Minggu, 22 November 2015

Seutas benang sutra





Cerpen "Seutas benang sutra"
Genre: Misteri (Fiksi)


"Tatkala lembah impian telah lenyap, bukanlah satu alasan kita untuk menyerah.
menyeringai kepada takdir karena hanya akan membuat kita semakin menderita karenanya.
Tuhan akan selalu membidik kita di balik sinar mentari, di kala cahaya bulan
tidak mampu lagi untuk memperindah mimpi-mimpi yang telah terkubur mati.
Esok tidak akan pernah binasah, ketika kita telah terbiasa berjuang meski
harus kalah sekalipun..."
-Aghana V Idents

***

   Sebagai seorang model ternama, Rena selalu nampak sibuk di setiap harinya.
terkadang kekasihnya yang bernama Rafa, harus rela menyusul Rena keluar kota demi menumpahkan
kerinduannya kepada gadis tersebut.
   Malam harinya, mereka berdua pergi ke sebuah bazaar untuk membeli beberapa buku novel.
Rena dan Rafa memiliki kesamaan hobi salah satunya Ialah membaca buku. Usai puas membeli
mereka berdua pun bergegas pulang sebelum malam semakin larut. Rafa mengantarkan Rena terlebih
dahulu ke rumah pamannya yang berlokasi tidak begitu jauh dari hotel tempat Rafa menginap.
   Sebelum masuk ke dalam rumah, seperti biasa Rena selalu mencubit hidung kekasihnya, begitu
pula dengan Rafa, Ia selalu membalasnya dengan mencubit kedua pipi gadis itu. Sudah 3 Tahun lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, di sepanjang perjalanan menuju hotel, Rafa merencanakan untuk segera melamar pujaan hatinya tersebut, kemudian tergoreslah senyuman kecil di bibirnya saat itu.
   Pagi-pagi sekali, ponsel Rena pun berbunyi, Ia menerima panggilan dari kekasihnya yang bernama Rafa. meski dengan keadaan masih sangat mengantuk, tiba-tiba saja Rena berteriak kegirangan. Sang Paman pun terkejut karenanya, maka beliau pun bergegas melangkah menuju kamar dari keponakannya tersebut.
melihat wajah Rena yang tampak begitu bahagia, pamannya itu lekas bertanya.

"Kamu kenapa Rena? membuat paman kaget saja"
"Rafa! Rafa akan melamarku paman!!!" Sahut Gadis itu sambil memeluk paman satu-satunya tersebut.

   Hari itu Rena berangkat bekerja untuk menyelesaikan beberapa sesi foto, wajahnya yang sangat ceria tidak seperti biasanya, mengundang rasa penasaran teman-teman satu profesinya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga Rena pun menceritakan kepada temannya bahwa Ia akan segera di lamar. Sikapnya menjadi sangat manja kepada Rafa, bahkan meski kekasihnya tengah sibuk, Rena memaksanya untuk makan malam bersama, karena tidak bisa menolak, Rafa pun mengabulkan permintaannya.
   Setelah menyelesaikan pekerjaan, Rena segera bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat makan yang telah di janjikan kepada Rafa. Ketika akan mengambil peralatan make up di dalam tasnya, Ia di kejutkan oleh secarik kertas yang bertinta kan darah dan juga terdapat pesan yang mengancam.

"RENA KAU HARUS MATI?"

   Setelah membaca pesan dari selembar kertas itu, Rena pun sontak berlari, wajahnya nampak ketakutan sehingga dengan cepat, Ia segera memesan mobil taksi yang berada tepat di sisi jalan. Detak jantungnya masih berdebar kencang, serta tetesan air keringat turut membasahi seluruh wajahnya. Di tempat yang berbeda, Rafa telah duduk menunggu kedatangan
Rena, lelaki itu tidak hentinya menguraikan senyuman seraya menatap foto-foto Rena di galllery ponsel miliknya.
  Sekitar 10 menit kemudian, Rena pun datang, namun bukan pelukan hangat yang di dapatkan oleh Rafa. Kekasihnya itu hanya diam membisu seolah-olah ada sesuatu hal yang telah terjadi kepada dirinya. Berkali-kali Rafa bertanya akan tetapi gadis itu tidak juga menjawabnya. Masih dalam diam, Rena pun memperlihatkan secarik kertas yang Ia
temukan tersebut kepada Rafa.

"Siapa yang menulis ini Rena!" Ucap Rafa dengan nada yang sangat marah.
"Aku tidak tau!" Sahut Gadis itu dengan menitikan air mata.

   Melihatnya menangis, Rafa pun mengurungkan niatnya untuk membahas lebih lanjut, Ia memastikan kepada Rena apapun yang akan terjadi, Rafa akan selalu melindunginya. Isak tangis rena mulai mereda, gadis itu pun mulai tersenyum kembali.
Sesuai rencana awal, mereka berdua mulai membicarakan rencana pertunangan. Rafa meminta waktu selama 1 bulan untuk melamarnya, dengan senang hati, Rena menyetujui permintaan kekasihnya tersebut.
   Sesampainya di rumah, malam telah menyongsong, selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Rena membuka lemari
pakaian untuk di kenakannya sebelum tidur, ketika Ia sedang memilih, di sela-sela tumpukan bajunya, tangan gadis tersebut
menyentuh sesuatu, bergegas Rena pun mengambilnya, ternyata secarik kertas bertinta kan darah kembali muncul di hadapannya.
Spontan saja Rena jatuh tersungkur dan melempar secarik kertas itu, di dalamnya terdapat pesan yang berbeda.

"AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!" 

   Tanpa pikir panjang lagi, Rena segera melaporkan ancaman tersebut kepada pihak berwajib, seketika saja rumah dari pamannya Rena, menjadi sangat ramai usai kedatangan 2 orang polisi yang akan melakukan penyelidikan di dalam rumah tersebut. Sekitar
2 jam lamanya, tidak ada satupun sidik jari yang di temukan, selain sidik jari dari Rena yang sempat memegang secarik kertas dari Sang pengancam, Pamannya Rena pun sedang pergi keluar kota, sehingga beliau baru saja mendapati kabar buruk tersebut dari keponakan
satu-satunya itu, atas usulan dari Sang paman, Rena pun menginap di hotel untuk beberapa hari kedepan.
   Bilur menarik warna di angkasa, taburi langit dengan bait-bait kejora, malam berkunjung kembali, lampu-lampu jalanan telah tampak menyala.
angin berhembus cukup kencang, sehingga memaksa daun-daun tuk berjatuhan. setiap nafas terhembus menjadi satu-satunya suara yang terdengar
seakan menjadi suatu keramian, begitu sunyi, begitu senyap, mengiris asa yang tak bertuan. Mata Rena enggan terlelap, rasa gelisahnya tidak
jua pergi dari lubuk hatinya, mungkin carut marut, kacau balau, atau gundah kelana, entahlah... yang jelas Ia tengah gusar tanpa jawaban.
   Rena pun duduk, menyandarkan bahumya di sudut dinding kamar, sedangkan Jemari tangannya tampak sibuk membuka kunci ponsel, tidak lain, sudah pasti Ia ingin
menghubungi lelaki yang teramat di cintainya itu. Kerutan dahi Rena semakin menajam, menandakan sebuah kekesalan tengah meradang. Ponsel Rafa
tidak bisa di hubungi, meski telah mencobanya berkali-kali. Gumam terlontar dari bibirnya, Rena terus-menerus meluapkan kemarahan, meski tidak akan ada satu orang pun
yang menanggapinya.

"Tok! Tok! tok!" Suara ketukan dari pintu kamar hotel yang di huni oleh Rena.
"Apakah mungkin itu Rafa?" Bisik harapan dalam hatinya.

   Rena Berlari kecil dengan hanya 1 detik saja Ia dapat meraih daun pintu, dan setelah pintu terbuka.... tidak ada seorang pun disana.
perlahan Ia pun menoleh, menoleh kearah kiri dan kanan, ternyata di koridor hanya nampak lengang tak sebatang hidung pun melintas.
wajahnya berubah seketika, ketakutannya kembali bergejolak, detak jantungnya terpicu semakin kuat. Seraya kakinya melangkah mundur, Rena
melihat secarik kertas tengah tergeletak di atas lantai, penuh keraguan-raguan dari lubuk hatinya, apakah Ia harus mengambilnya ataukah...
Setetes, dua tetes, dan tiga tetesan air keringat, semakin membasahi keningnya yang elok bak bulan sabit itu, Dan dengan sisa keberanian, Rena pun
mengambil selembar surat tersebut, lanjut membacanya kemudian.

"FATAMORGANA HARUS MUSNAH" (Seuntai kalimat di dalam kertas)

   Nalurinya sebagai seorang wanita, membuat Rena menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak! berteriak begitu kencang! berharap ada seseorang
yang mampu mengeluarkannya dari labirin, labirin yang membuatnya terasa semakin gila. Rena berlari tunggang langgang, pergi sejauh mungkin
dari tempatnya menghabiskan sisa-sisa waktu malam. Ia terus berlari dan berlari hingga sebuah pintu lift terlihat oleh kedua bola matanya,
Dengan cepat, dengan kegundahan, Rena menekan tombol untuk membuka pintu lift itu berkali-kali, akan tetapi enggan jua terbuka untuknya.
   Masih dalam keadaan menitikan air mata, Rena berpaling ke arah belakang, tanpa pikir panjang lagi, Ia berlari menuruni anak tangga
yang beralaskan karpet berwarna merah kehitam-hitaman itu. Dari lantai 5 Rena terus melangkahkan kakinya teramat cepat, sehingga membutuhkan
beberapa detik saja untuk melewati lantai 4, sesampainya di lantai 3 langkah gadis itu terhenti, Ia mendengar seseorang tengah memanggilnya
dari lantai atas, Ia pun menengadah, mencari keberadaan seseorang tersebut, tiba-tiba tampaklah sebuah tangan melemparkan sebuah kertas,
tepat mengenai kaki kanannya. Ternyata lagi-lagi, Ia melihat surat bertintakan darah yang sama persis seperti sebelumnya.

"FATAMORGANA HARUS MATI"

   Tanpa memperdulikan hal tersebut, Rena kembali berlari kencang menuruni satu persatu anak tangga. Di lantai 2, terjadi hal yang sama.
seseorang melemparkan secarik kertas usang padanya, bertuliskan. "AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!". Butir-butir air matanya kian menjuntai,
melawan rasa ketakutan meski tak bisa, mencoba tenang tetapi mustahil. Kakinya mulai melemah, bahkan keringatnya telah bercampur aduk
dengan air matanya. Tidak ada pilihan lain! selain Rena harus terus berlari meninggalkan tempat tersebut.
   Lantai 1 pun berhasil Ia pijak, nafasnya berhembus tak beraturan, menandakan keletihan yang luar biasa tengah di rasakan oleh Rena.
Sunyi senyap, cahaya lampu meredup, alih-alih menjadikan kota ini seakan menjadi kota mati yang tak berpenghuni. Ia berjalan pelan,
menulusuri koridor hotel, di temani suara angin yang entah berasal darimana asalnya. Satu lilin kecil menyala cukup terang, diatas
sebuah meja berdekatan dengan ruang resepsionis, untuk ketiga kalinya Ia melihat selembar kertas bertuliskan.

"RENA KAU HARUS MATI!"

   Ia tidak begitu memperdulikan, Rena kembali berjalan dan terus berjalan menuju pintu keluar. Dua buah pintu berbalut kaca yang menembus
pandangan kearah jalan raya pun mulai terlihat. Kini secarik kertas ke-4 hadir terpajang di pintu tersebut. Matanya yang sayup mencoba
membaca tulisan, tulisan yang terlampir dari kertas itu.

"AKU ADALAH SEBUAH NAMA, DARI HURUF PERTAMA DI SETIAP SURAT"

   Rena sontak terpaku, hatinya seperti tersihir untuk memahami. Ia memejamkan matanya, memutar kembali seluruh ingatannya tentang pesan
misterius yang menghantuinya selama ini. Surat pertama "RENA KAU HARUS MATI!", Surat kedua "AKU AKAN SEGERA MENEMUI MU!", Surat ketiga
"FATAMORGANA HARUS MUSNAH" dan yang terakhir Ia membuka matanya, "AKU ADALAH SEBUAH NAMA, DARI HURUF PERTAMA DI SETIAP SURAT". Bibirnya bergumam,
menyusun satu persatu huruf pertama dari surat yang pernah Ia terima, dan ternyata tersusunlah sebuah nama...

"RAFA? Ti...tidak mungkin! tidak mungkin Ia bersikap keji seperti ini!" Sahutnya penuh histeris sembari memegang kepala dangan kedua tangannya, tidak lama kemudian
sosok yang tengah Ia pikirkan pun datang, Ialah Rafa, Rafa datang dari luar dan bergegas masuk ke dalam mendekati Rena.
"Sayang! kenapa ponsel kamu tidak aktif? aku khawatir sama kamu, makanya aku menyusul kesini" Ujar Rafa.
"Tolong jangan dekati aku! Kamu gila! kamu psikopat! pergi dariku sekarang juga!" Rena mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"A...apa maksudmu hah? Kenapa kamu bersikap seperti ini!" Jawab Rafa.
"Aku tau siapa pengirim surat ancaman itu! dan Dia adalah kamu!" Bentak Rena dan air matanya terburai kembali.
"Apa bukti kamu menuduhku Rena? tega sekali kamu" Rafa mengkerutkan dahinya, melampiaskan kekesalannya pada gadis itu.
"Tidak ada satupun yang mengetahui alamat rumah pamanku, kecuali kamu! tidak ada satu pun temanku yang mengetahui kamarku
di hotel ini, kecuali kamu! Dan juga....." Belum selesai Rena berbicara, Rafa pun membentak.
"DIAM!!!!"

   Terdengar suara dari selongsong peluru tengah menghujam, kurang dari sedetik, dengan tepat peluru itu tengah menuju dahi Rena, tubuhnya tergulai lemas seperti tidak
ada lagi tulang yang menopang, wajahnya terpenuhi oleh darah segar, mengalir seperti derasnya air sungai, bibirnya masih tampak bergetar, seolah-olah Ia ingin
mengatakan sesuatu. Sebuah pistol pun terlepas dari genggaman tangan Rafa, matanya terbelalak, melihat Rena tak lagi bernyawa, terbujur kaku dan kehilangan tanda-tanda
kehidupan dari raga seorang Wanita yang selalu menyanyanginya. Perlahan, Rafa menoleh kearah belakang lalu kemudian....

"Arggghh..ghhh....ghahhhh" Tampak dari belakang, seorang pria mengenakan jubah berwarna hitam menusuknya dengan sebilah katana yang
cukup panjang.
"Re...Rena! Reeennaaa" Ucapan terakhir Rafa sebelum akhirnya, Pria berjubah hitam itu menembak tubuh Rafa berkali-kali.

   Petir menari di balik mendungnya langit, awan-awan hitam bersatu padu meruntuhkan air hujan. Sepi telah terpecah, suara gemercik mulai menghibahkan
keramaian. Sepasang burung camar terbang, mencari tempat berlindung, berbalas kicauan lalu hinggap diatas ranting, saling berdiri berdekatan.
Daun-daun berguguran terhempas oleh anak badai, udara dingin kian mencengkram kalbu, kabut tebal telah mengukir alam, bagai tirai yang di rajut oleh
kekuasaan semesta.

***

   Seorang pria tengah duduk di depan meja komputer, tangannya yang cekatan tengah sibuk menuliskan bait demi bait sebuah cerita. Di temani lagu-lagu instrumental,
Ia menutup akhir sebuah kisahnya.

"Teka-teki sebuah kertas surat dari setiap lantai, seharusnya bukanlah nama RAFA yang tertulis.
melainkan nama mu yaitu FARA. seorang kekasihku di masa lalu yang telah tiada.
selama 3 Tahun lamanya, aku sulit melupakan mu, bagiku tidak ada satupun yang mampu menggantikan mu.
tetapi, hidupku masih saja terus berlanjut, lama dan semakin lama aku mulai menyadari, biarlah aku mencoba mengikhlaskan mu
melalui cerita ini, biarkan aku menjadi sesosok Rena (Yang rapuh) sedangkan meski engkau adalah seorang wanita,
akan aku tempatkan posisimu sebagai RAFA (Yang selalu kuat dan tegar).

Biarlah sosok berjubah hitam itu ibarat takdir yang telah memisahkan kita, andai saja aku tidak terlambat menjemputmu.
mungkin peristiwa perampokan itu tidak akan pernah terjadi kepada mu. Tetapi seberapa keras pun aku menyesalinya.
kamu tidak akan pernah bisa kembali hidup, kini yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang akan selalu mengikuti langkah-langkah ku.
selamat tinggal Fara, tenanglah di alam sana...


Lodis...."

   Pria yang bernama Lodis itu pun beranjak dari meja komputer, Ia bersenandung kecil, sembari menatap bingkai foto seorang wanita.
Jeda 3 menit kemudian, Ia mematikan seluruh lampu yang berada dalam ruangan tersebut. Dan di balik pintu terdapat sebuah tulisan.

"Novelist, Lodis & Fara"


***


The End...


Original Written By.
Aghana V Idents


Tidak ada komentar:

Posting Komentar