal, sedangkan orang-orang yang telah membuat diri kita seperti itu hanya akan tertawa seakan menjadi seorang pemenang, meski mereka tidak menyadari sebuah "posisi" yang sama, cepat atau lambat mereka akan menikmatinya juga. tujukan 2 hal itu kepada arah yang lebih manusiawi, ketika harus meneteskan air mata, jadikan satu pemikiran agar tidak terulang kembali hal yang sama untuk kedua kalinya, dan ketika "kemarahan" dengan terpaksa harus di luapkan, tunjukan bahwasannya "taring" yang kita miliki bukan untuk merobek kulit dan seisinya, melainkan untuk memperingatkan bahwa kita memliki "perasaan untuk di hargai"
Kembali berhenti menghabiskan air kopi yang masih tersisa.
Tidak usah merasa malu dengan menjadi diri sendiri "sebelangsak belangsaknya hidup seseorang, ada yang jauh lebih belangsak dari itu, ialah yang mengakui memiliki hati, tetapi selalu melakukan tipu daya kepada seseorang yang menyayanginya" kenyataan tidak perlu di ada-adakan, sederhana masih lebih mulia ketimbang melebihkan keadaan yang pada kenyataan nya memang tidak kita miliki dan semuanya akan berakhir dengan rasa malu ketika suatu saat nanti semuanya di pertanyakan kembali. "Ketika kita merasa lebih rendah dari orang lain, cukup di ketahui bahwa masih ada yang lebih rendah selalu ingin nampak lebih tinggi" merasa malu adalah hal yang wajar, pertanda kesadaran kita masih di katakan dalam tahap normal, berbanding terbalik dengan tidak memliki rasa malu "Tampak kebenaran itu selalu berpihak kepada dirinya sendiri" kala Ia berdiri di atas kekecewaan yang tengah orang lain rasakan.
TABIK.
Original Written By:
Aghana V Idents
Rabu, 25 November 2015
Cerpen Langkah Ilusi
"Langkah Ilusi"
Genre: Fiksi, Misteri
"Ketika dunia tidak lagi menyenangkan bagimu, apakah yang akan kau lakukan? melarikan diri dari keadaan saat ini? ataukah
membenci semua orang yang telah membuatmu kecewa? sekalipun kau menangis darah, kehidupan tidak akan ramah kepada siapapun"
Di saat orang lain tengah tertidur lelap, Eliza masih menapaki jalannan kota seorang diri bajunya nampak lusuh di penuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, sorot matanya memancarkan rasa letih yang tidak dapat lagi tertahankan. Langit pun menurunkan tetesan air hujan, seketika Eliza menggigil karena merasa kedinginan, langkah kakinya tidak juga terhenti, Ia terus berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang semakin deras membasahi.
Tidak ada satupun pejalan kaki yang berjalan di sekitarnya, hanya beberapa kendaraan beroda empat yang sesekali melintas malam itu, wajah Eliza semakin terlihat pucat dan langkah kakinya tampak semakin gontai, dalam beberapa detik kemudian Gadis belia tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. cahaya bulan yang terpajang diatas langit, menjadi saksi pertama atas ketidak- berdayaan yang menimpa Eliza, seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan sorot matanya pun kian memudar.
***
Halaman rumah yang di tumbuhi rerumputan indah, terlihat asri meski luasnya rumah itu tidak semegah istana. Beberapa ekor kucing pun nampak sedang menikmati hari yang cerah, kicauan-kicauan burung nan merdu, mulai terdengar oleh Sang pemilik rumah, dari luar pagar berwarna biru muda itu, terlihat seorang gadis cantik berkulit putih tengah menguap sembari menatap awan pagi yang telah menyambutnya untuk mengawali hari.
"Eliza! ayo cepat sarapan nak!" Panggil Sang Ibu kepada anak gadisnya yang cantik itu.
"Iya bu, aku masuk ke rumah sekarang" Jawab Eliza
Usai orang tuanya bercerai, Eliza dan adiknya tinggal bersama dengan Ibu, di setiap pagi Ia selalu mendapatkan giliran untuk menjaga rumah, Ibu dari Eliza adalah seorang guru, beliau mengajar hingga siang hari, beruntung Eliza memiliki seorang tante yang bersikap baik padanya, tantenya yang bernama Helena memiliki harta yang melimpah, sehingga memiliki beberapa tempat usaha dan tanpa syarat apapun,
Eliza bisa bekerja di salah satu kantor milik tantenya tersebut. Satu waktu Eliza belum pulang hingga larut malam, pekerjaannya yang kian menumpuk, memaksanya mengambil jam lembur pada hari itu, dengan penuh konsentrasi gadis itu duduk di depan meja komputer bersama berkas-berkas yang menumpuk. Di tengah kesibukannya, Eliza mendengar nada dari ponselnya telah berdering, setelah mengetahui yang menghubunginya itu adalah Sang Ibu, Eliza pun segera menjawabnya.
"Hallo Bu ada apa?"
"Kamu mau pulang jam berapa nak?" Tanya Ibunya
"Entahlah Bu, pekerjaanku masih banyak"
"Lebih baik kamu pulang saja sekarang, nanti Ibu yang bilang ke tante soal ini"
"Tapi bu...."
"Ibu ingin kamu pulang sekarang, Ibu merasa khawatir, nanti Ibu jelaskan semuanya ke tante Helena"
"Ba...baiklah Bu" Jawab Eliza sembari menutup teleponnya.
Dengan cepat gadis itu bergegas membereskan meja kerjanya yang masih nampak berantakan, ketika Ia hendak berdiri dari tempat duduknnya, samar Eliza merasakan tiupan angin yang menyentuh lehernya, awalnya Ia tidak menggubris dan menganggap hal tersebut biasa saja, hingga sampai Eliza akan membuka pintu ruang kerjanya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil namanya, sontak suara tersebut membuatnya terpaku untuk beberapa saat.
Mencoba untuk memberanikan diri, Eliza pun menyalakan kembali saklar lampu yang tadinya telah Ia matikan, perlahan Ia menoleh kearah belakang dan ternyata tidak ada seorang pun disana, setelah memastikan kembali ruangan tersebut, Eliza segera beranjak keluar dengan tergesa-gesa. Suasana di area parkir kendaraan pun tidak kalah sepinya, hanya ada dua motor milik security dan satu kendaraan beroda empat milik Eliza.
Baru saja masuk kedalam mobil, Eliza kembali mendengar suara yang terdengar asing dari sebelumnya, kini Ia mendengar suara seperti seseorang yang tengah tercekik, semakin lama suara tersebut semakin terdengar memilukan di telinganya, wajah Eliza terlihat ketakutan, tangannya yang gemetaran tengah sibuk mencari kunci mobil dari dalam tas miliknya, belum sempat menyalakan mesin mobil, Ia mendengar suara gesekan dari langkah kaki yang tidak jelas berasal darimana dan perlahan semakin mendekatinya.
Mesin mobil pun berhasil Ia hidupkan, ketika akan menginjak pedal gas, tanpa di sengaja Eliza melihat dari arah belakang, ada sesosok wanita berambut panjang berantakan, mengenakan pakaian putih yang kumal di penuhi oleh darah serta seorang anak kecil yang berjalan tertatih dengan kulitnya nan hitam seakan bekas terbakar di seluruh tubuhnya, kedua makhluk tersebut perlahan mendekatinya, tanpa menunggu lama lagi Eliza pun menancapkan gas mobilnya untuk segera keluar dari sana.
***
Seminggu telah berlalu, semenjak kejadian mengerikan itu terjadi, Eliza tidak menceritakan kepada siapapun termasuk kepada Sang Ibu. Ia bekerja seperti biasanya namun Eliza selalu pulang lebih awal, bahkan kini Ia lebih memilih menyelesaikan sisa pekerjaannya di rumah. Satu waktu Eliza terpaksa harus di rumah seorang diri, Ibu dan Adik-adiknya pergi menjenguk nenek yang tengah terbaring sakit, karena pekerjaannya yang masih menumpuk, Ia pun tidak bisa ikut pergi dengan Sang Ibu.
Malam semakin menyelimuti langit, Eliza telah menguap beberapa kali, menahan rasa kantuk yang kian menyerangnya saat itu. Setelah mematikan laptopnya, Eliza pergi kedapur untuk mengambil segelas air minum. Teringat belum mengunci pintu rumah, Eliza pun melangkahkan kakinya menuju ruang depan yang terhalang oleh kamar tidur Ibunya. Anehnya, pintu rumah ternyata telah terkunci rapat, Eliza seketika mengkerutkan dahinya karena merasa keheranan, Ia masih teringat setelah pulang dari tempatnya bekerja, Eliza segera mengambil handuknya untuk mandi, karena cuaca hari itu begitu panas dan gersang, berlanjut Eliza pun meneruskan pekerjaannya tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu.
Rasa penasarannya yang semakin membesar, membuat Eliza membuka kembali pintu rumahnya yang telah terkunci. Sekali ia mencoba membukanya namun tidak berhasil, hingga kedua kalinya sampai ketiga kalinya Ia mencoba, pintu rumahnya tidak juga bisa di buka. Tiba-tiba saja salah satu dari kucing peliharaannya menggeram seraya sorot matanya menuju kearah sebuah ruang gelap yang persis lorong tersebut, Eliza pun menoleh untuk memastikan apa yang telah terjadi. Betapa terkejutnya Ia, tepat di hadapan kedua bola matanya, ada sesosok wanita berambut panjang tengah membelakanginya. Makhluk itu terdengar tengah menangis menyeringai dan spontan membuat Eliza terduduk lemas tak berdaya.
Tidak hanya sampai disana, lagi-lagi Eliza di kejutkan oleh sesosok anak kecil berkulit hitam pekat tengah merangkak keluar dari kamar Ibunya. dengan memberanikan diri, Eliza pun berdiri dan berusaha membuka pintu itu sebisa mungkin. Rasa takut yang di rasakannya membuat Ia menitikan air mata sesekali Ia melihat kearah dua mahkluk itu, sosok wanita tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, hanya saja makhluk yang menyerupai anak kecil tersebut semakin mendekatinya sembari mengeluarkan suaranya yang terdengar menyeramkan seakan-akan tengah tercekik kesakitan.
Pintu rumahnya berhasil terbuka, Eliza segera berlari dan berteriak meminta tolong kepada warga, satu persatu tetangganya pun keluar dari rumah. Gadis itu terus berlari tanpa henti, hingga terpaksa beberapa orang tetangganya berusaha mengejar Eliza untuk menanyakan apa yang telah terjadi padanya. langkah kakinya pun semakin kencang dan sampailah Ia di sebuah perempatan jalan raya yang nampak sudah terlihat sangat sepi, Eliza masih menapaki jalannan kota seorang diri bajunya nampak lusuh di penuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, sorot matanya memancarkan rasa letih yang tidak dapat lagi tertahankan. Langit pun menurunkan tetesan air hujan, seketika saja Eliza menggigil karena merasa kedinginan langkah kakinya tidak juga terhenti, Ia terus berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang semakin deras membasahi.
Tidak ada satupun pejalan kaki yang berjalan di sekitarnya, hanya beberapa kendaraan beroda empat yang sesekali melintas malam itu, wajah Eliza semakin terlihat pucat dan langkah kakinya tampak semakin gontai, dalam beberapa detik kemudian Gadis belia tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. cahaya bulan yang terpajang diatas langit, menjadi saksi pertama atas ketidak- berdayaan yang menimpa Eliza, seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan sorot matanya pun kian memudar.
***
Ketika aku membuka mata, tanteku yang bernama Helena telah duduk di sampingku, melihat aku telah tersadar dari tidur panjang, tante Helena lekas memeluk ku sambil menangis dengan sejadi-jadinya, aku masih tidak mengerti apa yang telah terjadi kepadaku saat ini, aku pun berusaha bertanya kepadanya, tetapi beliau tidak juga menjawabku, tante Helena masih terus menangis dan air matanya semakin membasahi pundak ku, entah mengapa hatiku merasakan perih yang luar biasa tanpa sebab, sehingga membuatku ikut menitikan air mata dan memeluk erat tanteku Helena.
Dua minggu setelah kejadian itu, aku pun mulai mengetahui sebuah kenyataan yang pahit, ternyaata sudah 2 bulan lebih aku tenggelam di dalam duniaku yang lain, yaitu dunia khayalan yang seakan terlihat begitu nyata, aku sempat mengalami depresi yang sangat berat, pasca Ibu dan adik ku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan di sebuah jalan tol, selepas kabar duka tersebut sampai di telingaku, hari demi hari keadaan ku semakin memburuk seringkali aku tiba-tiba menangis namun setelahnya aku seakan terlihat normal kembali dan pergi bekerja di kantor tanteku Helena seperti biasanya.
Tante Helena adalah adik dari Ibuku, wajahnya yang begitu mirip, seakan-akan tante Helena adalah Ibuku yang kembali hidup. Beliau pun menceritakan suatu kebenaran padaku, ketika kejiwaanku masih benar-benar terguncang, Tante Helena dengan sengaja mengubah namanya sendiri di kontak posnelku menjadi "Ibu" . Setelah aku mengingat-ngingatnya kembali ternyata dugaanku benar, saat waktu itu aku tengah kerja lembur, beliau lah yang sebenarnya telah menghubungiku dan memintaku untuk segera pulang. Om ku yang bernama Anto, suami dari Tante Helena yang bekerja di luar negeri, sempat merujuk tanteku Helena agar membawaku ke rumah sakit jiwa untuk di rawat, namun tante Helena yang sangat menyayangiku tidak ingin melihatku di cap sebagai "Orang tidak waras" oleh siapapun, bahkan Tante Helena rela menyewa dua orang bodyguard untuk selalu mengawasiku.
Meski tanteku telah menceritakan semuanya, tetapi aku merasa masih ada sesuatu hal yang mengganjal dalam pikiranku saat itu, hingga aku pun mulai tersadar akan satu kejadian yaitu
"Siapakah kedua makhluk yang menyeramkan tersebut? mengapa mereka menghantuiku?"
Hingga sampai detik ini, misteri itu tidak bisa terungkap, namun satu penggal kisah yang di ceritakan kembali oleh tante Helena, membuatku mengerti mengapa kedua makhluk itu hadir di dalam hidupku,
Ayahku yang terlilit hutang karena kegemarannya dalam berjudi serta pemakai obat-obatan terlarang, mencari celah untuk membawaku pergi yang pada saat waktu itu aku masih tenggelam di dunia khayalku, Ayahku sangat keji, Ia telah kehilangan akal sehatnya dan Ia telah 2 kali berusaha menjualku kepada seorang mucikari untuk melunasi hutang piutangnya, untunglah aku selalu bisa terlepas dari cengkramannya,
Pertama ketika aku pulang larut malam di kantor tanteku, ternyata Sang Ayah sudah berada di area parkir menungguku, untungnya aku telah berada di dalam mobilku dan yang kedua ketika tanteku Helena pergi ke rumah nenek, menurut pengawal pribadi tante Helena, saat aku berlari keluar rumah, tidak lama kemudian Ayahku datang dan mencariku, lagi-lagi aku beruntung karenanya. Atas perbuatannya selama ini akhirnya Ayahku masuk kedalam jeruji besi, namun meski begitu aku berusaha untuk tidak pernah membencinya.
TAMAT.
Original Written by:
Aghana V Idents
Selasa, 24 November 2015
Putus Asa Bukanlah Sebuah Pilihan
Di dalam hidup, kita pasti akan di pertemukan dengan sebuah kegagalan dan kekurangan yang seringkali merobohkan nyali untuk membangun kembali keberanian untuk menata masa depan yang lebih cerah, kebahagiaan selalu menunggu kedatangan kita, bukan kita yang menunggu kebahagiaan itu untuk datang menghampiri, setiap tetes keringat akan menjadi saksi terbesar untuk merajuk kebahagiaan, jangan pernah takut untuk memulai, tetapi takutlah jika kita tidak pernah memulai dan mengetahui semuanya telah terlambat.
1. "KEGAGALAN DALAM HAL CINTA BUKANLAH AKHIR DARI KISAH HIDUPMU"
"Cinta bagaikan obat yang telah menjadi candu, memperindah impian yang sekedar sketsa dan menjabarkan
perasaan melalui sebuah tindakan nyata untuk saling menabur kasih sayang di dalam indahnya sanubari mandalawangi..."
Kehilangan mungkin bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk kita lupakan, di balik rasa sebuah pilu yang tengah kita rasakan ketika harus berpisah dengan seseorang yang kita cintai Ialah "Jalan Terbaik" dimana semua pengorbanan dan perjuangan yang telah kau lakukan tidak lagi mendapatkan sambutan hangat, andai bila kita menyadari, semakin cepat waktu memperlihatkan takaran"Cinta" yang tidak lagi pantas untuk kita pertahankan, maka "Luka" yang kita rasakan pun tidak akan terlalu dalam.
Putus cinta merupakan sebuah awal, awal perjalanan baru yang akan segera di mulai, jangan pernah mengartikan putus cinta karena ketidak- mampuan mu untuk menjadi yang sempurna, karena cinta yang sejati akan selalu saling menyempurnakan bukan hanya"Meminta" untuk di sempurnakan seperti layaknya khiasan mewah di dalam istana.
***
2. "TIDAK SEMPURNA DALAM FISIK, ADALAH ANUGRAH YANG TUHAN BERIKAN"
"Dunia yang seringkali tersalahkan karena ketidak -adilan dalam menempatkan takdir, sesungguhnya Tuhan selalu melihatmu dengan tatapan yang penuh kasih di balik langit yang begitu cerah, menantikan mu mengukir sebuah sejarah di atas tanah bumi untuk memberikan cahaya ketika kegelapan menyelimuti orang-orang di sekitar mu"
Andai jika kita bisa memilih, mungkin kita ingin terlahir sebagai seorang wanita yang cantik atau menjadi seorang pria yang tampan, tetapi ketahuilah, keindahan di dalam sebuah fisik hanya bersifat temporer, karena yang terpenting sejauh manakah kita mampu menghadirkan sejarah dan kenangan yang indah untuk "terukir"selamanya di setiap hati manusia agar selalu di rindukan kehadirannya. percuma apabila memiliki paras yang sempurna namun hanya mampu menorehkan luka.
Menyalah gunakan fungsi yang Tuhan berikan, Ibarat"Menanam benih kehancuran, untuk di tuai di akhir certia" Syukurilah dengan apa yang telah Tuhan gariskan dan laksanakan kebaikan sebagai pertanda bahwa kita memiliki welas asih yang tidak terbatas oleh waktu.
***
3. "JANGAN PERNAH MALU KARENA KITA BUKANLAH ORANG BERADA"
"Keajaiban tidak akan pernah datang dari sekedar keluhan, walau seringkali kita menemukan jalan buntu yang menghentikan langkah, berfikirlah mungkin kita harus segera memutar arah untuk menemukan jalan keluar menuju impian yang selalu kita idam-idamkan, kegagalan adalah hal biasa, layaknya bumbu pelengkap sebelum menjadi seseorang yang lebih mahir dalam berjuang"
Tidaklah salah untuk selalu tampil sederhana, ketiadaan dalam harta bukan berarti menjadi sebuah batasan dalam bersosial, teman yang baik tidak akan pernah melihat setebal apa isi "Dompet" kita, melainkan sejauh mana kita mampu saling "Membantu" satu sama lain.
Sejatinya cinta pun tidak akan melihat "Sebanyak apa uang" yang kita miliki, melainkan sejauh mana kita mampu "Berjuang" untuk mencarinya dengan cara yang baik.
Sebagaimana pun harta menjadi hal terpenting untuk membangun sebuah kehidupan, bukankah akan lebih indah apabila satu sama lain selalu saling mendukung bukan sekedar hanya ingin menikmatinya secara instant? tidak ada satupun yang ingin hidup dalam kekurangan materi, namun kita sebagai manusia telah memiliki jalan masing-masing yang telah Tuhan gariskan, tentunya Tuhan telah menyediakan pasangan yang pantas untuk kita, bukan karena harta, melainkan karena hati dan perbuatannya.
***
4. "PERNAH TENGGELAM DI DALAM KEGELAPAN, TIDAK BERARTI ENGKAU HARUS SELALU MENUNDUKAN KEPALA"
"Tidak akan pernah ada satupun manusia yang terlahir sempurna, terkadang bibir terucap untuk merendahkan dan terkadang sikap bertindak untuk melukai perasaan seseorang, sisi buruk manusia akan selalu ada untuk menantang, menantang keberanian kita untuk memilih jalan manakah yang akan kita tuju, jikalau kegelapan pada akhrinya memenangkan perdebatan hati. maka tidaklah salah jika kita berbakti kepada kebaikan selepas cahaya kembali kita temukan"
Di pandang sebelah mata adalah hal yang seringkali kita temui, terutama ketika kita pernah terjerumus dalam lembah hitam, dimana kita telah melakukan kesalahan dalam penyimpangan yang cukup besar, ingatlah hidup itu begitu singkat, terlalu lama jika kita menghabiskan waktu untuk mengucilkan diri, sebagaimana pun orang-orang tetap memandang rendah kepada kita, setitik kebaikan yang telah kita lakukan, Tuhan akan selalu memperhitungkannya, jangan pernah gentar untuk melakukan hal yang baik, karena yang merasa lebih baik belum tentu mampu menorehkan kebaikan itu sendiri.
Dengan hanya menunggu, kita tidak akan pernah menemukan keindahan, karena keindahan adalah sesuatu hal yang harus segera kita mulai dari diri sendiri, biarkan seorang pembenci selalu mencari-cari kesalahan dalam diri kita, karena masa depan telah menunggu kita untuk berbuat kebaikan, hal yang baik tidak merugikan siapapun, tetapi yang merugi selalu merasa lebih baik tanpa pernah bercermin...
***
5. "BANGKITKAN KEPERCAYAAN DIRIMU, DENGAN MENYADARI SEKELILING MU"
"Kita selalu berfikir, kenapa hidup kita sehancur ini? meski tanpa kita sadari, masih mampu untuk membeli sesuap nasi di setiap hari dan menyambung hidup.
Kita seringkali mengeluh, kapan kebahagiaan itu datang? walau kesadaran seringkali tertutupi oleh keinginan yang berlebihan tanpa pernah merasa bersyukur.
Kita pernah bersedih karena patah hati dan meminta untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik? sayangnya seringkali kita memimta yang lebih tanpa memantaskan diri"
Setiap manusia pasti pernah berkeluh kesah, ada yang bangkit setelahnya, ada juga yang semakin terpuruk karenanya, keinginan kita terkadang tidak pernah sebanding dengan perbuatan yang telah kita lakukan, sedangkan di luar sana, di sekitar kita banyak yang lebih menguras keringat di setiap hari namun tidak pernah berputus asa untuk menjalani hidup, karena mereka percaya di setiap pengorbanan yang telah mereka lakukan akan menjadi hasil yang terbaik untuk di suatu saat nanti.
Seringkalinya kita bercermin tidak akan pernah mampu untuk menyadari kekurangan yang kita miliki, terkadang kita harus belajar dari orang-orang yang berada di sekitar kita, bagaimana cara mereka berjuang untuk hidup ketimbang merengek menantikan belas kasihan takdir kepadanya, tidak kah kita merasa malu sedikitpun? ketika kita menginginkan sesuatu hal yang besar kepada Tuhan, tetapi begitu kecilnya kebaikan yang kita berikan kepada Tuhan dan umatnya? Sadarilah bahwa setiap orang pasti memiliki keterbatasan, namun bukan berarti keterbatasan di jadikan sebuah alasan terbesar untuk menggerutu, karena tidak ada impian yang terlalu jauh untuk di gapai, jika kita menyadari akan selalu ada arah yang lain untuk kita lewati.
Tabik.
Original Post By:
Aghana V Idents (Hipwee Version)
Aghana V Idents (Facebook)
Senin, 23 November 2015
Quotes bagian 1
"buruk rupa itu tidak ada, nyatanya si buruk mata yang menilainya salah. Semua manusia itu elok, seperti camar yang bermandikan siluet senja...."
-Aghana
"Malam pun akan selalu gelap, selama mentari tidak menggantikannya menjadi siang kemudian. Langit saja tidak pernah luput dalam berperan ya? Masihkah harus menunda waktu lebih lama kepada seseorang yang tidak menghargai peranan mu? Miris."
-Aghana
"Kenapa harus malu karena tidak memiliki apa-apa? sedangkan yang mengaku memiliki segalanya tetapi miskin hati masih berkeliaran di luar sana"
-Aghana
"sombong itu boleh dan pamer pun berhak, tetapi ingat, ketika keadaan telah terbalik jangan mempertanyakan kemana semua itu pergi karena sudah pasti "Pinjaman akan kembali kepada pemiliknya" temasuk yang berada di balik tempurung kepala itu."
-Aghana
"Semakin bagusnya kualitas barang, semakin mahal harganya. Apabila barang tidak memiliki kualitas, jangan berharap di berikan label harga yang mahal.
Ganti kata "barang" menjadi "Diri Sendiri".
-Aghana
"Pasangan yang terbaik adalah pasangan yang selalu memperjuangkan" mungkin harus sedikit di perbaiki, menjadi
"pasangan yang terbaik tidak akan membuatmu berjuang sendirian" karena menyadari kita bukanlah jongos di jaman kerajaan."
-Aghana
"Tuhan tidak akan menyajikan sebuah kesukaran tanpa bisa di selesaikan, seandainya terasa sukar sekalipun, selama detak jantung masih memacu, akan selalu ada ending yang dapat di selesaikan."
-Aghana
"Mencari kebenaran secara instant sangatlah mudah, cukup jiplak kata-kata mutiara orang lain yang sesuai harapan, tetapi jangan lupa, nasib atau takdir akan selalu menjadi batasan untuk membedakan "kehidupan & keberuntungan" antara penulis dengan pembacanya itu tidaklah sama."
-Aghana
See you later....
Aghana V Idents
Minggu, 22 November 2015
Seutas benang sutra
Cerpen "Seutas benang sutra"
Genre: Misteri (Fiksi)
"Tatkala lembah impian telah lenyap, bukanlah satu alasan kita untuk menyerah.
menyeringai kepada takdir karena hanya akan membuat kita semakin menderita karenanya.
Tuhan akan selalu membidik kita di balik sinar mentari, di kala cahaya bulan
tidak mampu lagi untuk memperindah mimpi-mimpi yang telah terkubur mati.
Esok tidak akan pernah binasah, ketika kita telah terbiasa berjuang meski
harus kalah sekalipun..."
-Aghana V Idents
***
Sebagai seorang model ternama, Rena selalu nampak sibuk di setiap harinya.
terkadang kekasihnya yang bernama Rafa, harus rela menyusul Rena keluar kota demi menumpahkan
kerinduannya kepada gadis tersebut.
Malam harinya, mereka berdua pergi ke sebuah bazaar untuk membeli beberapa buku novel.
Rena dan Rafa memiliki kesamaan hobi salah satunya Ialah membaca buku. Usai puas membeli
mereka berdua pun bergegas pulang sebelum malam semakin larut. Rafa mengantarkan Rena terlebih
dahulu ke rumah pamannya yang berlokasi tidak begitu jauh dari hotel tempat Rafa menginap.
Sebelum masuk ke dalam rumah, seperti biasa Rena selalu mencubit hidung kekasihnya, begitu
pula dengan Rafa, Ia selalu membalasnya dengan mencubit kedua pipi gadis itu. Sudah 3 Tahun lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, di sepanjang perjalanan menuju hotel, Rafa merencanakan untuk segera melamar pujaan hatinya tersebut, kemudian tergoreslah senyuman kecil di bibirnya saat itu.
Pagi-pagi sekali, ponsel Rena pun berbunyi, Ia menerima panggilan dari kekasihnya yang bernama Rafa. meski dengan keadaan masih sangat mengantuk, tiba-tiba saja Rena berteriak kegirangan. Sang Paman pun terkejut karenanya, maka beliau pun bergegas melangkah menuju kamar dari keponakannya tersebut.
melihat wajah Rena yang tampak begitu bahagia, pamannya itu lekas bertanya.
"Kamu kenapa Rena? membuat paman kaget saja"
"Rafa! Rafa akan melamarku paman!!!" Sahut Gadis itu sambil memeluk paman satu-satunya tersebut.
Hari itu Rena berangkat bekerja untuk menyelesaikan beberapa sesi foto, wajahnya yang sangat ceria tidak seperti biasanya, mengundang rasa penasaran teman-teman satu profesinya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga Rena pun menceritakan kepada temannya bahwa Ia akan segera di lamar. Sikapnya menjadi sangat manja kepada Rafa, bahkan meski kekasihnya tengah sibuk, Rena memaksanya untuk makan malam bersama, karena tidak bisa menolak, Rafa pun mengabulkan permintaannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Rena segera bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat makan yang telah di janjikan kepada Rafa. Ketika akan mengambil peralatan make up di dalam tasnya, Ia di kejutkan oleh secarik kertas yang bertinta kan darah dan juga terdapat pesan yang mengancam.
"RENA KAU HARUS MATI?"
Setelah membaca pesan dari selembar kertas itu, Rena pun sontak berlari, wajahnya nampak ketakutan sehingga dengan cepat, Ia segera memesan mobil taksi yang berada tepat di sisi jalan. Detak jantungnya masih berdebar kencang, serta tetesan air keringat turut membasahi seluruh wajahnya. Di tempat yang berbeda, Rafa telah duduk menunggu kedatangan
Rena, lelaki itu tidak hentinya menguraikan senyuman seraya menatap foto-foto Rena di galllery ponsel miliknya.
Sekitar 10 menit kemudian, Rena pun datang, namun bukan pelukan hangat yang di dapatkan oleh Rafa. Kekasihnya itu hanya diam membisu seolah-olah ada sesuatu hal yang telah terjadi kepada dirinya. Berkali-kali Rafa bertanya akan tetapi gadis itu tidak juga menjawabnya. Masih dalam diam, Rena pun memperlihatkan secarik kertas yang Ia
temukan tersebut kepada Rafa.
"Siapa yang menulis ini Rena!" Ucap Rafa dengan nada yang sangat marah.
"Aku tidak tau!" Sahut Gadis itu dengan menitikan air mata.
Melihatnya menangis, Rafa pun mengurungkan niatnya untuk membahas lebih lanjut, Ia memastikan kepada Rena apapun yang akan terjadi, Rafa akan selalu melindunginya. Isak tangis rena mulai mereda, gadis itu pun mulai tersenyum kembali.
Sesuai rencana awal, mereka berdua mulai membicarakan rencana pertunangan. Rafa meminta waktu selama 1 bulan untuk melamarnya, dengan senang hati, Rena menyetujui permintaan kekasihnya tersebut.
Sesampainya di rumah, malam telah menyongsong, selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Rena membuka lemari
pakaian untuk di kenakannya sebelum tidur, ketika Ia sedang memilih, di sela-sela tumpukan bajunya, tangan gadis tersebut
menyentuh sesuatu, bergegas Rena pun mengambilnya, ternyata secarik kertas bertinta kan darah kembali muncul di hadapannya.
Spontan saja Rena jatuh tersungkur dan melempar secarik kertas itu, di dalamnya terdapat pesan yang berbeda.
"AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!"
Tanpa pikir panjang lagi, Rena segera melaporkan ancaman tersebut kepada pihak berwajib, seketika saja rumah dari pamannya Rena, menjadi sangat ramai usai kedatangan 2 orang polisi yang akan melakukan penyelidikan di dalam rumah tersebut. Sekitar
2 jam lamanya, tidak ada satupun sidik jari yang di temukan, selain sidik jari dari Rena yang sempat memegang secarik kertas dari Sang pengancam, Pamannya Rena pun sedang pergi keluar kota, sehingga beliau baru saja mendapati kabar buruk tersebut dari keponakan
satu-satunya itu, atas usulan dari Sang paman, Rena pun menginap di hotel untuk beberapa hari kedepan.
Bilur menarik warna di angkasa, taburi langit dengan bait-bait kejora, malam berkunjung kembali, lampu-lampu jalanan telah tampak menyala.
angin berhembus cukup kencang, sehingga memaksa daun-daun tuk berjatuhan. setiap nafas terhembus menjadi satu-satunya suara yang terdengar
seakan menjadi suatu keramian, begitu sunyi, begitu senyap, mengiris asa yang tak bertuan. Mata Rena enggan terlelap, rasa gelisahnya tidak
jua pergi dari lubuk hatinya, mungkin carut marut, kacau balau, atau gundah kelana, entahlah... yang jelas Ia tengah gusar tanpa jawaban.
Rena pun duduk, menyandarkan bahumya di sudut dinding kamar, sedangkan Jemari tangannya tampak sibuk membuka kunci ponsel, tidak lain, sudah pasti Ia ingin
menghubungi lelaki yang teramat di cintainya itu. Kerutan dahi Rena semakin menajam, menandakan sebuah kekesalan tengah meradang. Ponsel Rafa
tidak bisa di hubungi, meski telah mencobanya berkali-kali. Gumam terlontar dari bibirnya, Rena terus-menerus meluapkan kemarahan, meski tidak akan ada satu orang pun
yang menanggapinya.
"Tok! Tok! tok!" Suara ketukan dari pintu kamar hotel yang di huni oleh Rena.
"Apakah mungkin itu Rafa?" Bisik harapan dalam hatinya.
Rena Berlari kecil dengan hanya 1 detik saja Ia dapat meraih daun pintu, dan setelah pintu terbuka.... tidak ada seorang pun disana.
perlahan Ia pun menoleh, menoleh kearah kiri dan kanan, ternyata di koridor hanya nampak lengang tak sebatang hidung pun melintas.
wajahnya berubah seketika, ketakutannya kembali bergejolak, detak jantungnya terpicu semakin kuat. Seraya kakinya melangkah mundur, Rena
melihat secarik kertas tengah tergeletak di atas lantai, penuh keraguan-raguan dari lubuk hatinya, apakah Ia harus mengambilnya ataukah...
Setetes, dua tetes, dan tiga tetesan air keringat, semakin membasahi keningnya yang elok bak bulan sabit itu, Dan dengan sisa keberanian, Rena pun
mengambil selembar surat tersebut, lanjut membacanya kemudian.
"FATAMORGANA HARUS MUSNAH" (Seuntai kalimat di dalam kertas)
Nalurinya sebagai seorang wanita, membuat Rena menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak! berteriak begitu kencang! berharap ada seseorang
yang mampu mengeluarkannya dari labirin, labirin yang membuatnya terasa semakin gila. Rena berlari tunggang langgang, pergi sejauh mungkin
dari tempatnya menghabiskan sisa-sisa waktu malam. Ia terus berlari dan berlari hingga sebuah pintu lift terlihat oleh kedua bola matanya,
Dengan cepat, dengan kegundahan, Rena menekan tombol untuk membuka pintu lift itu berkali-kali, akan tetapi enggan jua terbuka untuknya.
Masih dalam keadaan menitikan air mata, Rena berpaling ke arah belakang, tanpa pikir panjang lagi, Ia berlari menuruni anak tangga
yang beralaskan karpet berwarna merah kehitam-hitaman itu. Dari lantai 5 Rena terus melangkahkan kakinya teramat cepat, sehingga membutuhkan
beberapa detik saja untuk melewati lantai 4, sesampainya di lantai 3 langkah gadis itu terhenti, Ia mendengar seseorang tengah memanggilnya
dari lantai atas, Ia pun menengadah, mencari keberadaan seseorang tersebut, tiba-tiba tampaklah sebuah tangan melemparkan sebuah kertas,
tepat mengenai kaki kanannya. Ternyata lagi-lagi, Ia melihat surat bertintakan darah yang sama persis seperti sebelumnya.
"FATAMORGANA HARUS MATI"
Tanpa memperdulikan hal tersebut, Rena kembali berlari kencang menuruni satu persatu anak tangga. Di lantai 2, terjadi hal yang sama.
seseorang melemparkan secarik kertas usang padanya, bertuliskan. "AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!". Butir-butir air matanya kian menjuntai,
melawan rasa ketakutan meski tak bisa, mencoba tenang tetapi mustahil. Kakinya mulai melemah, bahkan keringatnya telah bercampur aduk
dengan air matanya. Tidak ada pilihan lain! selain Rena harus terus berlari meninggalkan tempat tersebut.
Lantai 1 pun berhasil Ia pijak, nafasnya berhembus tak beraturan, menandakan keletihan yang luar biasa tengah di rasakan oleh Rena.
Sunyi senyap, cahaya lampu meredup, alih-alih menjadikan kota ini seakan menjadi kota mati yang tak berpenghuni. Ia berjalan pelan,
menulusuri koridor hotel, di temani suara angin yang entah berasal darimana asalnya. Satu lilin kecil menyala cukup terang, diatas
sebuah meja berdekatan dengan ruang resepsionis, untuk ketiga kalinya Ia melihat selembar kertas bertuliskan.
"RENA KAU HARUS MATI!"
Ia tidak begitu memperdulikan, Rena kembali berjalan dan terus berjalan menuju pintu keluar. Dua buah pintu berbalut kaca yang menembus
pandangan kearah jalan raya pun mulai terlihat. Kini secarik kertas ke-4 hadir terpajang di pintu tersebut. Matanya yang sayup mencoba
membaca tulisan, tulisan yang terlampir dari kertas itu.
"AKU ADALAH SEBUAH NAMA, DARI HURUF PERTAMA DI SETIAP SURAT"
Rena sontak terpaku, hatinya seperti tersihir untuk memahami. Ia memejamkan matanya, memutar kembali seluruh ingatannya tentang pesan
misterius yang menghantuinya selama ini. Surat pertama "RENA KAU HARUS MATI!", Surat kedua "AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!", Surat ketiga
"FATAMORGANA HARUS MUSNAH" dan yang terakhir Ia membuka matanya, "AKU ADALAH SEBUAH NAMA, DARI HURUF PERTAMA DI SETIAP SURAT". Bibirnya bergumam,
menyusun satu persatu huruf pertama dari surat yang pernah Ia terima, dan ternyata tersusunlah sebuah nama...
"RAFA? Ti...tidak mungkin! tidak mungkin Ia bersikap keji seperti ini!" Sahutnya penuh histeris sembari memegang kepala dangan kedua tangannya, tidak lama kemudian
sosok yang tengah Ia pikirkan pun datang, Ialah Rafa, Rafa datang dari luar dan bergegas masuk ke dalam mendekati Rena.
"Sayang! kenapa ponsel kamu tidak aktif? aku khawatir sama kamu, makanya aku menyusul kesini" Ujar Rafa.
"Tolong jangan dekati aku! Kamu gila! kamu psikopat! pergi dariku sekarang juga!" Rena mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"A...apa maksudmu hah? Kenapa kamu bersikap seperti ini!" Jawab Rafa.
"Aku tau siapa pengirim surat ancaman itu! dan Dia adalah kamu!" Bentak Rena dan air matanya terburai kembali.
"Apa bukti kamu menuduhku Rena? tega sekali kamu" Rafa mengkerutkan dahinya, melampiaskan kekesalannya pada gadis itu.
"Tidak ada satupun yang mengetahui alamat rumah pamanku, kecuali kamu! tidak ada satu pun temanku yang mengetahui kamarku
di hotel ini, kecuali kamu! Dan juga....." Belum selesai Rena berbicara, Rafa pun membentak.
"DIAM!!!!"
Terdengar suara dari selongsong peluru tengah menghujam, kurang dari sedetik, dengan tepat peluru itu tengah menuju dahi Rena, tubuhnya tergulai lemas seperti tidak
ada lagi tulang yang menopang, wajahnya terpenuhi oleh darah segar, mengalir seperti derasnya air sungai, bibirnya masih tampak bergetar, seolah-olah Ia ingin
mengatakan sesuatu. Sebuah pistol pun terlepas dari genggaman tangan Rafa, matanya terbelalak, melihat Rena tak lagi bernyawa, terbujur kaku dan kehilangan tanda-tanda
kehidupan dari raga seorang Wanita yang selalu menyanyanginya. Perlahan, Rafa menoleh kearah belakang lalu kemudian....
"Arggghh..ghhh....ghahhhh" Tampak dari belakang, seorang pria mengenakan jubah berwarna hitam menusuknya dengan sebilah katana yang
cukup panjang.
"Re...Rena! Reeennaaa" Ucapan terakhir Rafa sebelum akhirnya, Pria berjubah hitam itu menembak tubuh Rafa berkali-kali.
Petir menari di balik mendungnya langit, awan-awan hitam bersatu padu meruntuhkan air hujan. Sepi telah terpecah, suara gemercik mulai menghibahkan
keramaian. Sepasang burung camar terbang, mencari tempat berlindung, berbalas kicauan lalu hinggap diatas ranting, saling berdiri berdekatan.
Daun-daun berguguran terhempas oleh anak badai, udara dingin kian mencengkram kalbu, kabut tebal telah mengukir alam, bagai tirai yang di rajut oleh
kekuasaan semesta.
***
Seorang pria tengah duduk di depan meja komputer, tangannya yang cekatan tengah sibuk menuliskan bait demi bait sebuah cerita. Di temani lagu-lagu instrumental,
Ia menutup akhir sebuah kisahnya.
"Teka-teki sebuah kertas surat dari setiap lantai, seharusnya bukanlah nama RAFA yang tertulis.
melainkan nama mu yaitu FARA. seorang kekasihku di masa lalu yang telah tiada.
selama 3 Tahun lamanya, aku sulit melupakan mu, bagiku tidak ada satupun yang mampu menggantikan mu.
tetapi, hidupku masih saja terus berlanjut, lama dan semakin lama aku mulai menyadari, biarlah aku mencoba mengikhlaskan mu
melalui cerita ini, biarkan aku menjadi sesosok Rena (Yang rapuh) sedangkan meski engkau adalah seorang wanita,
akan aku tempatkan posisimu sebagai RAFA (Yang selalu kuat dan tegar).
Biarlah sosok berjubah hitam itu ibarat takdir yang telah memisahkan kita, andai saja aku tidak terlambat menjemputmu.
mungkin peristiwa perampokan itu tidak akan pernah terjadi kepada mu. Tetapi seberapa keras pun aku menyesalinya.
kamu tidak akan pernah bisa kembali hidup, kini yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang akan selalu mengikuti langkah-langkah ku.
selamat tinggal Fara, tenanglah di alam sana...
Lodis...."
Pria yang bernama Lodis itu pun beranjak dari meja komputer, Ia bersenandung kecil, sembari menatap bingkai foto seorang wanita.
Jeda 3 menit kemudian, Ia mematikan seluruh lampu yang berada dalam ruangan tersebut. Dan di balik pintu terdapat sebuah tulisan.
"Novelist, Lodis & Fara"
***
The End...
Original Written By.
Aghana V Idents
Langganan:
Postingan (Atom)

